Hompi dan Pimpa

Hompi dan Pimpa
Ilustrasi by Ibnu
Hompi adalah seorang pemuda sederhana yang rajin. Ia berkerja merawat sawah-sawah milik para petani kaya. Hompi tinggal bersebelahan dengan Pimpa, seorang pedagang yang licik.

Suatu hari, tumbuh sebuah tunas di halaman depan rumah Hompi dan Pimpa.

"Lihatlah, Hompi. Ada tunas pohon mangga yang tumbuh tepat di perbatasan halaman rumah kita berdua. Baru kali ada tanaman yang tumbuh di halaman kita," kata Pimpa senang.

"Mungkin angin menerbangkan benih ini kesini. Kita beruntung, Pimpa. Tanaman ini kita rawat bersama saja. Kalau sudah tumbuh dan berbuah, hasilnya nanti kita bagi sama,' ujar Hompi senang.

"Tapi sayangnya, aku harus berdagang di pasar dari pagi sampai sore. Aku tak akan sempat merawat tanaman ini," tukas Pimpa.

"Oh, tenang saja, Pimpa. Biar aku yang merawat tanaman ini,' ujar Hompi semangat.

Sejak itu, Hompi pun merawat tanaman itu dengan telaten. Akhirnya, tunas itu tumbuh menjadi pohon besar dengan daun-daun yang rimbun.

Namun, Pimpa malah menjadi sering kesal. "Huh! Gara-gara pohon ini, halaman rumahku jadi kotor,' gerutu Pimpa. Ia lantas memanggil Hompi.

"Hompi! Lihatlah, setiap hari, ada saja daun yang jatuh di halaman kita. Kudengar daun ini bisa dijadikan pupuk. Kalau kau mau ambil saja daun-daun yang jatuh di halamanku. Aku tidak butuh!"

"Benarkah? Terima kasih, Pimpa!" Hompi senag sekali.

Pimpa tersenyum licik. Ia senang sekali karena bisa memanfaatkan Hompi.

Sejak saat itu Pimpa bisa punya halaman yang bersih tanpa harus bersusah payah menyapu sendiri.
Hompi yang selalu menyapukan, mengumpulkan, dan mengambil daun-daun gugur itu.

Waktu pun berlalu. Pohon mangga itu berbuah lebat. Saat buah-buahnya matang, Pimpa diam-diam memetiki semua buahnya dan menjualnya ke pasar.

Saat pulang dan bertemu Hompi, Pimpa berkata, " Hompi dulu kita sudah sepakat untuk membagi hasilnya, sama rata. Setelah kupikir-pikir, selama ini aku sudah memberikan daun-daunku padamu. Jadi kurasa adil, kalau buah-buahan bagianmu jadi milikku. Ah, tetapi lihat, aku tetap berbaik hati. Ambillah sisa buah mangga yang tadi kujual!" Pimpa memberikan lima buah mangga pada Hompi.

Hompi tetap berterima kasih dan menerimanya.

Pimpa puas sekali karena tidak protes dengan kelicikannya.

"Oh, ya, Hompi. Aku berencana untuk berjualan ke kota. Aku butuh biaya perjalanan dan biaya untuk tinggal disana. Karena itulah, aku berniat menebang pohon ini. Kayunya akan kujual. Kuharap kau tidak keberatan," Pimpa memohon.

"Mmm, baiklah, kalau kau memang sangat butuh," sahut Hompi berbesar hati.

Dengan dibantu Hompi, Pimpa pun lekas-lekas menebang pohon mangga yang besar itu.

Esoknya, Pimpa menjual kayu-kayunya ke pasar dan mendapatkan untung banyak. Tetapi, ia mengatakan sebaliknya pada Hompi.

"Oh, uang hasil menjual kayunya tidak begitu banyak. Jadi, aku tidak bisa membaginya denganmu. Kau sudah mendapatkan semua daun dari pohon mangga kita. Kau juga sudah keberi lima buah mangga kemarin. Kuharap kau tidak kecewa karena tidak mendapat uang penjualan," kata Pimpa licik.

"Ya, ya, aku mengerti Pimpa," sahut Hompi sabar.

Setelah itu, Pimpa pun pergi ke kota. Ia ingin sekali menjadi pedagang yang sukses. Tetapi, karena ia berdagang dengan tidak jujur dan sering menipu pembeli, ia akhirnya dijauhi pembeli. Akhirnya dagangannya tidak laku. Pimpa jadi rugi. Setelah beberapa tahun berlalu, keadaanya tetap sama. Pimpa pun memutuskan untuk pulang ke desanya.

Alangkah kagetnya Pimpa, ketika ia bertemu Hompi. Kini temannya itu sudah menjadi saudagar mangga yang kaya.

"Bagaimana kau bisa jadi saudagar mangga, Hompi? Bukankah pohonnya sudah kita tebang? Apakah angin menerbangkan benih mangga ke halamanmu? tanya Pimpa heran.

"Oh, tidak, Pimpa," jawab Hompi. "Ingat dengan pembagian pohon mangga kita itu? Daun-daun yang kudapat, kuolah menjadi pupuk yang menyuburkan tanah di halamanku. Dan aku menanam lima biji mangga yang kau berikan padaku. Bijinya tumbuh dan menghasilkan buah-buah yang kemudian kujual ke pasar. Tetapi aku tidak langsung menebangnya, karena setiap musim mangga datang, pohon-pohon itu akan berbuah lagi dan lagi. Hasil penjualan mangganya kugunakan untuk membeli tanah hingga aku akhinya punya kebun mangga yang lebih luas. Dan akhinya, jadilah seperti sekarang."

Pimpa tersenyum kecut.Hasil kelicikannya malah membuat Hompi mendapatkan untung. Sedangkan ia sendiri, malah hanya mendapatkan kerugian.

Oleh: Nina S.
Sumber: Bobo/edisi 34/terbit 28 November 2013



0 Response to "Hompi dan Pimpa"

Post a Comment