Sang Juragan Beras, Tawara Toda

sang juragan beras, Tawara Toda
Ilustrasi by Ibnu
Di suatu masa di negeri Matahari Terbit, Seorang Ksatria gagah berani bernama Fujiwara Hidesato memutuskan untuk melakukan sebuah perjalanan melintasi Negara, Beliau pergi dengan membawa kedua pedangnya, serta sebuah busur raksasa!

Setelah berjalan selama beberapa hari, Hidesato tidak menemukan apa-apa selain desa tempatnya singgah dan juga sawah hijau yang membentang. Tetapi kini ia akan menyeberangi sungai Biwa yang indah lewat sebuah jembatan yang menghubungkan kedua sisinya. Saat menyeberangi jembatan itulah Hidesato melihat seekor naga besar yang tidur memanjang diatasnya! Tubuhnya lebih besar daripada pohon beringin, dan hampir seluruh tubuhnya menutupi jembatan!. Ekornya ada di depan Hidesato, sementara kepalanya ada di sisi jembatan yang satu lagi. Saat diperhatikan, naga tersebut ternyata sedang tidur, kedua lubang di hidungnya sesekali mengepulkan asap hitam.

Meskipun sempat merasa ragu, Hidesato melangkah dengan gagah untuk tetap menyeberangi jembatan tersebut. Beliau mulai melewati naga tersebut dengan berjalan diatasnya. Sisik-sisik naga yang keras dan dingin tidak membuat Hidesato takut!. Akhirnya Hidesato sampai ke bagian kepala sang naga, dan melompat untuk sampai ke seberang jembatan. Beliau pun bermaksud untuk terus melanjutkan perjalanan tanpa menengok ke belakang. Tetapi terdengar suara seseorang memanggilnya!. Hidesato yang terkejut menengok ke belakang, dan mendapati bahwa sang naga sudah hilang!. Kini di tengah jembatan tersebut berdiri seorang laki-laki. Beliau sedang membungkuk dengan dalam ke arah Hidesato. Pria tersebut juga memakai sebuah mahkota yang sangat unik, bentuknya seperti seekor naga yang sedang bertengger! selain itu baju yang digunakannya pun memiliki motif sisik naga yang berwarna sama dengan naga yang sebelumnya dilihat oleh Hidesato.

"Apakah anda yang memanggil saya?" tanya Hidesato.

"Benar tuan," jawab sang pria. "Aku tadi memanggil tuan untuk membuat sebuah permohonan."
"Apa permohonan anda, jika saya mampu, pasti saya bantu."Tetapi siapakah anda?" tambah Hidesato.
"Saya adalah Raja Naga dari Danau Biwa. Istana kerajaanku ada tepat di bawah jembatan ini, di dasar danau. Saya dan keluarga besar saya sudah tinggal sangat lama di danau ini. Tetapi sudah beberapa tahun ini, keluarga kami hidup dalam ketakutan!. Hal itu disebabkan oleh Raja Kaki Seribu yang datang meneror kami setiap malam. Dulu dia mencari saya dan setelah mengetahui rumah saya ada di dasar danau, dan bahwa saya punya keluarga besar, dia berniat untuk memangsa keluarga saya satu persatu.

Hidesato mendengarkan dengan serius setiap perkataan dari Raja Naga. Setelah menarik nafas, Raja Naga melanjutkan,"saya tidak berdaya melawannya. Sementara keluarga saya terancam hidupnya setiap malam. Maka dari itulah saya mencari seorang pemberani untuk dimintai bantuan. Saya sengaja tidur di atas jembatan dalam bentuk sejati, yaitu naga yang menyeramkan untuk mengetahui siapa yang bisa melewatiku tanpa takut. Tetapi ternyata orang-orang yang melihatku malah lari ketakutan. Anda adalah yang pertama kali berani melewati tubuh saya tanpa takut. Saya yakin anda adalah orang yang tepat untuk membantu kami. Maukah anda membantu kami untuk membasmi Raja Kaki Seribu tersebut? tanya Raja Naga.

Hidesato memutuskan untuk membantu Raja Naga, dan mereka pergi ke dasar danau untuk menunggu Raja Kaki Seribu di Istana Naga. Saat sampai di istana yang luar biasa indah dan megah itu, Hidesato disambut oleh ikan-ikan emas yang gemulai, kepiting-kepiting merah serta kerang-kerang perak berkilauan. Hidesato juga ternyata bisa bernafas di dalam air, bahkan pakaiaannya pun tidak terasa basah!

Makan malam yang lezat lalu dihidangkan untuk Hidesato. Sambil makan makanan-makanan yang mewah, Hidesato dan Raja Naga dihibur oleh para ikan emas yang menari dengan piawai diiringi musik yang dimainkan oleh para kepiting merah.  Mereka terus menghibur hingga tengah malam tiba. Nah, pada waktu tersebut semua penghuni istana mengundurkan diri dari hadapan raja dan langsung bersembunyi karena Raja Kaki Seribu akan datang pada tengah malam.

Dari kejauhan terdengar gemuruh suara kaki yang ternyata dari sang Raja Kaki Seribu! Yang terlihatang  pertama adalah sepasang mata terang seperti bola apai sedang menuju istana naga. Lalu akhirnya terlihat tubuh raksasanya yang besar dan panjang! Hidesato menenagkan Raja Naga yang gemetar ketakutan dan meyakinkan beliau bahwa dia akan membunuhnya dengan panah!

Hidesato yang hanya memiliki tiga anak panah saja mengarahkan anak panah pertamanya ke kepala Kaki Seribu dan mengenai tepat diantara kedua matanya. Tetapi ternyata panahnya mental! Lalu anak panahnya yang kedua diarahkan ke tempat yang sama, dan tetap mental.

Sebelum melepaskan anak panahnya yang terakhir, Hidesato tiba-tiba ingat bahwa kelemahan Kaki Seribu adalah ludah manusia. Meskipun ini bukanlah binatang kaki seribu yang kita temui di taman, tetapi tidak ada salanya untuk mencoba, pikir Hidesato. Dia lalu memasukkan ujung anak panah terakhir ke dalam mulutnya dan dengan mantap menembakkannya ke tempat yang sama, dan ternyata kali ini panahnya menancap dengan mantap!. Sang Kaki Seribu pun jatuh seketika, dan tidak lama kemudian diam tak bergerak.

Para penghuni istana bersorak sorai dan bergembira karena sosok yang meneror mereka kini sudah tidak bisa menganggu mereka lagi!. Hidesato lalu dijamu dengan sangat baik selama tinggal di Istana Naga. Meskipun sang Raja Naga sudah memohon kepada Hidesato untuk tetap tinggal bersama keluarganya di Istana Naga. Hidesato tetap ingin melanjutkan perjalanan dan kembali kepada keluarga. Sebagai tanda perpisahan, Raja Naga memberikan lonceng tembaga yang sangat besar, satu karung beras, satu gulung kain sutra, sebuah panci untuk memasak, serta sebuah lonceng kecil. Hadiah-hadiah tersebut dibawakan oleh beberapa pengawal yang berubah wujud menjadi manusia untuk perjalanan darat. Hidesato pun pamit dari Istana Naga, dan semua penghuni istana mengucapkan selamat tinggal dan terima kasih kepadanya.

Sesampainya di rumah, Hidesato disambut oleh keluarganya, dan setelah mengantarkan hadiah, para pengantar pun minta diri untuk kembali ke Istana Naga. Meskipun terlihat sederhana ternyata hadiah-hadiah tersebut bukanlah barang biasa! Lonceng besarnya diberikan ke kuil untuk dibunyikan setiap jam 12 siang, dan bunyinya terdengar hingga puluhan desa sekitar tempat keluarga Hidesato!. Lalu kain sutranya tidak pernah habis, meskipun sudah dipotong untuk dibuatkan pakaian bagi seluruh keluarganya!. Sementara itu panci hadiah juga selalu memasak makanan yang lezat meskipun memasak tidak menggunakan bumbu!. Lalu, yang terakhir adalah beras yang tidak berkurang dari dalam karungnya!. Hidesato selalu membagi-bagikan beras tersebut ke para tetangganya yang memerlukan, dari situlah beliau mendapat julukan Tawara Koda, atau juragan beras.

Disadur dari cerita rakyat Jepang oleh Julian Lasut
Diterbitkan oleh: Majalah Kiddo 105, Februari 2014




0 Response to "Sang Juragan Beras, Tawara Toda"

Post a Comment