Diary Prita

diary prita
Kuamati sekelilingku. Di kamar luas bercat biru laut ini, tak kutemukan Prita. Mungkin ia belum pulang sekolah. Biasanya, jika datang, ia segera ganti baju, makan siang, kemudian menulis beberapa kalimat di tubuhku.

Perkenalkan, namaku Bori. Aku si diary warna biru. Lembar-lembarku sangat wangi. Aku ini kado dari sahabat Prita di kota Kolaka, Sulawesi Tenggara. Namanya Olla. Prita memang baru pindah dari Kolaka ke Surabaya, Kota ini, dua bulan lalu.

Meskipun hanya sebuah buku, aku sangat senang bisa menjadi sahabat Prita. Di kala senang, ia menulis peristiwa indah di tubuhku. Tentang ia yang mendapat juara tiga di kelas. Tentang perjumpaannya dengan ayahnya yang pulang dari tugas kemiliteran. Atau, tentang adik kecilnya yang berhasil ia buat tertawa.

Aku juga jadi sahabatnya di kala sedih. Saat nilai bahasa Indonesianya dapat angka enam. Atau saat ia ditertawakan teman-temannya karena ia berambut pirang.

Prita senang menulis. Bahasanya sungguh indah. Terdengar bunyi langka kaki. Oh, itu Prita! Wajahnya tidak bersinar seperti biasanya. Ia melangkah gontai, lalu menghambur ke kasur, merebahkan tubunya yang mungkin lelah.

Prita, ada apa denganmu?
Apakah teman-teman mengejekmu lagi dengan julukan pirang? Ah tak mengapa. Rambutmu sangat indah. Seindah rambut ibumu yang juga pirang. Teman-temanmu hanya iri.

"Prita, makan dulu, Nak. Mama buatkan sup jamur kesukaan kmau."
"Iya, Ma. Sebentar, ya."

Prita meraihku.
"Surabaya, 4 Maret 2012. 
Dear, Bori. 
Aku sedih. Dulu aku yang berpisah dengan Olla karena Ayah pindah tugas ke kota ini. Sekarang puput, teman sebangkuku yang harus pindah. Ayahnya juga pindah tugas ke kota lain. 

Tak ada lagi Puput yang bisa membuatku tertawa karena dahi dan telinganya bisa bergerak ke atas dan ke bawah. 

Puput yang memberiku semangat aga bangga dengan rambut pirangku. Dia juga pesaing sehatku agar dapat nilai bahasa Inggris sempurna. Mungkinkah aku bisa berkumpul dengannya lagi?

Oh, Prita kehilangan sahabat lagi. Tenang Prita, kamu pasti bisa menyelesaikan masalahmu. Perpisahan dengan Puput tak boleh membuatmu bersedih.

Prita keluar, makan siang bersama ibunya. Aku sendirian lagi di sini. Wush..wush..angin menerbangkan halaman-halamanku. Tubuhku terbuka pada lembaran ketiga.

Kolaka, 13 September 2011. 
Dear Bori. 
Aku dan Marsha, teman sekelasku, berusaha membuat combro, makanan khas Sunda. Ini tugas tata boga di sekolah. Tetapi aku belum mengenal resepnya, sungguh! Untunglah aku dapat ide. Aku minta bantuan kakak Marsha yang seorang mahasiswa untuk mencari resepnya di internet. Dan.. ketemu! Bekerja sama dengan ibu dan Marsha akhirnya tugas membuat combro berhasil.Yippi!

Tuh, kan, Prita selalu dapat menyelesaikan masalahnya dengan baik!

Wush..wush...kali ini angin kembali membolak-balik halamanku. Kini halaman tengahku yang terbuka. Tulisan di diary pada halaman itu berwarna-warni. Aku ingat kejadiannya.

Kolaka, 20 Desember 2011. 
Ayah, bagaimana kabarmu? Aku ingin menelponmu lagi. Semoga Ayah baik-baik saja. Aku bahagia di sini, dengan Ibu dan Bambi. Tetapi kebahagiaanku akan lengkap jika ayah pulang dari Surabaya. Tiap rindu, aku akan merajut syal buat ayah. Mungkin kelak aku bisa jadi pengusaha syal dan bisa dapat uang sendiri. he he he!

Lagi-lagi angin berhembus. Ups, tubuhku terjerambab karena letakku tadi di ujung meja. Halamanku terbuka pada lembaran bergambar seseorang berambut pirang.

Surabaya, 4 February 2012
Dear, Bori. 
Beberapa teman baru memanggilku si Pirang. Tetapi, aku tidak sedih. Aku bisa mencontoh Alice, tokoh film pemberani yang menumpas kejahatan dan membela kebenaran. Kubantu saja teman-temanku yang belum bisa bahasa Inggris. Mereka berterima kasih dan berhenti mengolokku. Ada Puput yang menyemangatiku. Ia jadi teman sebangkuku. Ia anak yang baik!

Biasanya, jika sedih, Prita menghibur dirinya dengan bermain bersama Bambi, adiknya. Ia juga membantu dan memijiti mamanya. Nah, benar saja! Setelah mencuci piring dan mandi sore, Prita memungutku dari bawah meja, lalu kembali membuka tulisan terbarunya. Ia tambahkan kalimat-kalimatnya.

"Tengang, Bori. 
Aku tidak akan begitu sedih. Baru saja Puput menelepon, lusa ia akan mengirimiku surat dari Bandung. Wah, senangnya! Aku punya sahabat pena lagi selain Olla. Dengan surat, kami bisa berbagi suka dan duka. Benar kata Ayah, jika berbuat baik, kita pun mendapat balasan yang baik."

Tuh, kan, benar! Prita memang hebat. Ia berhasil membuat dirinya ceria kembali.

Oleh Sri Mulyati, 
Sumber Majalah Bobo

0 Response to "Diary Prita"

Post a Comment