Juara Pemalas

juara pemalas
 "Aduuuh, rajinnya! Pagi-pagi sudah baca buku pelajaran," goda Rigo. Ia tersenyum padaku, meletakkan tas punggung di meja, lalu menduduki kursi di sebelahku dengan santai. Aku nyengir ke arah teman sebangkuku yang baru datang ini. "Nyindir, ya? Ini namanya malas, bukan rajin! Saking malasnya belajar, aku baru belajar waktu mau ulangan. Beda sama kamu, Rigo, si Anak Paling Rajin di Kelas!" kataku gemas seraya menutup bukuku.



Rigo tertawa."Aaah, sebenarnya aku enggak rajin. Bisa dibilang, aku adalah anak paling malas di kelas ini,"

Aku ternganga, tak percaya pada ucapan temanku yang langganan rangking satu itu.

Aku mengangkat alis."Ah, anak di kelas ini, gak bakal percaya omonganmu!"

"He he he." Rigo terkekeh dengan gaya cuek.

"Yaah, malah tertawa!" Aku pura-pura marah.

"Ya sudah, kenapa tidak membandingkan saja antara kita berdua, siapa yang lebih pemalas? Aku yakin, akulah juaranya." Rigo Menantang.

"Oke! Kita lihat siapa yang nanti keluar sebagai juara pemalas!" Aku bersedekap menerima tantangannya dengan senang hati.

"Pertama, soal PR." Rigo memulai.

"Kalau aku, saking malasnya, aku mengerjakan PR kalau sudah malam atau pagi-pagi, atau malah ketika sudah ada di sekolah,"kataku.

"Kalau aku, saking malasnya, setelah pulang, makan siang, dan istirahat sebentar, aku langsung mengerjakan PR."

Aku melotot. "Dimana letak kemalasannya?"

Rigo malah tertawa. "Aduuuh, mengerjakan PR di malam hari, atau pagi-pagi waktu mau berangkat sekolah? Membayangkannya saja aku sudah malas minta ampun! Lebih malas lagi kalau harus mengerjakannya di Sekolah. Kalau malam, enaknya cepat tidur. Di pagi hari, enaknya juga kalau bisa santai sambil sarapan. Setelah sampai di Sekolah atau ketika jam istirahat, juga lebih enak digunakan untuk bersantai atau ngobrol."

Aku terbelalak. Ah, masuk akal juga!

"Apalagi?" tanya Rigo.

"Saking malasnya. Aku lebih suka melamun saat pelajaran. Aku nggak mau repot-repot belajar tiap hari. Aku baru belajar semalam suntuk sebelum tes," kataku.

Rigo tersenyum,"Hmmam, kalau aku, saking malasnya lebih suka memperhatikan pelajaran baik-baik di kelas. Jadi aku enggak harus repot-repot belajar lagi. Membayangkan harus begadang semalam suntuk saja sudah bikin malas. Kalau ada ulangan, lebih baik kita tidur yang cukup. Jadi ketika ulangan, otak dan tubuh masih segar."

Ugh, memang benar! Begadang untuk belajar itu bikin repot. Besok juga belum tentu ingat pada apa yang dipelajari mendadak di malam hari.

"Coba lihat! Hampir semua anak rajin sekali. Walau ini masih pagi, semua sudah membaca buku pelajaran. Enggak seperti aku. Saking malasnya, aku lebih suka duduk istirahat, sambil menunggu jam ulangan dimuai," lanjut Rigo.

"Kamu enggak pernah belajar sebelum ulangan karena sudah pintar," potongku.

"Eeeeh, enggak begitu! Supaya tidak begadang, aku mencari cara paling aman. Ketika pelajaran diberikan di kelas, aku betul-betul mendengar dan menyerapnya. Jadi, waktu membaca ulang, tidak perlu terlalu lama. Dan kamu, kenapa menyebut dirimu malas? Kamu tetap belajar, kan? Itu masuk dalam kategori rajin!" Rigo tetap tersenyum simpul.

Ugh, aku tak bisa berkutik. Aku tetap belajar karena tidak mau mendapatkan nilai jelek. Tetapi, kata-kata Rigo memang benar. Kalau aku ini pemalas, berarti aku enggak akan mau repot-repot belajar keras, sampai kepala puyeng begini.

"Bagaimana?" Rigo tersenyum penuh kemenangan. "Siapa yang lebih malas?"

Aku manyun, enggan untuk mengakui kekalahan. "Dasar! Juara pemalas, kok, malah bangga."

"Yaaah, siapa yang duluan membanggakan diri sebagai seorang pemalas?" Rigo Tergelak senang.

"Hmph! Ya..ya... aku memang bangga kalau terlihat malas. Malas tetapi dapat nilai bagus itu terlihat keren."

"Ha ha ha, aku tahu! Sekarang ini banyak sekali yang malu kalau kelihatan rajin. Tetapi, malas atau rajin itu sama saja. Yang paling penting. Kita harus memanfaatkan waktu sebaik-baiknya."Rigo bergaya sok bijak.

 Tepat setelah itu, bel masuk berbunyi.

O-OW, aku belum selesai belajar! Masih ada beberapa teori yang belum kuhafal! Dan sekarang aku harus menghadapi ulangan!

Ugh, memang lebih enak jadi pemalas versi Rigo.

"Malas" yang lebih menguntungkan.

Oleh: Nina Setyowati
Sumber: Majalah Bobo

0 Response to "Juara Pemalas "

Post a Comment