Kaleng Harta Karun

kaleng harta karun
Anak-anak biasanya kurang suka jika hujan turun. Mereka jadi tidak bisa bermain di luar rumah. Namun, Mimi justru menyukai hujan. Di saat hujan turun, bunda Mimi biasanya akan mengeluarkan kaleng tua miliknya.

Mimi menyebutnya kaleng harta karun. Bunda menyimpan banyak benda tua menarik di dalamnya. Ada kancing dengan berbagai bentuk dan ukuran, potongan karcis yang sudah lusuh, piring dan gelas mini dengan motif bunga cantik dan banyak lagi barang yang Mimi tidak pernah jumpai sekarang.

Diantara itu semua, Mimi paling suka pada boneka kertas yang warnanya sudah menguning temakan usia. Ada lemari kecil dari kayu untuk meletakkan berbagai baju ketas boneka itu. Cara bermainnya tinggal mengaitkan ujung baju tersebut di pundak boneka kertas, lalu di lipat sedikit ke belakang.
 Mimi betah bermain berjam-jam dan lupa pada hujan. 

Suatu hari, Priska membagikan  undangan. Undangan bersampul merah jambu dengan hiasan peri. Orangtua Priska memang cukup berada. Priska bisa mengundang seluruh anak di kelas Mimi.

"Kalian harus datang ke pesta ulang tahun. Bakalan  ada kue cokelat yang besar sekali, dipesan langsung dari Jakarta. Ada ibu peri, tukang sulap, dan permainan. Yang menang dapat hadiah. Boleh nonton film Madagascar 3 juga. Nyesel  kalau kalian nggak datang ," kata Priska meyakinkan.

"Tukang sulap, Pris?  Seperti di tivi?" Dion bertanya penuh harapan.
Priska mengangguk." Dan masih ada ibu peri," katanya menambahkan.
"Di pestamu nanti, aku boleh nambah kuenya?" Joni yang paling gemuk, bertanya. Priska hanya terkikih.
"Tentu, kalau yang lain sudah makan dan masih ada sisa, kamu boleh tambah."
"Ada permainan apa? Makan kerupuk, ya?" tanya Nunik.
"Bukan, lomba itu hanya untuk 17 Agustusan. Pokoknya ada deh. Aku nggak bisa kasih tahu, tapi di jamin seru. Aku bocorkan sedikit, ada hadiah satu set pensil berwarna."

Semua ank berdecak kagum. Mimi sendiri menelan ludah. Ia tidak pernah menghadiri pesta ulang tahun yang kedengarannya begitu mewah. Tidak apa bila tidak bisa nambah kue atau menang lomba. Mimi ingin sekali menonton film kartun Madagascar 3. Kata saudara sepupunya yang tinggal di Jakarta, film itu lucu sekali. Di kota Mimi tidak ada bioskop, dan tidak semua orang punya DVD player.

Pesta ulang tahun Priska menjadi pembicaraan yang seru. Mimi sendiri sudah menyiapkan baju terbaiknya. Bunda sudah menjahitkan dompet koin cantik untuk hadiah.

Sayang, ketika hari Minggu yang ditunggu-tunggu itu tiba, hujan deras mengguyur seluruh kota. Mimi sudah berpakaian lengkap, dan ia memandang kesal dari jendela ruang tamu.

"Bun, Mimi boleh pergi, ya?" bujuk Mimi. "Mimi bawa payung, deh!"

"Boleh pergi kalau hujannya sudah berhenti," jawab Bunda. "Kalau sekarang tidak boleh. Berbahaya sekali bersepeda sambil memakai payung, Mi."

"Tapi Mimi harus pergi sekarang, Bun," Mimi menahan tangis. Sebentar lagi mereka pasti akan potong kue, lalu filmnya akan segera di putar. Mimi pengen sekali nonton, Bun. Boleh ya, Bun?"

Sayangnya Bunda tetap menggeleng.

Mimi sungguh kesal. Ia ingin menangis. Ia marah pada Bunda, kok, nggak mengerti perasaan Mimi! Memangnya Bunda tidak pernah jadi anak-anak.? Bunda Payah!

Bunda menyodorkan kaleng harta karun untuk bermain. Kaleng jelek! Dengus Mimi. Mimi ingin nonton Madagascar 3, bukan main dengan mainan jelek ini! Mimi mengambil boneka kertas dengan kasar, lalu diremasnya dengan kesal.
Tiba-tiba...Breeeeet.....
Kepala Boneka kertas itu putus. Mimi kaget, tetapi Bunda terlihat lebih kaget. Belum pernah Mimi melihat Bunda begini sedih.

"Bun, maafkan Mimi. Nanti Mimi belikan Bunda boneka kertas yang lain," Mimi menangis.

Bunda tidak menjawab. Diambilnya boneka kertas itu dengan penuh kasih sayang.
"Dimanapun, tidak ada boneka yang seperti ini lagi, Mi!" Bunda duduk di sebelah Mimi.

Bunda lalu bercerita. Semua ini adalah mainan Bunda sewaktu kecil. Mainan itu penuh dengan kenangan almarhum kakak Bunda, Dodi. Ketika Bunda ulang tahun, Dodi memberikan hadiah boneka kertas itu. Tak lama setelah itu, Dodi pergi untuk selama-lamanya. Ia meninggal ketika sedang berenang di sungai sewaktu hujan.
Boneka kertas itu adalah peninggalan terakhir dari Dodi. Bunda begitu sayang pada mainan itu. Karena Mimi adalah putri kesayangan Bunda, maka Bunda ingin berbagi kenangan itu dengan Mimi.

Mimi menyesal telah marah-marah tadi. Kini, film Madagascar 3 tiba-tiba tidak menarik hatinya lagi.
"Karena Mimi marah, Mimi menjadi kasar. Karena kasar, Mimi melukai hati Bunda. "Maafkan Mimi, Bun. Mimi berjanji akan menjadi anak yang sabar dan tidak pemarah lagi."

Bunda memeluk Mimi. Mimi lalu mengajak Bunda untuk mengelem kepala Boneka itu. Boneka pemberian Paman Dodi. Paman yang belum sempat Mimi kenal.

Oleh: Rika Hajasi 
Sumber: Majalah Bobo Edisi 07 Terbit 23 Mei 2013






0 Response to "Kaleng Harta Karun"

Post a Comment