Payung Alice

Lili dan payung alice
Langit mendung. Sepertinya sebentar lagi akan turun hujan. Alice bergegas keluar rumah untuk mengangkat pakaian yang dijemur.

Tiba-tiba Alice melihat Lili melintas teragesa-gesa di depan rumahnya. Lili adalah tetangga Alice. Mereka sama-sama berumur 12 tahun dan satu kelas di sekolah.

"Lili, mau kemana?" tanya Alice heran. Wajah Lili terlihat sedih. Sepertinya ia habis menangis.

"Aku mau ke kota, Alice! Aku ingin menjual kalungku ini." Lili menunjuk kaLung yang melingkar di lehernya.

Kenapa kalung itu mau kamu jual?" Alice tahu, kalung Lili itu adalah adalah pemberian ibunya yang meninggal dua tahun lalu.

"Ayahku sakit. Aku butuh uang untuk membeli obat," jawab Lili sedih.

Alice ikut sedih. Ia ingin sekali membantu Lili. Tetapi, Alice juga tidak mempunyai uang.

"Aku harus pergi ke kota, Alice! Ayahku harus segera minum obat!" Lili menatap langit yang semakin hitam.

"Tunggu sebentar, Li!" tahan Alice. Ia bergegas masuk ke rumah. Sebentar kemudian, Alice kembali membawa payung yang cukup besar. "Bawalah payung ini, Li! Mungkin kamu perlu ini di perjalanan."

Lili ragu-ragu. Tentu agak repot membawa payung sebesar itu. Namun, ia tidak ingin mengecewakan Alice.

"Baiklah," akhirnya Lili menerimanya.

Di tengah jalan, hujan deras turun. Ah, untung Alice meminjamkan payungnya, jadi aku tidak usah berteduh, gumam Lili sambil melanjutkan perjalanan.

"Hei, gadis kecil!" Seorang bapak melambaikan tangan pada Lili. Lili segera menghampiri bapak yang berteduh di bawah pohon besar itu.

"Kamu mau ke mana, gadis kecil?" tanya bapak itu.

"Saya mau ke kota, Pak!" jawab Lili.

"Ah, kebetulan sekali. Bolehkah saya menumpang payungmu sampai ke halte bus di ujung jalan sana? Saya harus segera mengejar bus agar tidak terlambat ke kantor."

"Tentu saja boleh," jawab Lili ramah.

Lili dan bapak itu segera menuju halte bus. Sepuluh menit kemudian mereka sampai.

"Ah, untung busnya belum berangkat!' seru bapak itu dengan gembira. Ia merogoh saku mantel, lalu mengeluarkan dua keping perak. "Terimalah uang ini!"

Lili baru saja akan menolak, tetapi bapak itu sudah masuk ke dalam bus yang segera melaju meninggalkan halte.

Sambil mengucap syukur, Lili memasukkan dua keping perak itu ke saku mantel.

"Tunggu, gadis cilik?" tahan seorang nenek saat Lili hendak meninggalkan halte bus.

Lili menghampiri nenek itu. "Ada yang bisa saya bantu, Nek?"

"Maukah kamu mengantarkan Nenek ke toKo mainan di seberang jalan itu? Hari ini cucu Nenek ulang tahun. Nenek ingin memberinya kado."

Lili mengangguk. Dengan senang hati Lili mengantarkan nenek itu ke sebuah toko mainan di sudut kota.

"Terima kasih," ujar nenek itu sambil memberikan Lili dua keping uang perak.

"Tidak usah, Nek!" tolak Lili.

"Tidak apa-apa. Berkat kamu, Nenek tidak usah berteduh lama di halte."

Dengan gembira, Lili memasukkan dua keping perak itu ke saku mantel.

Saat hendak meninggalkan toko mainan, Lili melihat seorang anak perempuan berusia 10 tahun. Ia menangis di emperan toko mainan. Lili segera menghampiri anak itu.

"Kenapa menangis?" Lili mengelus kepala anak kecil itu.

"Sudah satu jam aku menunggu, tetapi hujan belum reda. Aku harus segera pulang. Ibu pasti khawatir mencariku."

"Kamu tinggal di mana?"

"Beberapa blok dari jalan ini. Ibu melarangku menerobos hujan, karena aku alergi air hujan."

"Ayo, kuantar sampai rumah!" Lili menggandeng anak kecil itu.

Lima belas menit kemudian, mereka sampai. Ibu anak itu menyambut gembira. "Terima kasih atas kebaikanmu. Terimalah ini." Ibu itu memberi Lili dua keping perak.

Lili hendak menolak, tetapi ibu itu terus memaksanya. Setelah mengucapkan terima kasih, Lili kembali melanjutkan niat menuju toko perhiasan.

Tiba-tiba, Lili ingat sesuatu, Ia merogoh saku mantel dan mengeluarkan enam keping uang perak. Lebih dari cukup untuk membeli obat untuk Ayah, gumam Lili. Lili tidak perlu menjual kalung pemberian ibunya.

Sampai di rumah, Lii segera menceritakan semuanya pada Alice. Alice tidak menyangka kalau pertolongan kecilnya bisa membuahkan hasil yang besar.

"Terima kasih atas bantuanmu, Alice," ucap Lili terharu.

Alice ikut terharu. Ia tidak pernah ragu lagi untuk menolong orang lain.


Oleh: Bambang Irwanto
Sumber: Majalah anak-anak Bobo

0 Response to "Payung Alice"

Post a Comment