Seratus Ribu Tulip

bunga tulip
Perang pecah, Putri Diana dari kerajaan Tulip, gelisah. Wilayah kerajaan dikepung bahaya. Ia dan keluarganya harus menyelamatkan diri secepatnya. "Ke mana kita harus mengungsi?" tanya Putri Juliana pada keluarganya yang sedang berkumpul di aula istana. "Tak satupun kerajaan tetangga yang mau menolong kita. Mereka takut kehadiran kita akan mengancam keselamatan mereka."Semuanya hanya bergumam. Tak seorangpun memilik jalan keluar.

Putri Diana berdecak prihatin."Sepertinya, Nergeri Mapel adalah harapan terakhir kita. Mudah-mudahan mereka segera menjawab surat permohonan kita."


Tiba-tiba pintu aula terbuka. Penasehat kerajaan masuk tergopoh-gopoh. "Puti, surat dari Negeri Mapel," katanya sambil menyerahkan selembar amplop. Aula senyap. Semuanya berdebar-debar ingin mendengar berita dari Negeri Mapel.

Puti Juliana segera membuka amplop dan membaca surat. "Kabar baik! Negeri Mapel  bersedia menampung kita hingga perang berakhir." Aula langsung bergemuruh. Sorak gembira terdengar nyaring. Semunanya lega mendengar surat itu.

Putri Juliana dan keluarganya segera berkemas. Sebuah kapal laut telah menunggu di pelabuhan untuk membawa mereka ke Negeri Mapel.
Dari atas geladak kapal, Putri Juliana menatap Kerjaan Tulip yang dicintainya. Air matanya menetes. Ia tak tahu kapan dapat melihat tanah airnya lagi.

Setiba di tujuan, Putri Juliana disambut oleh penduduk Negeri Mapel. Ia dan keluarganya memulai kehidupan baru di Negeri Mapel. Dalam waktu singkat, Putri Juliana dan keluarganya mendapat banyak teman baru.

Keindahan alam Negeri Mapel membuat Putri Juliana kagum. Ia terpesona oleh pohon-pohon mapel yang tumbuh subur di seluruh negeri. Saat musim gugut tiba, daun-daunnya tampak indak berwarna kuning kemerahan. Tak hanya itu, Putri Juliana juga suka menyantap pancake dicampur sirup mapel manis. Sirup itu terbuat dari sejenis getah yang dihasilkan dari pohon mapel.

Akan tetapi di saat sendiri, putri Juliana selalu teringat tanah kelahirannya. Ia rindu pada bunga-bunga Tulip yang tumbuh di seluruh wilayah Kerajaan Tulip.

Satu hari, Putri Juliana mendapat kabar tak terduga dari pemimpin Negeri Mapel. Ia segera mengumpulkan keluarganya. "Tentara Negeri Mapel telah berhasil mengusir musuh yang menduduki Kerajaan Tulip". "Kini Kerajaan Tulip bebas "Kita dapat kembali ke tanah air!"

Semuanya terharu mendengar berita itu. Negeri Mapel adalah sahabat sejati yang rela menampung Putri Juliana dan keluarga. Kini Negeri Mapel pula yang rela membantu mengusir penjajah dari Kerajaan Tulip.

Setiba di tanah air, Putri Juliana tak melupakan jasa Negeri Mapel. Sebagai tanda persahabatan yang tulus, Ia mengirim seratus ribu bibit bunga tulip kepada Negeri Mapel.

Hadiah istimewa itu disambut gembira oleh penduduk Negeri Mapel. Sejak saat itu Negeri Mapel tak hanya ditumbuhi pohon-pohon mapel, tetapi juga bunga-bunga tulip aneka warna. Setiap musim semi, orang-orang dapat menyaksikan keindahan bunga-bunga tulip yang menjadi lambang persahabatan kedua negara.

Oleh: Ernita Dietjeria
Sumber: Majalah Bobo

0 Response to "Seratus Ribu Tulip"

Post a Comment