Terjebak di Kolong

terjebak di koong
Rere dan Lia baru senang main petak umpet, saat bermain mereaka tak mau diganggu, termasuk oleh Ibu. Besok, Ibu repot sekali. Ada pesanan kue. Ibu pandai bikin kue. Banyak tetangga yang memesan. Rere dan Lia senang sekali sebab Ibu akan membuat kue pelangi dan Lumpia.

"Asyik, bikin lumpia yang banyak ya, Bu!" kata Rere.
 "Kue pelanginya juga!" timpal Lia.
 "Boleh, tetapi bantu ibu, ya. Ibu pasti repot sekali."

"Oke!" Lia berjanji menimbang tepung, Rere akan mencuci peralatan membuat kue. Wow, Ibu senang sekali.

Besoknya, pukul enam pagi Ibu sudah sibuk. Ibu ke kamar Rere dan Lia yang bersebelahan. Lo, kamarnya kosong? ibu mencari-cari."Aduh, pasti mereka sudah pergi bermain."

"Waaa!" Rere dan Lia muncul dari samping lemari sambil tertawa, mereka senang berhasil membuat Ibu terkejut.

"Aduh, bikin kaget! Rere, Lia, tolong ke warung. Ibu perlu gula lagi."

"Yaaah." Rere dan Lia mengeluh.

"Eh, kalian berjanji akan membantu. Ada hadiah kue, lo!"

Cemberut, Rere mengambil uang dari tangan Ibu.

"Cepat kembai, ya. Habis itu mandi dan bantu Ibu."

Rere dan Lia pergi ke warung Bu Min. Di jalan mereka bertemu Niki yang main lompat tali sendirian.

"Main, yuk!" ajak Niki. Rere dan Lia langsung setuju.




Pukul sepuluh pagi mereka bermain petak umpet. Sang tidak,seru sekali. Tiba-tiba, terdengar suara yang tidak asing,"Rere! Lia!"






"Gawat, Ibu mencari kita!" kata Rere pada Lia.

"Sembunyi saja di rumahku," Saran Niki.

"Betul ... Betul!" timpal Lia. Suara Ibu makin mendekat.


"Sembunyiii! Rere memberi komando. Ketiganya berlari ke rumah Niki. Setelah melepas sandal, Lia, Rere dan Niki masuk ruang depan. Niki menunjuk sebuah balai-balai antik, yaitu tempat dari kayu besar untuk menonton TV. Balai-Balai  itu mirip tempat tidur. Rere, Lia dan Niki masuk ke kolong. Kolong balai-balai itu rendah, tak akan mudah terlihat.

"Hi hi hi, keren! ibu pasti tak bisa menemukan kita di sini." Rere terkikik.



Suara Ibu tak terdengar lagi.Rere, Lia dan Niki hendak keluar kolong, Namun, serta merta terdengar pintu ruang depan terbuka. Ada suara mama Niki dan bunyi ramai yang riang.

"Silakan, masuk!Silakan masuk!" kata mama Niki.

Ketiga anak itu terkejut. Dari bawah kolong terlihat kaki-kaki bersepatu cepat memasuki ruang depan. Kaki-kaki yang banyak dan bunyi ramai celoteh para Ibu. Beberapa pasang kaki duduk di dekat balai-balai. Bahkan sepasang kaki kecil duduk  diatas balai-balai.


Muka Niki pucat." Aku lupa Pukul sepuluh ada arisan."

"Aduh, Nikii!" teriak Rere tertahan.

"Keluar saja yuk," ajak Lia cemas.

"Mana mungkin? Malu! tolak Rere. Baju mereka kotor. dan mereka juga belum mandi.
Terdengar suara mama Niki. "Ayo, dicicipi kuenya. Kue pelangi dan lumpia enak buatan ibu Elvina. Ibu Elvina jago bikin kue."

Rere dan Lia terbelalak. Jadi kue-kue yang dibuat ibu pagi ini adalah pesanan mama Niki?"
Terima kasih pujiannya, Bu Desy." Hah, itu suara Ibu.


Mama Niki mengeluarkan hidangan lainnya. Bakso, puding, cokelat dan es buah sirsak. Aroma lezat menyebar hingga ke bawah kolong.

"Idemu bersembunyi di sini, buruk sekali, Niki," bisik Lia dongkol.

"Maaf," sesal Niki.

Acara tak kunjung selesai, Rere, Lia dan Niki melihat kaki-kaki hilir mudik. Ibu-ibu menikmati hidangan, juga anak-anak yang ikut. Rere dan Lia menelan ludah. Lemas, lapar dan dingin. Sungguh tak enak lama-lama di kolong. Kue pelangi dan lumpia habis.


"Eh, kuenya masih ada, lo, di rumah. Sebenarnya itu untuk Rere dan Lia. Tetapi mereka mungkin bosan! suara Ibu keras sekali.
"Sebentar, ya, saya ambilkan,"
Rere dan Lia terkejut.

Ibu datang tak lama kemudian, Membawa piring besar berisi kue. Sebentar saja kue-kue itu habis.

"Kue kita!" Rere dan Lia saling pandang penuh sesal. Saat semua menikmatik kue bikinan Ibu. Mereka malah terjebak, di kolong balai-balai. Acara berakhir juga. Rere dan Lia cepat pulang.

"Dari mana kalian?"

Dari... Maafkan kami karena tidak membantu Ibu!" Rere dan Lia berlari masuk kamar, takut kena marah. Tetapi, eh, Ibu kok, senyum-senyum? Wah ternyata Ibu tahu tempat Rere dan Lia bersembunyi. Ibu melihat sandal-sandal mereka di depan rumah Niki.


Oleh Yuli Anita 
Sumber: Majalah Bobo



0 Response to "Terjebak di Kolong"

Post a Comment