Anak Majikan yang Hatinya Dengki

Anak majikan yang hatinya dengki
Dahulu kala, ada seorang bangsawan yang tinggal di sebuah rumah besar, tidak jauh dari Samarkand. Suatu hari, bangsawan yang bernama Abdul Azim itu, membeli seorang budah laki-laki. Namanya Gafur. Anak itu, Ia ajarkan membaca dan menulis, serta ia asuh seperti layaknya anak sendiri. Hal ini membuat jengkel para pembantu lainnya. Bahkan ada yang benci kepadanya. Setiap yang dilakukan oleh Gafur selalu mereka tentang. Mereka selalu membuat cerita-cerita yang jelek tentang Gafur kepada majikannya, agar Gafur dibenci. Akan tetapi, Abdul Azim tahu kalau mereka itu iri, sehingga setiap kali mereka berbuat, ia selalu memarahinya dan menyuruh mereka kembali bekerja.

Setiap hari, Gafur belajar dari buku-buku, sehingga dengan cepat ia dapat menyamai ilmu yang dimiliki oleh Abdul Azim. Mereka selalu bersama-sama pergi ke istana, bergabung mendengarkan pidato-pidato di depan raja.

Suatu hari, ketika Gafur sedang berada di dalam istana, puteri raja, Shiraz melihatnya dari balik tirai singgasana raja. Sang Puteri langsung jatuh cinta kepadanya. Karena itu, ia menyuruh pengasuh untuk mendekati Gafur.

"Tuan Muda,"kata wanita tua itu. "Ini lukisan majikanku. Katanya, ia jatuh cinta pada Tuan.

"Katakan pada majikanmu bahwa aku sudah melihatnya. Tetapi, maukah kau mengatakan padaku, siapa majikanmu itu?"

"O, tidak Tuan," kata wanita tua itu. "Majikanku hanya menyuruhku untuk memberikan gambar ini. Nanti aku akan kembali menghubungi Tuan."

Karena tertariknya dengan masalah itu, secara diam-diam Gafur membuntuti wanita tua itu. Akan tetapi, ia amat terkejut, ketika melihat wanita tua itu masuk ke dalam istana. Siapakah dia?

Sementara itu, Abdul Azim punya seorang anak laki-laki. Anak bangsawan itu sangat iri pada Gafur. Ia sering mengadu pada ayanya bahwa Gafur itu serakah dan licik. Ia juga bilang bahwa Gafur akan mengambil alih kedudukannya sebagai majikan. Abdul Azim termakan juga oleh hasutan anaknya, maka ia memutuskan untuk mengetesnya.

"Gafur," kata Abdul Azim suatu malam. "Aku akan berziarah selama dua tahun. Sementara aku pergi, aku ingin kau menggantikan tugasku. Kau harus menggaji para pembantu dan membayar para pedagang. Kau harus menjaga istri dan anakku, memberi petunjuk pada anakku dan hadir pada setiap pertemuan di istana sebagai wakilku."

"Dua tahun, Tuan," Kata Gafur dengan sedih,"lama juga ya?. Tapi, akan kucoba.

Abdul Azim memandang Gafur dengan penuh keraguan. Apakah semua yang dikatakan Gafur itu benar?

Malam itu Gafur tidak dapat tidur. Akhirnya, ia bangun menuju ke jendela memandang ke arah air mancur. Lalu, Gafur melepas baju tidurnya, dan keluar mendekati air mancur itu. Tiba-tiba ia mendengar suara tawa dari tengah-tengah air mancur itu...ternyata, seorang peri yang cantik.

"Ketahuilah, manusia," kata peri itu. Aku adalah jiwa penunjukmu dan kau adalah tanggung jawabku, karena ketika kau lahir, aku hadir. Ketika itu, akulah yang melindungimu. Sekarang aku harus membantumu, karena kau dalam bahaya."

"Bahaya?," tanya Gafur. "Bahaya kenapa? Aku tidak punya musuh di dunia ini."

Peri itu tersenyum."O, tentu saja ada, anakku! mereka adalah anak majikanmu dan semua pembantu di rumah itu, bahkan sekarang majikanmu sendiri pun akan membencimu."

"Majikanku akan berziarah, aku disuruh menjaga rumahnya," kata Gafur. "Bagaimana ia tidak percaya padaku?"

"Itu hanya tipuan," jawab peri itu.

"Tipuan apa? Berikanlah petunjuk padaku" kata Gafur ingin tahu.

"Besok, ambillah jubah yang sudah robek, masukkan emas ke dalamnya, kemudian jahit. Berikan pada majikanmu, dan katakan bahwa kau tidak bisa menggantikan tugas majikanmu, karena kau tidak pantas. Yang pantas adalah anak majikanmu dan mintalah izin padanya agar kau ikut bersamanya," kata peri itu.

Gafur mulai sadar bahwa ia sedang melamun, tetapi ia yakin bahwa apa yang dikatakan peri itu benar. Hari berikutnya, Gafur siap dengan pakaian jubahnya.

"Gafur," sapa majikan, "mengapa kau mengenakan jubah jelek seperti ini?"

"Tuan, aku tidak bisa menerima tugas yang kau berikan." kata Gafur, "Izinkanlah aku ikut dengan Tuan, biar aku bisa menjagamu kalau kau dirampok atau kalau kau mendapatkan kecelakaan. Aku telah memasukkan banyak emas pada jubah jelekku ini. Biarkanlah puteramu yang mengurus rumah ini."

Melihat sikap Gafur, Abdul Azim langsung memeluknya dan mengatakan bahwa sebenarnya ia tidak akan pergi berziarah. Ia hanya sekedar ingin mengetes, karena ada orang-orang tertentu yang mencurigai Gafur.

Dalam kesempatan itu, Gafur juga bertanya,"Ada salah seorang wanita yang tinggal di istana menyatakan cinta kepadanya, lewat pembantunya. Siapakah dia?

"O, Gafur," kata Abdul Azim, "di istana itu tak ada orang lain lagi, selain Puteri Shiraz. Kau sangat beruntung, jika ia jatuh cinta padamu, dan sang raja pun tak akan menolak, karena ia sedang mencari menantu, sebab umur sang puteri itu sudah dewasa".

"Tetapi aku hanya seorang Budak, tak pantas kawin dengannya," kata Gafur.

"Jangan takut," jawab Abdul Azim. "Sejak saat ini, kau akan kumerdekakan. Aku akan memberimu satu tas berisi emas sebagai hadiah dan aku akan mengangkatmu sebagai anak kedua saya. Keluarga kami adalah satu-satunya keluarga tua dan terhormat, jadi kau akan diterima di istana."

Mendengar semua ini, anak majikan dan para pembantunya meminta maaf pada Gafur, dan dengan senang hati Gafur memaafkan mereka. Akhirnya, Gafur dan sang puteri pun melangsungkan pernikahan. Pada pesta pernikahan mereka, banyak yang mengirimkan hadiah emas dan permata. Para penghuni istana sangat kaget melihat harta yang melimpah.

"Mudah-mudahan kalian hidup bahagia dan diberkahi banyak anak" bisik Peri pada Gafur pada hari pernikahan itu.

Gafur dan puteri raja tinggal bersama-sama dengan senang sampai akhir hayatnya. Setiap hari Jum'at ia membagi-bagikan beratus-ratus uang logam kepada orang miskin. Dan ketika sang raja wafat, Gafurlah yang menjadi raja menggantikannya.

Sumber: Buku Kisah Anak-anak dari Asia Tengah "Petualangan Habib Bin Habib"
Penulis: Males Sutiasumarga 
Penerbit: Zikrul Hakim (Divisi Zikrul Kids) - Jakarta Timur

0 Response to "Anak Majikan yang Hatinya Dengki"

Post a Comment