Kembalinya Si Anak Hilang

kembalinya si anak hilang (tentara romawi)
Dulu, di Iran ada seorang Pangeran, namanya Gushtasp. Ayahnya bernama Raja Luhsrap, yang berkuasa di Negeri Kai Kusrau. Gushtasp adalah adalah anak yang paling tua, tapi ia tidak pernah tinggal di istana. Ia selalu mengembara ke negeri-negeri orang. Jadi, ayahnya sangat khawatir kepadanya.

Sekarang, Gushtasp sedang berada di Negeri Roma. Seperti biasanya, setiap kali berkunjung ke negara orang, ia langsung  pergi ke istananya. Di sana, ia mengatakan bahwa ia akan mengadakan kunjungan kehormatan pada sang raja. Tapi, Ia tidak mengatakan bahwa ia seorang pangeran, karena ia ingin mendapatkan pekerjaan di istana itu.

"Hai, Orang Asing," Kata salah seorang bangsawan Roma. "Kalau mau bertemu Yang Mulia, datanglah pagi-pagi. Untuk itu, kau boleh tinggal di wisma istana, tempat menginap khusus bagi orang-orang asing yang datang ke negeri kami."

Keesokan harinya, Gushtasp datang menghadap Sang Raja. Ia didampingi oleh para bangsawan di kerajaan itu. Selain mengadakan kunjungan kehormatan, ia juga mengungkapkan keinginannya untuk bekerja di istana tersebut. Namun, untuk saat itu tampaknya belum ada lowongan yang tepat baginya. Akhirnya, ia putuskan untuk melakukan perjalanan ke negeri lain. Sebelum melakukan perjalanan, ia habiskan sisa-sisa waktunya di kota itu untuk melakukan kegiatan.

Suatu hari, ketika sedang berjalan-jalan di kota itu, Gushtasp mendengar bahwa para petani di kota itu sedang dilanda keresahan. Mereka takut masa panen mereka akan gagal, karena ada babi hutan yang suka mengganggu ladang mereka. Sementara, di kota itu, tidak ada seorang pun yang dapat membunuh binatang liar itu.

Mendengar keresahan para penduduk, Gushtasp tergerak hatinya untuk melakukan sesuatu. Akhirnya, masuklah ia ke dalam hutan. Dalam waktu yang singkat , ia berhasil membunuh babi hutan itu. Para penduduk kagum sekali dengan keberanian Gushtasp. Mereka mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya pada Gushtasp.

Untuk mengisi masa senggangnya, pada hari yang lain, Gushtasp pun ikut serta dalam pertandingan bola tangan. Ia masuk dalam klub orang-orang asing. Dalam pertandingan itu, tampak Sang Raja dengan ketiga puterinya ikut menonton.

"Ayah, lihat, orang asing baru itu! Siapakah dia?" tanya Katayun, Puteri tertua raja.

"O, itu orang asing yang pernah mengadakan kunjungan kehormatan dan meminta pekerjaan pada kita." jawab raja. "Memangnya kenapa?".

"Ah, tidak! O, ya, Ayah, bolehkan aku mengutarakan sesuatu padamu?" kata Katayun.

"O, tentu, tentu, anakku!" jawab raja," Apa yang ingin kau katakan.?"

"Begini, Ayah, bolehkah aku memilih dia untuk menjadi suamiku? Kurasa ia cocok jadi suamiku. Tampaknya, ia berasal dari keturunan bangsawan."

"Ah, ada-ada saja, kamu," jawab raja.

Mendengar jawaban dari ayahnya, Katayun merasa kecewa, karena ia menganggap ayahnya tidak bersungguh-sungguh menanggapi kata-katanya. Maka, dengan diam-diam, ia menyuruh pengasuhnya untuk menemui Gushtasp dan mengundangnya untuk hadir di salah satu jendela istana pada malam hari.

"Hai, orang asing," sapa Katayun dari jendela istana. "Ketika pertama kali melihatmu di pertandingan bola tangan, aku merasa bahwa aku telah bertemu dengan orang yang cocok denganku. Oleh karena itu, kalau kau mau menjadikanku sebagai istrimu, datanglah pada ayahku dan mintalah padanya agar aku jadi istrimu."

Oh, Tuan Puteri, betapa beruntungnya aku, jika kau mau kujadikan sebagai istriku. Aku akan segera menemui ayahmu," jawab Gushtasp.

Keesokan harinya, Gushtasp pergi menghadap Sang Raja. "Maafkan aku, Yang Mulia," kata Gushtasp sambil bersujud. "Kedatanganku kemari kali ini, bukanlah untuk mencari pekerjaan, tapi untuk meminang puterimu."

"Kembalilah nanti malam." jawab Raja. "Kalau puteriku setuju kawin denganmu, kau akan diberi tanda."

Malam itu, Sang Raja mengundang para pejabat istana dan para tamu asing untuk menyaksikan apakah Katayun setuju dipinang oleh Gushtasp. Sesuai dengan adat di kota itu, bahwa jika seorang pemudi setuju dipinang oleh seorang pemuda, maka ia akan memberikan sekuntum bunga pada pemuda yang dipilihnya. Malam itu Katayun telah hadir di sana dengan membawa sekuntum bunga di tangannya. Sementara, Gushtasp duduk di deretan para tamu orang asing.

Setelah diberi aba-aba, Katayun mulai berjalan menuju para tamu, Ia akan meletakkan bunga itu pada salah seorang tamu yang hadir di situ. Suasana ketika itu cukup tegang juga. Akhirnya, sesuai dengan yang telah direncanakan, maka diletakkanlah bunga itu di pangkuan Gushtasp.

Gushtasp sangat gembira, karena Sang Puteri telah mengumumkan pilihannya di depan orang banyak.

Akan tetapi, Sang Raja tampak gelisah, karena ia berpikir, bukan Gushtasplah yang akan dipilih menjadi suami oleh puteri pertamanya, lalu ia memanggil Gushtasp untuk masuk ke sebuah ruangan khusus.

"Hai, anak muda! Sebelum kau bawa puteriku jadi istrimu, aku ingin tahu dulu siapakah kau sebenarnya, karena tidak mungkin puteriku kawin dengan rakyat biasa." tanya Sang Raja.

"O, Yang Mulia, meski aku tidak pernah memakai pakaian pangeran, tapi, sebenarnya aku ini adalah seorang pangeran Iran. Aku putera Raja Luhsrap." Jawab Gushtasp.

"Apa? Kau seorang Pangeran? Kalau begitu, bawalah puteriku," kata raja.

Sebelum Katayun dibawa ke Iran, raja memerintahkan untuk mengadakan pesta besar-besaran. Orang miskin diberi makan selama tujuh hari tujuh malam. Setelah pesta selesai, barulah, Katayun dibawa ke Iran, disertai dengan beratus-ratus unta yang berisi sutera, gading, permata, dan lain-lain.

Raja Lushrap sangat gembira, ketika melihat Gushtasp tiba di Iran, karena ia telah mendapatkan kembali puteranya yang selama ini menghilang. Terlebih lagi, puteranya telah membawa seorang puteri yang cantik dari Roma.
"O, anakku, aku sudah tua, tidak bisa lagi memikul urusan kerajaan ini. Aku minta kembalilah kau ke Iran, menggantikanku mengurus kerajaan ini."

Akhirnya, Gushtasp pun duduk di singgasana Gading Kai Kusrau menggantikan ayahnya. Ia hidup bahagia bersama Katayun sampai akhir hayatnya.


Sumber: Buku Kisah Anak-anak dari Asia Tengah "Anak Gadis Di Sarang Jin"
Penulis: Males Sutiasumarga 
Penerbit: Zikrul Hakim  - Jakarta

0 Response to "Kembalinya Si Anak Hilang"

Post a Comment