Kisah Anak Peri

kisah anak peri
Suatu hari, pada masa pemerintahan Raja Darius Yang Agung, ada seorang pangeran yang tersesat di tengah hutan. Di hutan itu, tinggal seorang peri yang cantik. Pertama kali melihatnya, Pangeran itu jatuh cinta kepadanya, dan mengajaknya untuk kawin.

"Tidak, aku tidak mau kawin denganmu," kata peri itu. "Karena kau seorang manusia. Jika suatu kali aku kembali lagi ke keluargaku, kau akan menderita.

"Tidak, tidak, aku tidak akan menderita, aku akan mengizinkanmu pulang ke keluargamu," kata pangeran itu. "Tapi aku yakin, kalau kau sudah tinggal di istana ayahku, kau pasti tidak akan pernah mau meninggalkannya,"

Akhirnya, Sang Pangeran berhasil membawa Peri itu ke istana ayahnya dan kawin dengannya. Semua orang sangat kagum dengan kecantikannya. Pangeran membawanya ke Istana Mutiara yang dibuat khusus untuknya. Dalam beberapa bulan mereka hidup dengan bahagia bersama-sama. Akan tetapi, Sang Pangeran mulai merasa bosan, tinggal terus-menerus di istana, maka ia memutuskan untuk berburu lagi.

Karena seringnya berburu, Sang Peri pun mulai sering ditinggalkan sendirian. Hal ini membuat Sang Peri ingat kembali pada keluarganya. Sementara, Sang Pangeran tidak mempedulikannya. Ia lebih tertarik pada teman-teman berburunya. Suatu hari, ketika peri sedang menangis di atas tempat tidur di kamarnya, tiba-tiba munculnya sesosok tubuh wanita berkerudung di kamarnya.
"Siapa kau?" tanyanya.

"Aku Ratu Peri, Anakku, Aku di sini untuk membantumu karena kulihat kau tidak bahagia. Selama kau masih menjadi istri manusia, kau tidak akan pernah bahagia."

"Ratu Peri," kata Peri itu sambil menangis." Mungkin aku tidak bisa kembali lagi pada keluarga kita, karena aku telah mengkhianati mereka." 
 
"O, tidak. Kau boleh kembali ke keluarga kami, tapi kau harus melahirkan anakmu dulu dan mengasuhnya selama lima tahun," kata ratu peri itu, kemudian menghilang.

Setelah beberapa bulan berlalu, lahirlah anak sang peri. Anak itu diberi nama Gulabi-Jan. Peri sangat sayang pada anaknya, hingga ia lupa akan janjinya pada ratu peri.

Ketika lima tahun berlalu, ratu peri menagih janjinya," Apakah kau sudah siap untuk kembali ke keluargamu?" tanya ratu peri.

"Tidak, ratu peri." Katanya sambil menangis. "Aku tidak ingin pulang sekarang."

"Kau tidak boleh mengingkari janji, peri." kata ratu peri itu, sambil merangkul peri dan membawanya pergi. Peri baru sadar ketika ia melihat dirinya telah berada di tengah hutan. Di sana, ia disambut oleh keluarganya dengan gembira.

Gulabi-Jan menangis ketika melihat ibunya tidak ada. Ia lari ke sana ke mari mencari ibunya. Untunglah ada pengasuh istana yang masuk ke kamar itu, sehingga ia bisa menenangkannya. Kabar hilangnya peri, lalu diberitahukan kepada pangeran ketika pulang berburu."

"Peri, peri! aku tidak akan pernah meninggalkanmu sendiri lagi! Kembalilah, aku akan mencarimu dan aku tidak akan membiarkanmu pergi." teriak pangeran dengan menyesal. Akan tetapi tidak ada jawaban.

Setelah beberapa tahun tidak ada kabar, Sang Pangeran pun lupa pada istrinya, Sang Peri. Ia menganggap bahwa istrinya sudah mati. Maka dari itu, ia kawin lagi dengan seorang wanita jahat, yang bernama Zorah. Istri barunya ini tidak sayang pada Gulabi-Jan. Apalagi setelah ia melahirkan seorang anak wanita yang diberinya nama Zebun, perhatiannya terhadap Gulabi-Jan semakin hilang. Gulabi-Jan disuruh bermain dengan anak-anak pembantu di dapur. Pakaiannya pun  tidak sebagus pakaian anak istri ayahnya yang baru. Sehari-harinya ia bermain di dapur dengan pakaian yang compang-camping.

Dari waktu ke waktu, Gulabi Jan tumbuh dengan wajah yang cantik, sedangkan Zebun tidak. Namun, pakaian Zebun bagus-bagus. Ia punya banyak boneka yang lucu-lucu. Sedangkan Gulabi-Jan, pakaiannya bekas-bekas, dan bonekanya hanya bikinan dari kayu yang dibuat oleh para juru masak di dapur istana. Akan tetapi, orang lebih suka pada Gulabi-Jan daripada Zebun, karena Zebun punya sifat yang jelek. Sang Pangeran tidak tahu banyak mengenai masalah ini, karena waktunya ia habiskan untuk berburu di hutan. Ia sangat terpukul sejak istrinya hilang. Ia tahu bahwa semua ini adalah kesalahannya.

Istri baru Sang Pangeran mulai merasa iri pada Gulabi Jan. Karena itu, ia merencanakan akan berbuat sesuatu yang akan membuat hidup Gulabi-Jan menderita. Ia menyuruh pembantunya Saifudin untuk membawa Gulabi Jan ke tengah hutan, dan meninggalkannya di sana, biar dimakan oleh serigala buas.

Gulabi Jan tidak tahu apa yang sedang dilakukan oleh Saifudin. Matanya ditutup dengan kain kasar dan ia dibawa dalam perjalanan yang jauh. Ketika membuka matanya, ia lihat ia sudah berada dalam kegelapan di tengah hutan. Hanya sinar rembulan di langit yang nampak olehnya. Ia menangis ketakutan, sambil menutupi badannya dengan jubah, karena kedinginan. Akan tetapi, tiba-tiba, ia mendengar suara nyanyian:
Akulah Peri yang sendiri dan sedih, karena telah meninggalkan anak kesayanganku, Gulabi Jan. 

Mendengar suara nyanyian itu, Gulabi Jan bangun dan berlari menuju arah suara itu, lalu ia berteriak," Hai, suara siapakah itu? Mengapa kau sebut-sebut namaku?"

Maka muncullah peri yang cantik. Ia mengatakan kepada Gulabi Jan bahwa ia adalah ibunya yang dulu pernah meninggalkannya selama beberapa tahun. Gulabi Jan sangat gembira. Demikian juga ibunya, karena bisa bertemu kembali.

Namun, tiba-tiba muncullah ratu peri. "Aku sangat senang melihatmu berkumpul lagi bersama anakmu, tetapi dia tidak dapat tinggal di sini bersama kita, karena ia separuh manusia dan dapat membawa kesulitan kepada kita."

"Ratu peri, kasihanilah kami, karena aku tidak dapat hidup sendirian di hutan ini, tanpa anakku dan ayahnya. Jadi bolehkah aku kembali lagi ke istana dan tinggal di sana seperti sebelumnya?" pinta peri sambil bersujud.

"O, peri yang malang, kata Ratu Peri."Tahukah kau apa yang telah terjadi di istana? Suamimu itu telah menikah lagi dengan seorang wanita jahat. Ia telah memperlakukan anakmu dengan tidak baik. Lihatlah, anakmu ada di sini. Semua ini karena ulahnya, ia ingin anakmu dimakan binatang buas."

"Oh, kejam sekali," kata peri. "Karena itulah, Aku tidak akan meninggalkan anakku lagi ke tangan manusia. Biarkanlah anak ini tinggal di sini bersamaku."

"Maafkan, peri, semua ini adalah kesalahanku yang membawamu kemari tanpa memperhitungkannya terlebih dahulu," kata Ratu Peri.

"Baiklah kalau begitu, kau boleh kembali lagi bersama suami dan anakmu, tapi ingat, tunggu sampai suamimu yang mencari ke mari untuk melihat, apakah ia masih membutuhkanmu atau tidak. Kalau ia memang membutuhkanmu, aku merelakan kau keluar dari keluarga peri dan ikut bersama keluarga manusia."

Peri sangat bersyukur atas kebijaksanaan yang telah diambil oleh ratu peri. Namun, belum sempat ia mengucapkan rasa terima kasih, Ratu Peri telah menghilang. Peri dan anaknya sangat gembira. Ketika Gulabi Jan sedang bermain-main, ia mendengar suara pemburu, pasti itu ayah," teriaknya.

"Ya," jawab peri, lalu mereka menunggu sampai pemburu itu mendekat.

Ternyata benar, pemburu yang datang itu adalah ayah Gulabi Jan. Mereka sangat gembira bisa berkumpul kembali, dan Sang Pangeran sangat marah ketika mendengar cerita tentang perlakuan istri keduanya terhadap Gulabi Jan. Setelah menempuh perjalanan tiga hari, akhirnya mereka tiba di istana. Peri dan Gulabi Jan masuk ke dalam kamar di Istana Mutiara.

Melihat kedatangan peri dan Gulabi Jan, Zorah sangat marah," Akan kusiram mereka dengan air panas!" katanya kepada Zebun. Kemudian ia dan anaknya berlari menuju sumur, mengambil air untuk dimasak. Tapi, karena tidak hati-hati, mereka terpeleset dan tercebur ke dalam sumur, hingga  tenggelam. Sementara itu, Pangeran, Peri dan Gulabi Jan hidup dengan bahagia sampai akhir hayat mereka.

Sumber: Buku Kisah Anak-anak dari Asia Tengah "Anak Gadis Di Sarang Jin"
Penulis: Males Sutiasumarga 
Penerbit: Zikrul Hakim  - Jakarta

0 Response to "Kisah Anak Peri"

Post a Comment