Kisah Anak Tukang Sepatu

Kisah anak tukang sepatu
Gubernur Bukhara pernah mengirim seorang pemburu ke hutan untuk memburu dan membunuh seekor singa. Akan tetapi, setelah ditunggu beberapa hari, pemburu itu tidak kembali lagi. Ia menduga pasti telah terjadi sesuatu pada pemburu itu, lalu ia mengirim dua orang pemburu lagi untuk mencarinya, tapi mereka pun ternyata tidak kembali. Akhirnya ia mengirim pasukan berkuda ke hutan itu. Mereka diperintahkan untuk mencari orang-orang yang hilang itu di pelosok-pelosok hutan. Anehnya, pasukan itu pun hilang, tidak kembali. Berita hilangnya orang di hutan itu telah tersebar ke seluruh penjuru negeri itu, sehingga tak ada seorang pun yang berani mendekat, apalagi masuk ke hutan itu.

Setelah beberapa tahun berlalu, suatu hari, Gubernur itu berniat untuk merobah agar orang tidak takut lagi pergi ke hutan itu, maka dibuatlah sebuah pengumuman yang ditujukan kepada seluruh penduduk. Isi pengumuman itu itu adalah bahwa Gubernur akan memberikan hadiah yang besar bagi siapa saja yang dapat masuk ke hutan itu.

Pada masa itu, hiduplah seorang tukang sepatu. Anaknya bernama Hasan. Suatu malam, Hasan berkata pada ayahnya," Yah, aku mau ikut sayembara yang diadakan oleh gubernur. Karena itu, aku minta ridha dari ayah."

Meski hatinya berat, akan ditinggal oleh anaknya, Tukang Sepatu itu pun mengizinkan anaknya pergi. Istri Tukang Sepatu itu telah lama tiada. Hanya Hasanlah satu-satunya yang ia miliki di dunia ini.

Di istana, Hasan bertemu dengan penjaga pintu gerbang. "Hai, anak tukang sepatu, mau apa kau kemari? Mau memperbaiki sepatu Gubernur?" sapa penjaga itu.


"O, tidak,tidak! Aku kemari mau ikut sayembara" jawab Hasan.

"Hah! mau ikut sayembara? Apa tidak salah?" kata penjaga itu sambil tersenyum.
"Kalau begitu, temuilah komandanku, dia akan mengantarkanmu pada gubernur.

"Hai anak muda, apa yang kau inginkan?" sapa gubernur.

"Aku Hasan, anak si Tukang Sepatu, aku akan ikut sayembara ini." jawab Hasan.

"Baiklah kalau begitu, aku kagum dengan keberanianmu," puji gubernur itu."Kepala penjaga, beri dia pedang, rompi dan perisai yang kuat dan bagus."

Setelah menggunakan pelindung, Hasan keluar dari istana. Ia tiba di hutan pada malam hari. Ternyata, di dalam hutan itu ada sebuah benteng. Ia bermaksud membuat api unggun di sana. 

Ketika sedang mengumpulkan kayu untuk dibakar, ia mendengar ada suara yang memanggilnya dari belakang, "Hai manusia, bolehkah aku menemanimu, menghangatkan diri di dekat api unggunmu?"

"O, ten..ten .. tu saja," jawab Hasan dengan gemetar, karena takut. Dalam hatinya, Hasan berharap bahwa yang diajaknya itu bukanlah jin jahat, karena kata penduduk, di hutan itu banyak jin jahatnya. Dari belakang tembok itu, muncullah seekor ular naga besar. Sisiknya terbuat dari emas dan berkilap. Matanya hitan dan pekat.

Hasan mundur ketakutan ketika ular itu menuju kearahnya, tetapi dengan suara yang lembut seperti seorang gadis, ular itu berkata,"Jangan takut, karena aku bukan ular sungguhan, tetapi seorang gadis yang diubah menjadi ular oleh seorang penyihir. Suatu hari, ketika aku sedang bermain bermain suling di jendela, lewatlah seorang tukang sihir. Saat itu aku sedang tidak memakai kerudung. Ketika melihatku, ia memaksaku untuk pergi dan kawin dengannya. Tentu saja aku tidak mau, lalu aku tutup jendelaku dan aku lari ke arah ibuku untuk memberitahukannya. Tapi, dengan cepat makhluk jahat itu merobahku menjadi seekor ular, kemudian pergi. Ketika pengasuhku kembali ke kamar membawa segelas minuman yang aku pesan, ia menjerit, karena ia tidak tahu bahwa ular itu adalah aku, lalu ia pukul aku dengan bambu. Akhirnya, aku lari ke dalam hutan ini, karena tempat inilah yang aku kira tepat untuk menghabiskan sisa-sia hidupku.."

"Oh, gadis yang malang," ucap Hasan. "Kalau begitu, ikutlah bersamaku mencari singa, sambil mencari sesuatu yang mungkin bisa membebaskanmu dari sihir ini."

"O, ya Hasan," ucap Ular itu, "Karena aku akan ikut dalam perjalananmu, aku akan beritahukan dahulu kepadamu tentang harta yang ada di bawah reruntuhan itu. Mungkin bisa kita gunakan. Aku bisa menemukan emas dan permata itu, karena bentuk tubuhku seperti ular, jadi bisa masuk ke dalam reruntuhan itu."

Hasan sangat senang mendengar berita itu, tetapi ia memutuskan untuk tidak membawa harta itu sebelum dapat membunuh singa itu. Lalu ia tandai tempat itu dengan sebuah batu, dan ia pergi meninggalkan tempat itu dengan membawa ular yang ia lingkarkan di lehernya. Mereka tiba di sebuah air mancur ketika panas mulai menyengat. Di bawah air mancur itu terdapat sebuah batu besar.

Ketika sedang membasahi bibirnya yang kering dengan air, Hasan mendengar sebuah suara raungan. Lalu, ia lihat ke sekelilingnya. Ternyata, ada seekor singa besar sedang mengibas-ngibaskan ekornya.

"Hai manusia," teriak singa itu, "Apa yang kau lakukan di daerah kekuasaanku ini? Apakah kau tidak pernah mendengar tentang kebiasaanku yang suka membunuh manusia yang aku temui. Aku sudah membunuh pemburu gubernur, pasukan gubernur dan sekarang tibalah giliranmu."

"Hai Singa yang baik," jawab Hasan, "Jangan bunuh aku, aku punya cerita menarik untukmu. Ular ini bukan binatang biasa. Dia adalah seorang gadis yang disihir. Sekarang aku sedang mencari obat penawarnya."

Aku punya salep rahasia yang aku peroleh dari seorang tukang sihir yang pernah aku selamatkan hidupnya. Salep ini dapat mengembalikan manusia yang telah diubah oleh sihir ke bentuk seperti semula." kata singa itu.

Lalu singa itu mengambil salep itu dengan cakarnya, dan mengoleskannya ke kepala ular itu. Seketika itu juga keluarlah segumpal asap dan aroma belerang yang kuat. Ular yang mengkilap itu menghilang sekejap dan berubah menjadi seorang gadis langsing berkerudung dan berpakaian serba sutera. "Terima kasih banyak," ucap ular itu.

Sekarang kau telah kembali kebentuk asalmu, aku harus mengurungmu dan anak muda itu ke dalam kurangan agar kalian menjadi gemuk, dan siap untuk kumakan." ucap singa itu.

"O, jangan bunuh kami," teriak gadis itu, tetapi singa itu tidak mendengarkan ucapan gadis itu. Lalu ia masukkan keduanya ke dalam kurungan kayu.

"Sahabatku,"bisik Hasan," Maaf, aku tidak dapat membunuh singa itu."

"Jangan takut Hasan," jawab gadis itu. "Ambillah ikat pinggang perak yang ada di pinggangku. Kalau nanti singa itu akan mengambil kita, lempar ikat pinggang itu ke lehernya dan cekik dia."

Sudah tiga hari, singa itu meletakkan makanan untuk mereka melalui terali kayu. Pada hari keempat, ketika singa itu merasa lapar, dan datang ke pintu kurungan kayu itu untuk membukanya, dengan cepat Hasan melemparkan ikat pinggang perak itu pada ke lehernya. Dengan sekuat tenaga Hasan mencekik singa itu. Akhirnya singa itu pun mati. Lalu ia mencabut pedang yang ada di dekatnya, dan langsung memotong kepala singa itu. Ia bungkus  kepala itu dengan jubahnya. Ia ingin membuktikan kepada Gubernur bahwa ia telah membunuh binatang buas yang menakutkan itu. Sebelum pulang, ia mampir ke tempat persinggahannya pertama untuk mengambil harta yang mereka tinggalkan.

Ketika Hasan dan gadis itu tiba di istana dengan membawa kepala singa dan harta, semua orang mengucapkan rasa kekagumannya. Gubernur memerintahkan untuk memberikan jubah kemuliaan dan hadiah berupa emas kepada Hasan. Oleh Hasan, hadiah itu dibagikan kepada orang miskin. Hadiah utama yang akan diberikan kepada yang berhasil masuk hutan dan membunuh singa adalah sebuah karpet usang. Hasan dan gadis diarak keliling kota. Ketika arak-arakan itu tiba di rumah Tukang Sepatu, karpet itu diletakkan di lantai luar, karena lantai dalam rumah Tukang Sepatu itu sangat sempit.

Gadis itu lalu turun dari kuda dan memberikan sebahagian harta yang mereka temukan di bawah reruntuhan kepada ayah  Hasan. Tukang Sepatu tua itu menitikkan air mata, karena sekarang ia tak usah bekerja sebagai tukang sepatu lagi.

Hasan dan gadis itu berdiri bersama-sama di atas karpet itu. Dan, anehnya, ketika gadis itu mengatakan bahwa betapa enaknya, jika ia kembali ke rumahnya dan melihat kedua orang tuanya lagi., tiba-tiba karpet itu bergerak ke udara dan terbang, dan di suatu tempat, karpet itu tampak turun sedikit demi sedikit. Lalu gadis itu berteriak,"Lihat, lihat, itu ayah dan ibuku sedang berjalan di kebun bunga."

Kemudian, mereka turun di kebun bunga itu. Ayah gadis itu, yang bekerja sebagai pedagang, tidak percaya melihat anaknya kembali setelah menghilang selama lima tahun. Akhirnya mereka pun melangsungkan pernikahan, dan tinggal di Khurasan dengan bahagia.

Sumber: Buku Kisah Anak-anak dari Asia Tengah "Petualangan Habib Bin Habib"
Penulis: Males Sutiasumarga 
Penerbit: Zikrul Hakim (Divisi Zikrul Kids) - Jakarta Timur

0 Response to "Kisah Anak Tukang Sepatu "

Post a Comment