Mencari Jejak Sang Ayah

Suatu hari, Rustam, pahlawan besar dari Persia pergi berburu. Begitu semangatnya mengejar singa, ia tidak sadar bahwa telah jauh meninggalkan kudanya, Rakhsh. Kuda itu ia tambatkan pada sebuah pohon. Setelah berhasil membunuh singa itu, ia letakkan singa di pundaknya dan ia kembali ke tempat kudanya diikat. Ketika sampai di sana, ternyata kudanya telah hilang dan tali pengikatnya sudah putus. Lalu, ia cari kuda itu dengan mengikuti jejaknya. Sampai malam tiba, kuda itu belum juga ditemukan olehnya. Sementara tenaganya sudah mulai habis, akibat beratnya mengendong singa yang baru diburunya itu. Akhirnya, ia putuskan untuk beristirahat di kaki gunung, dan membuat api unggun di dekatnya.

Tanpa diduga, nyala api unggun itu terlihat oleh para pembantu seorang bangsawan yang berkuasa di daerah itu. Para pembantu itu, kemudian mengadukan hal tersebut kepada majikannya. Mendengar kabar itu, lalu sang majikan menyuruh mereka untuk menemui Rustam dan mempersilakannya tinggal di rumahnya. Di sana, Rustam dijamu dengan baik oleh bangsawan itu. Sementara, para pembantunya disuruh mencari kuda Rustam yang hilang.

"Selamat datang di rumah kami, Tuan," sapa bangsawan itu. "Beristirahatlah dulu disini, kudamu akan segera kami temukan selama masih dalam daerah kekuasaan kami."

Mendengar kata-kata bangsawan itu, Rustam agak tenang, karena ia sangat sayang pada kuda itu. Ia akan memberikan apa saja yang ia miliki, asal kuda itu dapat kembali dengan selamat.

Di rumah bangsawan, yang bernama Samagan itu, Rustam dihibur sampai pagi hari. Setelah itu, barulah ia masuk ke kamar tidurnya, yang telah dipersiapkan oleh seorang gadis budak hitam milik Bangsawan itu.

"Tidurlah yang enak, Tuan. Mudah-mudahan Tuan mimpi yang indah! Jangan bersedih, karena kuda Tuan akan segera dibawa kembali oleh para pembantu majikanku," kata budak hitam yang cantik itu.

Rustam sangat kagum dengan kecantikan serta kata-kata budak hitam itu, kemudian ia bertanya," Siapa yang menyuruhmu mempersiapkan semua ini?"

"Anak perempuan Tuan Samagan, yaitu Nona Tahmina. Ia menguasai ilmu gaib dan ilmu sihir. Ibunya adalah seorang peri, tapi ia telah kembali pada keluarga peri, setelah Nona Tahmina dilahirkan, karena perkawinannya dengan manusia tidak membuat hidupnya bahagia. Ia tidak memahami kehidupan manusia." kata gadis budak hitam itu sambil mematikan lampu.

Rustam yakin bahwa Tahmina yang mempunyai kekuatan gaib tahu bagaimana nasib kudanya , Rakhsh. Akhirnya ia tertidur  dengan lelap. Ternyata benar, apa yang dikatakan oleh gadis budak itu. Pada waktu pagi, ketika bangun dari tidurnya, ia mendengar ringkikan kuda dari jendelanya.

Rustam sangat kagum dengan kekuatan gaib yang dimiliki oleh Tahmina. Maka ia bermaksud untuk bertemu dengan Tahmina, dan meminta kepadanya, agar ia mau kawin dengannya. Permintaan itu ia sampaikan pada Samagan.

"Hai, Tuan yang baik, suatu kehormatan bagi kami, jika Tuan mau bertemu dengan anak perempuan kami. Tuan bisa menemuinya pada pesta malam ini." kata Samagan.

Rustam berusaha untuk bisa bertemu dan berbicara panjang dengan Tahmina pada pesta malam itu, agar ia dapat mengutarakan isi hatinya, tapi tampaknya suasananya tidak mengizinkan. Barulah setelah pesta selesai, dan para tamu bubar. Ia dapat kesempatan mendekati Tahmina. Ketika itu, ia bertanya apakah Tahmina mau menjadi istrinya, tapi Tahmina hanya tersenyum. Hal ini membuat Rustam jadi penasaran. Maka, ketika Tahmina berjalan hendak kembali ke kamarnya, Rustam menarik tangannya. Ia meminta agar Tahmina menjawab pertanyaannya.

Namun, apa yang terjadi? Ketika Rustam memegang tangannya, Tahmina berubah menjadi seekor kucing buas dengan posisi yang siap mencakar Rustam. Tapi ketika Rustam melepaskan pegangannya, Tahmina berubah lagi menjadi seorang wanita.

"Ini untuk yang ketiga kali aku tanyakan padamu, maukah kau menjadi istriku?" tanya Rustam.

Ketika Rustam memegang tangannya lagi, Tahmina berubah menjadi seekor ular hitam besar yang siap melilitnya. Dan ketika Rustam melepaskan pegangannya, Tahmina berubah lagi menjadi seorang wanita.

Rustam terus bertanya dengan pertanyaan yang sama, dan Tahmina terus berubah-rubah ketika tangannya dipegang oleh Rustam. Adakalanya berubah menjadi singa, kemudian menjadi kijang, dan lain-lain. Melihat keuletan Rustam, akhirnya Tahmina menerima permintaan Rustam," Baiklah aku setuju kawin denganmu. Mari kita rayakan perkawinan kita."

Rustam dan Tahmina merayakan perkawinan mereka dengan membagi-bagikan ribuan koin emas kepada orang miskin. Selain itu, juga Rustam memegang jimat di tangannya, agar perkawinan mereka tidak diganggu oleh jin-jin jahat.

"Suamiku, Rustam," kata Tahmina."Aku akan meninggalkan semua kekuatan gaib dan ilmu sihirku pada perkawinan ini, karena aku sudah jadi istrimu, maka pedangmulah yang akan menjagaku sekarang, bukan mantera-mantera dari ibuku."

Setelah pesta selama tujuh hari tujuh malam, Rustam membawa Tahmina ke rumahnya. Setahun berikutnya, lahirlah seorang anak yang diberi nama Suhrab. Namun, kelahiran anak tidak dihadiri oleh ayahnya, karena Rustam sedang pergi ke medan perang mempertahankan Kerajaan Iran.

Hal itu terjadi sampai Suhrab berumur empat belas tahun. "Bu, di manakah Ayah? Sudah bertahun-tahun ia tidak pulang ke rumah? Bolehkah aku mencarinya?" tanya Suhrab.

Mendengar pertanyaan anaknya, Tahmina menangis. Lalu, sambil meletakkan sebuah jimat pada tangan kanan anak laki-lakinya itu ia berkata,"Ayahmu sedang bertempur membela kerajaan sejak kau lahir, kalau kamu mau mencarinya, pergi saja ke daerah Chin, di sanalah sekarang tentara kerajaan berada."

Setelah mendapat restu dari ibunya, akhirnya Suhrab pun pergi mencari ayahnya. Di dalam perjalanan, Suhrab mendapat kabar bahwa Raja Chin telah kalah dan prajurit Iran yang menang akan kembali ke tanah airnya. Mendengar hal itu, lalu Suhrab segera pergi ke perkampungan prajurit dan menanyakan kepada setiap orang di mana Rustam berada. akan tetapi, karena takut Suhrab itu mata-mata, semua orang yang ditanyai mengatakan bahwa Rustam tidak ada di sana.

Hari berikutnya, Suhrab datang lagi. Ia masih penasaran kalau belum bertemu dengan ayahnya, dan ia yakin bahwa ayahnya ada di perkampungan itu. "Hai siapa kau, berani-beraninya berjalan di perkampungan prajurit dan mencari Rustam. Apakah kau bangsawan?" tanya seorang prajurit.

"Aku adalah anak Rustam. Ia telah meninggalkanku ibuku dan aku sejak aku lahir untuk pergi ke medan perang mempertahankan Kerajaan Iran."

"Apa buktinya bahwa kau anak Rustam?" tanya prajurit itu tidak percaya.

"Lihatlah jimat ini yang dipasang ibuku di tanganku," kata Suhrab."Ini milik ayahku yang ia berikan padanya pada waktu hari pernikahannya."

Barulah prajurit itu yakin bahwa itu aalah anak Rustam, karena prajurit itu sendiri ternyata orang yang dicari-cari oleh Suhrab, yaitu Rustam ayahnya. Lalu, Rustam memeluk anaknya. Pada hari berikutnya, mereka pun kembali ke rumah. Tahmina sangat senang bertemu lagi dengannya, setelah lama berpisah.


Sumber: Buku Kisah Anak-anak dari Asia Tengah "Anak Gadis Di Sarang Jin"
Penulis: Males Sutiasumarga 
Penerbit: Zikrul Hakim  - Jakarta

0 Response to "Mencari Jejak Sang Ayah"

Post a Comment