Nasib Sang Putri dan Keledainya

Nasib Sang Putri dan Keledainya
Dikota Ispahan, bertahun-tahun yang lalu. Ada seorang raja yang agung dan mulia. Ia punya seorang anak wanita yang cantik. Namanya Noor Chusham. Rambutnya hitam. Wajahnya seperti bulan purnama. Semua pakaiannya terbuat dari sutera. Bajunya selalu berbeda-beda setiap jam dan perhiasannya selalu berganti setiap hari. Namun, dia sama sekali tidak merasa bahagia. Apa yang menyebabkannya demikian? Keledai, seekor keledai, itulah yang diinginkannya.

"Keledai? Kamu mau punya keledai, seperti rakyat biasa. Tidak, tidak!" bentak sang raja, lalu pergi meninggalkan putrinya.

Melihat sikap ayahnya yang demikian, Noor Chusham lalu pergi menemui bibinya. Lalla Ruk namanya.
"Bagaimana ya, Bi, caranya agar ayah mau menyetujui permintaanku, karena aku ingin sekali mempunyai keledai."

Bibi Lalla Ruk hanya tersenyum. Sambil memegang jari sang puteri, ia berkata,"Datanglah kepadaku tiga hari lagi, aku akan menolongmu."

Noor Chusham gembira sekali mendengar janji bibinya. Ditunggunya hari demi hari dengan tidak sabar, akhirnya tibalah ia pada hari yang dinanti-nantikan.
"Sekarang, kau harus tahu," kata Lalla Ruk memulai ceritanya." Sebenarnya aku bukanlah manusia biasa. Aku adalah jin wanita. Aku punya mantera-mantera yang dapat merubahku menjadi manusia secara sempurna. Karena itulah, aku bisa kawin dengan saudara laki-laki sang raja beberapa tahun lalu, dan berhubungan dengan makhluk-makhluk gaib lain. Tapi, untuk itu aku butuh tiga hari untuk mengingat-ingat kembali manteranya."

Lalu, Lalla Ruk membolak-balikkan telapak tangannya di atas asap, yang keluar dari sebuah tungku yang terletak di tengah-tengah ruangan. Dari tungku yang berisi batubara menyala itu juga tercium bau bakaran kemenyan yang sangat kuat.

Bi, bi, apa yang sedang kau lakukan?" bisik Noor Chusham.

"Tenang saja. Duduklah di sana, aku sedang membaca mantera-mantera." jawab Lalla Ruk sambil komat-kamit. Saat itu pula, muncul dari tungku itu sebuah gumpalan asap. Gumpalan itu makin membesar, hingga membentuk sosok jin raksasa. Jin itu memakai gelang tembaga berkilat di tangannya dan manik-manik zamrud panjang di telinganya.

"Hai, manusia, mengapa kau ganggu tidurku." kata jin itu.

"Aku ingin minta bantuanmu. Bisakah kau membantuku? Bukankah kau jin yang pintar," Pinta Lalla Ruk memuji Jin itu.

Jin itu memang sangat suka dipuji. Karena itu, ketika Lalla Ruk memujinya, ia tertawa dan tampak taringnya yang panjang.

"Buatlah suasana di istana menjadi kacau. Suruhlah tikus-tikus bermata merah berlarian di semua kamar wanita, kelelawar-kelelawar beterbangan di sekitar singasana kerajaan, kucing-kucing buas mengeong bersahut-sahutan, burung-burung hantu bertengger di semua jendela dan burung-burung beo mengoceh pada saat sang Raja tidur di waktu malam. Mengertikah kau, hai, jin yang pintar?"

Dalam waktu yang tidak begitu lama, suasana di istana pun mulai hiruk pikuk. Para wanita berlarian kesana kemari, berteriak-teriak pada penjaga istana, sambil mengatakan bahwa banyak tikus bermata merah berkeliaran di kamar-kamar mereka. Para penjaga istana pun berdatangan satu per satu, membawa pisau dan karung untuk menangkap tikus-tikus itu. Sementara itu, para pengawal raja pun sibuk menangkapi kelelawar yang berkeliaran di sekitar singasana.

Demikian pula pada malam harinya, semua penghuni istana tak dapat tidur. Kucing-kucing buas mengeong bersahut-sahutan, burung-burung hantu bertengger di semua jendela, dan burung-burung beo mengoceh dengan ributnya. Meski sang raja berusaha mencari tempat yang aman untuk tidur, tetap saja usahanya sia-sia. Semuanya menjadi kacau, pagi hari berikutnya, kembali lagi tikus-tikus dan kelelawar-kelelawar itu muncul.

Melihat suasana seperti itu, akhirnya sang raja memanggil Lalla Ruk."Aku heran, mengapa suasana di istana jadi begini? Apa kau tahu penyebabnya?" tanya raja pada Lalla Ruk.

"Maaf, Yang Mulia. Mudah-mudahan hamba bisa menemukannya, tapi beri hamba waktu tiga jam untuk mencari tahu penyebabnya."Jawab Lalla Ruk pura-pura tidak tahu.

Lalla Ruk lalu keluar dari istana dengan menggunakan tandu tertutup yang dibawa oleh empat orang budah hitam berbadan tegap dan tinggi menuju pasar Ispahan. Setelah sampai di pasar, ia langsung menuju tempat penjualan keledai. Semua orang yang ada disana terkagum-kagum melihatnya, karena wanita terhormat itu mengenakan jubah bersulam yang gemerlapan. Lalla Ruk membeli seekor keledari berbulu halus dan gemuk serta berkuping panjang. Keledai itu ia bawa ke istana dan ia serahkan kepada seorang pengurus kuda istana.

Setelah tiga jam, sang raja memberi perintah semua penghuni istana berkumpul. Namun, ia sangat terkejut ketika melihat Lalla Ruk hadir membawa seekor keledai.

"Hai, Lalla Ruk, berani-beraninya kau membawa keledai ke istana ini?" teriak raja dengan marah.

"Yang Mulia," Kata Lalla Ruk menghadap."Kalau tuan ingin suasana di istana ini menjadi tenang kembali, biarkanlah Noor Chusham memiliki keledai ini, karena keledai inilah yang akan membuat suasana menjadi tenang."

Akhirnya, Sang Raja mengikuti apa yang dinasehatkan oleh Lalla Ruk. Ia memberikan itu kepada puterinya, dan suasana di istana pun menjadi tenang. Tidak ada lagi tikus-tikus di kamar, kelelawar-kelelawar di singasana, dan burung-burung hantu di jendela. Tidak ada lagi suara-suara kucing yang bersahut-sahutan dan burung-burung beo yang berkata-kata.

Semua penghuni istana gembira bukan kepalang, Demikian pula sang puteri, karena apa yang diimpi-impikannya, kini telah menjadi kenyataan. Karena gembiranya, lalu ia rangkul dan cium leher binatang kesayangannya itu. Ketika semua orang terpesona menyaksikan saat-saat yang berbahagia itu, keledai itu menyepak-nyepakkan kakinya tinggi-tinggi ke atas dan meringkik seperti binatang gila di depan singasana kerajaan. Lalla Ruk bangun dari tempat duduknya, dan puteri Noor Chusham menghindar ketakutan.

"Pengawal!" teriak panglima pada pengawalnya.
"Tangkap binatang itu. Kalau tidak, ia akan menendang sang raja."
Namun, panglima itu berhenti memerintahkan para pengawalnya, ketika melihat tubuh binatang yang berbulu dan berwarna abu-abu itu terkulai ke lantai.

"Oh, keledai kesayanganku! Apa yang terjadi?" kata Noor Chusham dengan nada sedih.

Tiba-tiba dari dalam kulit keledai itu muncullah seorang anak muda yang ramping dan ganteng, mengenakan baju bangsawan yang mahal harganya.

"Terima kasih, tuan puteri," katanya dengan sopan. "Kau telah membebaskanku dari sihir yang telah mengubahku menjadi keledai selama dua puluh tahun ini. Kalau kau tidak menciumku, sihir itu tak akan hilang."

Semua orang sangat gembira melihat kejadian itu. Sebelum kembali kerumahnya, anak muda itu membeli seekor keledai untuk diberikan kepada Noor Chusham sebagai hadiah, dan juga uang dan baju untuk diberikan kepada semua orang miskin di Ispahan sebagai rasa syukur atas pembebasannya.

Sumber: Buku Kisah Anak-anak dari Asia Tengah "Petualangan Habib Bin Habib"
Penulis: Males Sutiasumarga 
Penerbit: Zikrul Hakim (Divisi Zikrul Kids) - Jakarta Timur

0 Response to "Nasib Sang Putri dan Keledainya"

Post a Comment