Brayut

brayut
Pada Zaman dahulu, hidup suami istri petani miskin yang dijuluki dengan nama Brayut, karena mempunyai banyak anak, sehingga bila pergi ke mana-mana selalu repot membawa anak-anaknya. Jumlah anaknya itu ada empat belas orang. Dapat dibayangkan bagaimana repotnya mengasuh dan memberi makan anak-anaknya. Di samping itu anak-anaknya selalu mengganggu bila ia sedang bekerja. Tidak heran pula apabila kedua suami istri itu jarang mendapatkan bagian makanan karena selalu saja habis oleh anak-anaknya. Muka suami istri itu terlihat pucat.

Di antara kelimabelas anaknya ada salah seorang yang paling disayangi, yaitu si Bungsu. Walaupun sangat disayang oleh kedua orangtuanya, si Bungsu tidak manja. Malahan sebaliknya, ia sangat menyayangi kakak-kakanya. Yang sangat disayangkan bahwa suami istri tidak menyayangi anak-anaknya yang lain. Hal ini dapat dimengerti mengingat petani itu sudah tidak mampu lagi mendidik anaknya yang terlampau banyak, sehingga menjadi anak nakal dan cerewet. Hanya si Bungsu yang berkelakuan lain. Ia pendiam dan penuh kasih sayang.

Kejadian sehari-hari yang sangat menjengkelkan hati kedua suami istri bila saat makan tiba. Anak-anaknya yang lain selalu melahap habis semua makanan tanpa mengingat kepada orang tuanya dan si Bungsu. Terpaksa mereka bertiga menahan lapar. Bila keempat belas anak itu terlihat sudah tidur, istri petani itu mulai menanak nasi lagi. Namun tidak jarang si Bungsu membangunkan kakak-kakaknya, untuk ikut serta makan. Bila hal ini terjadi tentu mereka bertiga tak kebagian makan lagi. Namun, si Bungsu rela tidak makan karena kasihnya kepada kakak-kakaknya. Hal yang seperti inilah yang menimbulkan suami istri itu berpikiran buruk. Empat belas anaknya akan dibuang.

Telah direncanakan masak-masak pembuangan ke empat belas anaknya itu, mereka akan ditipu. Tentu saja si Bungsu tahu akan rencana kedua orang tuanya. Pagi-pagi benar, mereka anak beranak itu berangkat ke hutan. Di tengah hutan ada pohon sawo yang berbuah lebat sekali. Mereka lalu asyik memanjat pohon sawo dan mengumpulkan buah itu di keranjang. Waktu mereka asyik mengumpulkan buah sawo, dengan diam-diam suami istri petani beserta si Bungsu meninggalkan mereka.

Dalam perjalanan pulang, si Bungsu menjatuhkan batu-batu kecil dari kantung bajunya. Batu-batu itu dipersiapkan dari rumah untuk petunjuk kakak-kakaknya agar bisa pulang. Setelah siang hari empat belas bersaudara itu merasa lapar. Mereka mencari kedua orangtuanya, namun tidak ada. Sambil menangis mereka mereka mencari jalan pulang, untunglah mereka mengikuti batu-batu kerikil yang ditaburkan oleh si Bungsu sehingga mereka dapat sampai di rumah. Orang tua mereka sedih hatinya. Kejadian seperti biasa terulang kembali.

Rencana pembuangan yang kedua segera dilaksanakan. Kali ini rencana lebih masak. Daerah yang dipilih untuk membuang anaknya itu adalah hutan yang ditumbuhi pohon buah-buahan. Berjenis-jenis buah tumbuh di sana, menyebabkan petani itu tega membuang anaknya. Dia berpikir bahwa anaknya tidak akan mati kelaparan. Agar rencananya berhasil, kedua orang tua itu tidak memberitahukan rencananya kepada si Bungsu.

Waktu keberangkatan yang dipilihnya tengah hari dengan perhitungan bila hari telah senja, anak-anak itu tentu kehilangan arah. Setelah mengetahui rencana orang tuanya akan pergi ke hutan. Si Bungsu lalu mengetahui maksudnya, maka cepat-cepat ia mengambil segenggam jagung yang akan digunakan sebagai petunjuk kakak-kakaknya nanti. Karena tidak sempat mengumpulkan batu. Ketika tiba di hutan yang penuh buah, anak-anak itu amatlah senang. Mereka memetik buah yang disukainya. Begitu asyiknya mereka. Sehingga tidak tahu bila mereka telah ditinggal pergi. Demikianlah si Bungsu berjalan sambil menyebar jagung yang dibawanya.

Alkisah, keempat belas anak yang berada di tengah hutan tidak bisa pulang. Malam hari mereka tidur diatas pohon. Mereka saling tolong menolong ketika memanjat pohon.

Keesokan harinya, mereka mengumpulkan buah-buahan lagi dengan maksud akan dibawa pulang. Namun mereka tidak menemukan jalan untuk pulang. Jagung yang di jatuhkan oleh si Bungsu di makan burung. Mereka berjalan tak tentu arah, hingga sampailah di pinggir hutan. Ketika itu hari telah malam. Dari pinggir hutan itu terlihat seberkas sinar pelita dari kejauhan. Mereka berpikir bahwa sinar itu berasal dari rumah penduduk. Akhirnya diputuskan untuk berjalan ke arah datangnya sinar.

Setiba di sana, mereka memberanikan diri untuk mengetuk pintu. Tak lama kemudian pintu dibukakan oleh orang tinggi besar. Ternyata penghuni rumah itu adalah suami istri raksasa. Mereka tampak amat kejam namun baik hati.

Sejak malam itu, empat belas bersaudara dipelihara oleh raksasa. Mereka hidup menderita, namun tidak kekurangan makanan. Pagi-pagi sekali mereka harus bangun membantu pekerjaaan raksasa. Anak laki-laki membantu pekerjaan di ladang dan anak-anak wanita membantu pekerjaan di rumah.

Mula-mula pekerjaan dirasakan sangat berat terutama bagi laki-laki, karena ladang yang dikerjakan oleh raksasa itu hampir seluruh lereng bukit. Tangan mereka luka-luka bekas memegang cangkul, namun tak boleh beristirahat sebelum selesai. Demikian pula anak wanita, mereka membersihkan rumah, perabot rumah dan alat-alat masak yang besar-besar. Tetapi lama-kelamaan hal ini menjadi biasa. Sekarang mereka tumbuh menjadi anak yang rajin serta sehat-sehat.

Alkisah, si Bungsu yang hidup bersama kedua orang tuanya tumbuh besar seorang gadis yang amat cantik. Sifatnya masih seperti dulu, suka menolong, rendah hati dan baik budi. Semenjak dia hidup tanpa saudara-saudaranya, ia tampak makin pendiam. Karena sifatnya yang baik budi serta kecantikannya itu, maka ia dipersunting oleh raja muda untuk dijadikan permaisuri.

Pada waktu itu kerajaan si Bungsu diserang oleh musuh yang amat kuat. Kerajaan si Bungsu kalah, sehingga menjadi jajahan musuh yang amat kejam. Kerajaan si Bungsu kini menjadi kerajaan yang amat miskin. Rakyatnya kekurangan pangan. Hal ini terdengar oleh empat belas saudara yang hidup di lereng gunung. Mereka terkenal karena kekayaannya dan suka menolong. Si Bungsu mengirim utusan  ke sana untuk minta bantuan. Empat belas bersaudara dengan senang hati memberi bantuan secukupnya. Bahkan setelah diketahui bahwa kemiskinan kerajaan si Bungsu disebabkan oleh karena dijajah oleh raja kejam, maka mereka menawarkan bantuan menyerang raja kejam itu. Tentu saja bantuan ini diterima dengan senang hati.

Setelah dipersiapkan masak-masak keempat belas bersaudara itu menyerang kerajaan raja kejam. Empat belas bersaudara menang. Alangkah gembiranya si Putri Bungsu mendengar semua ini. Empat belas bersaudara di panggilnya untuk menghadap. Alangkah terperanjatnya sang Putri Bungsu setelah mengetahui bahwa empat belas saudara itu adalah kakak-kakaknya. Mereka berpelukan saling terharu. Kini kerajaan si Bungsu bebas dari musuh, tentaranya amat kuat dan rakyat hidup tenteram.

Kesimpulan
Kisah ini menceritakan tentang kehidupan keluarga yang mempunyai anak banyak. 
Ada dua hal yang penting. Pertama, yang kita peroleh dari cerita ini bahwa betapa sulitnya mengatur kesejahteraan bagi anggota keluarga besar, karena apabila tidak dapat mengaturnya mereka akan hidup menderita. 
Kedua, bahwa kita akan dapat hidup berbahagia bila bekerja keras dan saling tolong menolong.


Sumber: Buku Putri Limaran, Cerita Rakyat Dari Jawa Tengah
Penulis: Sri Sulistyowati
Penerbit: PT. Gramedia Widiasarana Indonesia, Jakarta, 1996

0 Response to "Brayut"

Post a Comment