Janji Sang Permaisuri

janji sang permisuri
Dahulu kala, ada seorang permaisuri yang mempunyai tujuh orang putri. Mula-mula, hidup mereka bahagia, tapi akhir-akhir ini, sang raja sering kelihatan sedih, karena ia ingin mempunyai anak laki-laki. Melihat keadaan seperti itu, sang permaisuri pergi ke tempat seorang tukang sihir.

"Tuan, kudengar kau mempunyai kekuatan gaib," tanya sang permaisuri pada tukang sihir itu. " Dapatkah kau membantuku, bagaimana caranya agar aku dapat melahirkan seorang bayi laki, karena semua anakku wanita."

"Minumlah ramuan ini tengah malam nanti. Mudah-mudahan apa yang kau inginkan akan terlaksana," kata tukang sihir itu sambil memberikan botol kecil berisi cairan hijau.

Setelah memberikan sekantung emas pada tukang sihir itu, lalu permisuri kembali ke istana. Cairan itu diminumnya pada malam hari. Beberapa bulan kemudian, ternyata benar, lahirlah seorang anak laki-laki. Anak laki-laki itu diberi nama Iskandar. Ia sangat disayang oleh ayah, ibu dan ketujuh saudaranya.

Suatu hari, pada waktu Iskandar berumur sepuluh tahun, ketika sedang bermain panah-panahan di halaman istana, datang tukang sihir itu padanya.
"Mana ibumu, aku ingin bertemu dengannya," kata tukang sihir itu.

Iskandar sangat takut melihat orang itu, lalu ia antarkan pada ibunya." Nyonya." kata tukang sihir itu. "Bolehkan aku membawa anak laki-lakimu? karena aku butuh bantuannya."

"O, jangan, jangan, Sang Raja sangat sayang padanya," kata permaisuri.

"Kalau tidak boleh, aku akan mengubah anak laki-lakimu jadi seekor katak," kata tukang sihir itu mengancam.

"Jangan, jangan!" Jawab Sang Permaisuri sambil menangis.

"Kalau begitu, aku bawa yang perempuan saja," kata Tukang Sihir itu.

"Baiklah," jawab Sang Permaisuri. " Bawalah salah salah satu dari anak perempuanku,"

Sang Permaisuri, lalu menyuruh anak perempuannya yang paling tua, Shiraz, untuk ikut Tukang Sihir itu. Setelah setahun, tukang sihir datang lagi," Aku minta anak perempuan keduamu, kalau tidak anak laki-lakimu akan kujadikan seekor rusa."

"Jangan, jangan." kata Sang Permaisuri." Ambil anak keduaku Shannaz."

Kejadian itu terus berlangsung setiap tahun, sampai anak yang keenam. Oleh Tukang Sihir itu, semua anak itu dipenjara di sebuah menara yang tinggi.

Ketka Iskandar berumur tujuh belas tahun, hanya tinggal satu puteri yang tinggal, yaitu Shirene. Di antara saudara-saudaranya, Iskandar paling suka dengan saudaranya yang satu ini. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi jika Shirine ini juga dibawa oleh Tukang Sihir yang jahat itu.

"Mohon, Permaisuri, jangan serahkan Shirine pada orang jahat itu. Kalau dia pergi, aku tak ada teman lagi," kata Iskandar pada ibunya.

"Habis bagaimana, anakku." jawab Sang Permaisuri." Kalau Shirine tidak kuserahkan padanya, kau akan diambilnya. Bagaimana nanti perasaan ayahmu, jika kau tidak ada?"

"Begini saja." kata Iskandar pada ibunya. "Kalau orang jahat itu datang lagi. Serahkan Shirene padanya. Suruh Shirene membawa buah delima dan membuang bijinya selama dalam perjalanannya. Aku akan mengikutinya dari belakang. Dengan demikian, aku akan tahu di mana tempat persembunyiannya dan mudah-mudahan aku bisa menyelamatkan saudara-saudaraku." lata Iskandar pada Sang Permaisuri.

"Kalau begitu, baiklah, anakku. Aku mengijinkanmu, tapi bawalah cincin zamrud ini. Di dalamnya ada jin yang sewaktu-waktu dapat kau mintai bantuan." jawab permaisuri sambil memasukkan cincin itu pada jari Iskandar. "Cincin ini aku pinjam dari saudaraku. Gosok tiga kali jika kau perlu bantuan, maka jin itu akan muncul.

Setelah berbicara dengan Iskandar, Permaisuri memberitahukan rencananya itu pada Shirene. Tak lama kemudian, tukang sihir itu pun datang.

Sang Permaisuri memberikan ucapan selamat jalan kepada anaknya sambil menangis ketika Shirene pergi. Sementara, Iskandar menyamar sebagai seorang pemain musik keliling. Dengan membawa suling dan gendang di pinggangnya, ia mengikuti Tukang Sihir itu. Sang Permaisuri tidak mengatakan kepada Sang Raja bahwa puteranya sedang menyamar. Ia mengatakan bahwa puteranya sedang pergi berburu.

 Iskandar terus berjalan mengikuti biji delima yang disebar oleh saudara perempuanya. Mereka sampai pada malam hari. Shirene masuk ke sebuah menara tinggi, melalui pintu kecil yang terbuat dari baja. Sementara itu, Iskandar bersembunyi di semak-semak. Dari sana ia dapat melihat keadaan di sekeliling menara itu. Di menara itu ada tujuh jendela. Pada masing-masing jendela tampak saudara-saudaranya yang dipenjara.

Inilah saatnya bagi Iskandar untuk menggosok cincin zamrudnya tiga kali agar jinnya keluar. Ketika cincin itu digosok, terdengarlah suara petir, diiringi dengan keluarnya gumpalan asap dari tanah. Di tengah asap itu muncullha sesosok jin. "Apa yang kau inginkan, Hai Anak Muda?" tanya jin itu sambil tertawa.

"Bawa aku tujuh tangga, tujuh gergaji, dan tujuh kuda," pinta Iskandar.

"Aku dengar dan aku patuh," kata jin itu dengan cepat dan menghilang.

Dalam sekejab, muncullah tujuh ekor kuda putih, tujuh gergaji dan tujuh tangga. Tangga itu digunakan untuk naik ke masing-masing jendela di menara itu, gergaji itu digunakan untuk memotong jeruji jendela dan kuda itu digunakan untuk membawa lari ketujuh saudaranya. Tapi, Tukang sihir melihatnya. "Hai gadis bodoh, mau kemana kalian!!" teriaknya.

Takut disihir oleh Tukang Sihir itu, Lalu Iskandar menggosok cincin itu lagi. "Hai jin, pindahkanlah kami secepatnya ke tempat lain dan hilangkanlah kekuatan Tukang Sihir itu. "Pinta Iskandar ketika jinnya keluar.

Tiba-tiba, Iskandar mendapatkan dirinya berjalan dengan cepat seperti angin  di atas punggung kuda. Shirene duduk di belakangnya dan keenam saudaranya masing-masing duduk di kuda mereka masing-masing. Ketika tiba di padang pasir, Iskandar memberi tanda pada saudaranya agar berhenti." Saudara-saudaraku, kita harus istirahat malam ini, besok kita kembali ke rumah."

Ketika pagi tiba, barulah mereka melanjutkan perjalanan mereka. Mereka merasa lapar dan haus, karena sejak kemain belum makan dan minum. "Aku harus memanggil jin untuk meminta makanan dan minuman," kata Iskandar dalam hati. Tapi, ketika ia melihat jarinya, cincin itu tidak ada di tangannya.

Ketika Iskandar mengatakan kejadian itu pada saudara-saudaranya, mereka menangis. Ia mencoba menghibur saudara-saudaranya. Mereka terus berjalan, meskipun panas semakin menyengat tubuh mereka. Akhirnya, mereka menemukan sebuah tempat yang ada pohon dan sumurnya. Di sanalah, mereka minum.

Ketika mereka sedang minum, datanglah padanya tiga orang tua berpakaian jubah. "Hai orang tua, apakah kalian membawa makanan yang dapat kami beli," kata Iskandar.

"Tidak, kami tidak menjual makanan, tapi ini ada hanya sedikit. Kalau kalian mau, marilah kita makan bersama-sama." jawab orang tua itu.

Mereka pun duduk melingkar. Masing-masing dari mereka memegang sebuah kurma kering. "Kurma jenis apa ini?" tanya Iskandar pada orang tua yang ada di sampingnya.

"Ini adalah kurma Ilmu Pengetahuan," jawab orang tua itu. "Dengan memakan kurma ini, kita akan mengetahui apa yang sebelumnya tidak kita ketahui."

Ketika sedang memakan kurma, Iskandar melihat salah satu kudanya pincang. Lalu ia bangun dan memeriksanya. " Pasti ada sesuatu yang terjadi pada kuku kuda itu," kata Iskandar dalam hati. Betapa kagetnya ia, ketika melihat ia, ketika melihat kuku kuda itu, ternyata ada cincin zamrudnya. Ia masukkan lagi cincin itu ke dalam jarinya, dan menggosoknya tiga kali. Setelah jin itu keluar, lalu ia berkata, "Hai Jin yang pintar, Bawalah kami kembali ke istana ayah kami."

Segera, setelah ucapannya selesai, udara menjadi gelap, matahari tak kelihatan lagi dan suasana menjadi ribut. Dalam sekejab, tiba-tiba, Iskandar sudah berada dalam kebun bunga istananya bersama ke tujuh saudaranya. Sang Permaisuri yang melihat dari jendela atas, segera turun, memeluk puterinya satu persatu. Mereka menangis dengan gembira.

Lalu, Iskandar sambil melepaskan cincin itu dari jarinya dan mengembalikannya pada ibunya. "Kalau tidak dibantu oleh jin yang ada dalam cincin ini, aku tidak akan bisa berbuat apa-apa."

Ketika mereka sedang berbicara, tiba-tiba muncullah seekor burung kakak tua kecil berwarna hijau dan bertengger di tangan sang permaisuri. "Aku datang ke mari untuk mengambil cincin yang kupinjamkan padamu. Cincin itu akan aku kembalikan pada yang punya." kata burung kakak tua itu. Setelah Sang Permaisuri meletakkan cincin itu di paruhnya, burung itu pun terbang. Sejak itu, mereka hidup bahagia sampai akhir hayatnya.

Sumber: Buku Kisah Anak-anak dari Asia Tengah "Orang Bijak dan Muridnya"
Penulis: Males Sutiasumarga 
Penerbit: Zikrul Hakim  - Jakarta

0 Response to "Janji Sang Permaisuri"

Post a Comment