Keberanian Sejati

Ratu Adioa, keberanian sejati
Dahulu kala ada beberapa anak muda yang bersahabat akrab. Mereka adalah Ratu Wulan-Wanna, Wonte Ulu, Wonte Hall, Wonte Tembaga dan Ratu Adioa. Sayang sekali watak mereka kurang baik. Kelakuannya sangat kasar, sombong, tinggi hati, dan tidak mematuhi orang tua, kecuali Ratu Adioa. Ia anak yang baik budinya dan sangat menyayangi kedua orang tuanya.

Pekerjaan Ratu Adioa memanah burung, Ratu Wulan-Wanna hanya luntang-lantung, si Wonte Ulu seorang nelayan, si Wonte Hall pembuat perahu, serta si Wonte Tembaga sebagai Tukang besi. Mereka rata-rata hidup berkecukupan, terutama si Ratu Wulan-Wanna. Orang tuanya adalah orang yang berkecukupan.

Suatu ketika mereka berniat mengadakan unjuk kebolehan yang sangat menyeramkan. Mereka ingin menguji kehebatan dan keberanian masing-masing dengan membunuh orang tua mereka. Sungguh perbuatan yang terkutuk.

Teman-temannya tanpa rasa belas kasih telah membunuh kedua orang tuanya. Ratu Adioa tidak bersedia melakukannya. Dengan diam-diam ia membawa kedua orang tuanya bersembunyi di dalam sebuah gua di dalam hutan. Sementara teman-temannya menjadi anak yatim piatu dan hidup mereka kian melarat dari waktu ke waktu, tidak demikian dengan Ratu Adioa.

Pada suatu hari ketika matahari akan segera masuk ke peraduan, berlabuhlah tiga buah kapal di kampung mereka. Dengan cepat kedatangan itu diketahui oleh penduduk sekitar, termasuk oleh kelompok anak muda tersebut. Segera mereka mengirim para pesuruh mereka untuk menanyakan kepada para awak kapal mengenai tujuan mereka berlabuh. Mereka menjawab, "Kami adalah raja dari Timur, bermaksud membawa teka-teki. Seandainya teka-teki ini dapat kalian jawab, seluruh isi ketiga kapal ini akan kami serahkan. Sebaliknya bila teka-teki ini tidak terjawab, kampung dan seluruh isinya akan menjadi milik kami."

"Apakah teka-teki yang hendak Tuan sampaikan kepada kami?" tanya utusan mereka.

"Teka-teki kami ada tiba buah. Pertama, kami meminta kalian untuk memilih dari dua tengkorak ini, mana yang perempuan dan mana yang laki-laki. Kedua, pilihlah dari dua ekor ayam ini, mana yang jantan, mana yang betina. Ketiga, terkalah air di dalam dua gayung ini, mana yang berisi air tawar, mana yang berisi air laut. Demikianlah teka-teki kami."

Pulanglah pesuruh itu menjumpai Ratu Adioa dan kawan-kawannya. Ia menceritakan apa yang ia dengar dari awak kapal tersebut. Lalu, segera mereka berkumpul membahas teka-teki itu, namun tidak berhasil memperoleh jawabannya. Kemudian, mereka memutuskan untuk membuat taruhan bagi mereka sendiri; yaitu barang siapa yang berhasil menjawab teka-teki tersebut ia akan diangkat menjadi raja. Mereka sepakat, lalu menyuruh pesuruh mereka untuk memberitahukan kepada para awak kapal untuk menanti jawabannya seminggu lagi.

 Sementara teman-temannya mencari jawaban teka-teki itu, Ratu Adioa pergi menjumpai kedua orang tuanya. Ia menceritakan kepada mereka mengenai teka-teki tersebut. Kedua orang tua Ratu Adioa tidak berkomentar panjang lebar. Mereka hanya menganggukkan kepala setelah mendengar teka-teki itu, lalu berkata," jangan kuatir anakku, teka-teki itu tidak susah. Jawaban pertama adalah, apabila lidi yang kau tusukkan kedalam lubang telinga tengkorak itu lurus, maka itu berarti tengkorak laki-laki. Apabila bengkok itu berarti tengkorak perempuan. Yang kedua, ambillah segenggam beras dan berilah mereka makan. Ayam yang makan sambil menengadah tandanya ayam jantan. Sedangkan ayam yang makan tanpa menengadah berarti ayam betina. Untuk yang ketiga, jika air di dalam gayung itu beriak tandanya air laut, sedangkan bila tidak berarti air tawar. Nah, berangkatlah kau ke kapal itu dan jawablah teka-teki itu. Kau pasti dapat memenangkannya."

Setelah menyalami kedua orang tuanya dan memohon doa restu mereka, berangkatlah Ratu Adioa menuju tempat teman-temannya berkumpul. Setibanya di tempat itu, teman-temannya masih dalam kebingungan. Mereka masih belum mendapatkan jawabannya. Mereka akan menyerah saja, tetapi mereka takut kalau kelak dibawa para awak kapal itu sebagai hadiah kepada raja di seberang. Maka, tumpuan harapan mereka hanya pada Ratu Adioa.
"Bagaimana Ratu Adioa? Apakah kamu telah mendapatkan jawabannya? Hanya kamulah harapan kami satu-satunya." mereka memohon.

"Baik, jangan kuatir, aku sudah tahu jawabannya. Mari kita menuju kapal itu," jawab Ratu Adioa dengan tenang.

Mereka pun beramai-ramai menuju ke kapal itu. Di sana telah menunggu para awak kapa dan penduduk setempat yang ingin menyaksikan dan mendengarkan jawaban teka-teki itu. Ratu Adioa dengan tenang menyampaikan jawaban itu sesuai dengan petunjuk yang diberikan oleh ayahnya. Para awak kapal sangat tercengang mendengar jawaban Ratu Adioa. Tidak ada satupun yang meleset. Maka, sesuai dengan janji mereka, seluruh isi perahu itu menjadi milik Ratu Adioa dan penduduk setempat.

Sejak peristiwa itu, Ratu Adioa diangkat menjadi raja. Karena sudah menjadi raja ia tak usah merasa takut kepada kawan-kawannya yaitu untuk menyusul kedua orang tuanya yang bersembunyi di dalam sebuah goa. Lalu, ia segera menjemput kedua orang tuanya itu.

"Jadi kau tidak membunuh kedua orang tuamu?" tanya teman-temannya yang lain.

"Benar, mereka kusembunyikan, membunuh mereka bukanlah sebuah tindakan yang gagah berani, melainkan perbuatan tercela dan terkutuk, sebab merekalah yang telah melahirkan dan mengasuh kita sejak masih bayi."

Ratu Adioa berkata lagi. "Keberanian sejati bukanlah menindas orang lemah, melainkan justru membela dan melindungi orang lemah dari tindakan semena-mena."

Mengetahui hal ini teman-temannya sangat menyesal. Kini mereka tidak sekaya Ratu Adioa dan makin hari kehidupan mereka makin tidak bahagia, melarat dan sengsara.

Sumber: Buku Cerita Rakyat Sulawesi Utara (Lawongo, Keberanian sejati, membunuh raksasa)
Penyusun: M.Yudhistira
Gambar: Irsyadul Anam
Penerbit: Mitra Cendekia Surabaya


0 Response to "Keberanian Sejati"

Post a Comment