Kisah Nabi Ayyub

kisah nabi ayyub

Tabah Menerima Cobaan

Nabi Ayyub adalah seorang Nabi yang sangat kaya raya. Istananya megah, rezekinya berlimpah, istri dan anaknya sehat walafiat.  Yang lebih penting dalam kemakmurannya itu, Ayyub tetap menjadi seorang hamba Allah yang Saleh dan kuat ibadahnya.

Kekayaannya yang melimpah ruah dan rumah tangganya yang sakinah, tidak menjadikan Ayyub lalai atau mabuk. Dia bahkan semakin tekun dengan bersujud dan berbakti. Demikian juga istrinya yang bernama Rahmah.

Para malaikat sampai kagum melihat ketaatan  Ayyub. Namun, sebaliknya.Iblis Hatinya merasa panas dan ingin mencoba menggoda Ayyub dan keluarganya.

"Ayyub berbakti kepada-Mu karena hartanya banyak, istananya megah, kebunnya luas dan subur. Biri-biri serta dombanya berkembang biak terus, dan anak-anaknya sehat wal afiat. Dia menyembah-Mu karena takut jatuh melarat," kata iblis yang dengki itu kepada Allah.

Iblis pun kemudian turun menghancurkan segala milik Ayyub. Semua kebun dan tanahnya yang dulu subur kini menjadi kering dan terbakar. Binatang ternaknya terserang wabah yang kemudian mati semua.

Setelah itu, Iblis datang menemui Ayyub dengan menyamar sebagai orang tua yang nampak bijaksana.

"Tuhan yang engkau sembah setiap hari ternyata tidak bisa menolongmu sama sekali. Aku sangat kasihan padamu, Ayyub. Cobalah kau mencari Tuhan lain yang mungkin dapat menolongmu," katanya.

Mendengar bujukan-bujukan Iblis itu, Ayyub tidak tergoda sama sekali, bahkan semakin tekun dia bersujud. Dia percaya, segala kenikmatan yang telah direguknya adalah pemberian Tuhan, dan Tuhan berhak mengambilnya sewaktu-waktu dan kapan pun.

Melihat semua itu, Iblis menjadi kecewa dan marah, dia menghadap Tuhan dan berkata;
"Ayyub masih taat kepada-Mu karena dia masih punya anak. Aku akan membinasakan seluruh anak Ayyub. Barulah nanti kau tahu bahwa iman Ayyub tidak seberapa kuatnya."

Maka Iblis-iblis itu segera menyebarkan wabah penyakit dan bencana. Semua anak Ayyub meninggal, istana tempat tinggal mereka hancur hingga menjadi puing-puing karena gempa.

Melihat kejadian-kejadian yang menimpa dirinya, Ayyub hanya memandangnya dengan meneteskan air mata. Dari mulutnya hanya keluar ucapan tawakal dan pasrah diri.

Datanglah kembali Iblis yang menyamar sebagai orang tua itu.
"Begitukah balasan Tuhan atas ketaatan dan kekhusyukan ibadahmu? Kau memuji-muji keagungan-Nya dengan tak henti-henti, tetapi apa yang kau dapatkan? hanya bencana dan kesengsaraan."

"Dia lah yang memberi, dan Dia pulalah yang mengambil. Dia yang menghidupkan, Dia juga yang mematikan," jawab Ayyub.

Iblis menjadi semakin berang. Kembali dia menghadap Tuhan.

"Ayyub tetap taat kepada-Mu karena dia sehat. Ayyub masih bisa bekerja dan masih bisa punya anak lagi. Kalau dia sakit parah, sehingga lenyap tenaga dan kesehatannya, pasti dia akan berpaling dari-Mu.

Iblis kembali turun, menularkan penyakit yang sangat berbahaya pada sekujur tubuh Ayyub. Kudis bernanah terdapat di kepala hingga ke kaki, dan baunya sangat busuk sekali.

Namun, Ayyub masih tetap tabah dalam iman dan taqwa. Dia hanya menyerahkan nasib kepada Allah. Tak seorang pun tabib yang dapat mengobatinya, hingga tak mampu lagi ia berobat karena tak ada biaya.

Semua orang tak ada yang mau menjenguk atau mendekatinya, karena bau tubuh Ayyub bisa membuat orang muntah-muntah, dan juga karena takut tertular penyakit yang menjijikkan itu.

Hanya Rahmah, istrinya, yang dengan sabar mendampingi Ayyub, merawatnya dengan baik. Kudis bernanah yang penuh dengan ulat dicucinya tiap hari. Padahal semua orang yang lewat harus mendekap hidungnya, karena tak kuat mencium bau busuknya.

Akhirnya, sampailah penderitaan Ayyub dan istrinya pada puncaknya. Orang kampung berduyun-duyun mendatangi rumah Ayyub. Dengan paksa dan disertai ancaman mereka mengusir Nabi Ayyub dan istrinya agar segera keluar dari kampung mereka. Dengan susah payah Rahmah mengendong suaminya dan tinggal di sebuah gubuk kecil terpencil di tepi hutan.

Tiap hari Rahmah keluar menjual sisa-sisa barang miliknya untuk dibelikan makanan. Hingga akhirnya sisa barang yang dimilikinya ludes. Dalam keadaan kelaparan, Rahmah kemudian mencari pekerjaan, dia diterima di sebuah pabrik roti. Tetapi, ketika diketahui bahwa dia adalah istri Ayyub. Pemilik pabrik roti itu buru-buru memecatnya, takut kalau nanti rotinya tidak laku.

Karena merasa putus asa, Rahmah kemudian memotong rambutnya yang panjang dan ikal untuk dijual dan sekedar digunakan membeli roti.

Ketika pulang, di tengah jalan ia bertemu dengan seorang tabib.

"Hai Rahmah, engkau istri Ayyub, bukan? " sapa tabib itu. Suamimu akan bisa sembuh jika dia mau minum sebotol arak. Bawalah ini, berikan kepada suamimu."

Tanpa pikir panjang lagi, Rahmah menerima arak yang disodorkan tabib itu. Dengan perasaan gembira ia pulang dengan mempercepat langkahnya.

Sesampai di rumah, Rahmah langsung menemui Ayyub. Dan betapa terkejut dan marah Ayyub ketika melihat kepala istrinya yang telah dipotong rambutnya untuk dijual. Lebih marah lagi ketika Rahmah menceritakan pertemuannya dengan seorang tabib di tengah jalan tadi.

"Dia memberikan obat agar kau dapat sembuh dari penyakitmu," kata Rahmah.

"Obat apa itu?" tanya Ayyub tidak senang.
"Arak."

"Haram!!" teriak Ayyub dengan murka. " Apakah kau akan menyeret aku ke neraka, Hah! Keluar kamu dan pergi dari sini! Awas, bila nanti badanku sudah sembuh, akan kucambuk kau seratus kali!"

Sambil menangis Rahmah keluar. Hatinya sangat sedih bukan karena diusir, tetapi karena memikirkan suaminya. Seandainya dia pergi, siapa yang akan merawatnya?. Dengan bingung dan gelisah Rahmah berkeliaran ke sana ke mari seharian. Menjelang sore, ia tak tahan lagi. Karena sangat cintanya kepada suami, ia cepat-cepat kembali ke gubuknya.

Begitu memasuki gubuk, Rahmah jadi terkejut, Ayyub tidak lagi berada di atas pembaringannya. Kemanakah dia? Siapakah yang membawanya? Sebab tidak mungkin suaminyanya itu bangun sendiri dari tempat tidurnya.

Rahmah menangis sedih sambil duduk bersidekap, dua telapak tangannya menutup wajahnya. Tiba-tiba sebuah tangan seorang laki-laki mengelus pundaknya dengan mesra dari belakang. Rahmah jadi terkejut, ia menoleh sambil menjerit. Di belakangnya telah berdiri seorang laki-laki yang tidak dikenalnya. Meskipun wajahnya mirip dengan suaminya ketika masih sehat dulu. Laki-laki itu nampak gagah, bersih dan sehat. Bau tubuhnya pun sangat harum.

"Siapa engkau ? Sungguh kurang ajar dirimu yang tak memiliki kesopanan!" teriak Rahmah dengan marah.

"Aku Ayyub, suamimu," jawab laki-laki itu sambil tersenyum.

"Ayyub........?

Ya. Ketika engkau pergi, tiba-tiba terpancar air di depanku. Hawanya panas dan berbau belerang. Aku diperintahkan Allah untuk mandi dengan air tersebut, membersihkan badanku. Selesai mandi beberapa saat, sedikit-demi sedikit kudis yang menempel di kulitku rontok. Kulitku kembali bersih seperti dulu. Dan inilah aku sekarang. Suamimu."

Betapa gembira dan bahagianya Rahmah melihat suaminya sembuh dari penyakitnya. Mereka kemudian berpelukan merasakan kebahagiaan yang telah lama hilang.

Setelah itu, Ayyub mengambil dahan ranting kecil sebanyak seratus batang, lalu diikat menjadi satu. Rahmah dipukulnya sekali untuk membayar ancamannya ketika marah kepada istrinya beberapa waktu lalu. Selanjutnya mereka hidup bahagia serta menurunkan Nabi-Nabi di belakang hari.

Sumber: Buku 30 Dongeng Sebelum Tidur Untuk Anak Muslim
Penyusun: KidhHidayat, MB. Rahimsyah
Diterbitkan oleh: Mitra Ummat Surabaya


 

 

0 Response to "Kisah Nabi Ayyub "

Post a Comment