Kisah Nabi Luth

kisah nabi luthHancurnya Kota Sadum

Nabi Luth tinggal di desa Sadum, yang terletak di wilayah Palestina. Nabi Luth tinggal di desa itu dengan seorang istri dan dua orang anak perempuannya.

Perangai penduduk desa Sadum sangat jahat dan kotor. Nabi Luth sudah berkali-kali mengajak mereka agar menempuh jalan hidup yang baik, namun seruannya selalu sia-sia. Mereka tak mau mengubah tingkah lakunya yang sesat. Penduduk Sadum suka menipu, memperdaya orang lain, merampok, dan jika perlu membunuh.

Dan yang lebih keterlaluan lagi, kaum lelaki bukannya mengejar kaum wanita, tetapi mereka lebih tertarik kepada lelaki yang muda dan bersih. Mereka lebih senang melepaskan nafsu berahinya dengan sesama jenis.

Kaum wanita hanya sekedar dipergunakan untuk menyambung keturunan. Laki-laki tidak mau menggauli wanita dengan mesra, hanya seperlunya saja. Karena itu, kaum wanita pun akhirnya mencari kepuasan pada sesama jenis juga.

Perbuatan terkutuk itu dipelopori oleh istri Nabi Luth sendiri. Bahkan, dia yang selalu memberikan informasi kepada laki-laki di desanya apabila ada seorang pemuda asing yang tampan lewat desanya, atau ada calon korban perampokan yang bisa dijadikan mangsa. Sebagai imbalan, ia akan menerima gadis-gadis belia untuk dijadikan pelampias birahinya.

Sudah puluhan tahun Nabi Luth memeras keringat untuk menyadarkan mereka, termasuk istrinya sendiri. Namun, kejahatan mereka semakin hari semakin bertambah menjadi-jadi. Melalui firman-firman Allah disampaikan janji-janji surga dan kebahagiaan abadi bagi mereka yang mau taat, dan ditakut-takuti dengan ancaman neraka bagi mereka yang selalu melakukan perbuatan tercela.

Tetapi, peringatan itu bukannya digubris, malah dicemoohnya. Yang paling mengejek dan ingkar di antara mereka justru istri Nabi Luth sendiri.

Karena merasa sudah kehabisan daya upaya, akhirnya Nabi Luth mengadu ke hadirat Allah;
"Ya, Allah tunjukkanlah kepada kaum kami yang sesat ini. Andaikata petunjuk itu masih juga ditolak, turunkanlah kepada mereka nasihat yang bukan hanya berupa kata-kata atau ancaman saja. Datangkanlah azab yang dahsyat agar mereka mau kembali. Jika semuanya itu masih tak diindahkan oleh mereka. Musnahkanlah mereka sama sekali. Sebab sudah tak ada gunanya lagi mereka hidup, mereka cuma akan menambah sengsara dan kerusakan di atas bumi ini." 

Doa Nabi Luth dikabulkan oleh Allah. Maka turunlah dua malaikat dari langit. Mereka singgah di tempat Nabi Ibrahim dengan menyamar sebagai manusia.

Setelah dihormati layaknya tamu biasa, barulah kedua malaikat Allah itu menerangkan siapa sebenarnya mereka. Nabi Ibrahim merasa ngeri setelah mendengar penuturan malaikat itu tentang azab yang bakal diturunkan kepada penduduk Sadum, kaum Nabi Luth itu.

Dengan menyamar sebagai pemuda yang tampan dan berkulit halus. Kedua malaikat itu kemudian meninggalkan rumah Nabi Ibrahim, berangkat menuju desa Sadum yang penduduknya amat durhaka.

Di pinggiran desa Sadum, terlihat ada seorang gadis tengah mengambil air minum, kedua malaikat itu segera menhampirinya, dan meminta agar mereka diterima sebagai tamu di rumah gadis itu.

Dengan ketakutan gadis itu menceritakan tabiat penduduk Sadum yang suka membunuh karena memperebutkan anak muda yang tampan. Diberitahukan pula bahwa mereka senang sekali memperkosa lelaki muda dengan cara yang amat kotor dan mesum. Tetapi, dua malaikat yang menyamar itu bersikeras ingin bertamu.

Gadis yang ternyata adalah putri Nabi Luth, tidak berani menerima mereka sebelum ada ijin dari ayahnya. Maka pulanglah gadis itu.

"Ayah, di batas desa ada dua orang lelaki muda yang sangat tampan. Belum pernah kulihat lelaki setampan mereka. Mereka ingin bertamu dan menumpang tidur di rumah kita. Bagaimana, Ayah ? Apakah kita akan menerima mereka ?"

Mendengar penuturan anak gadisnya, Nabi Luth menjadi terkejut dan bingung. Bila diterima permintaan kedua pemuda itu, ia kuatir bakal terjadi bencana atas kedua pemuda itu. Tak dapat dibayangkan, penduduk desa Sadum itu pasti akan datang berebutan untuk memperkosa mereka. Tetapi kalau ditolak, kepada siapa lagi mereka bisa menumpang?

Akhirnya, dengan sembunyi-sembunyi Nabi Luth menemui kedua pemuda itu. Setelah bersalaman dan bertutur kata sejenak, Nabi Luth kemudian memberitahukan cara-cara agar kedatangan mereka jangan sampai diketahui oleh penduduk. Mereka harus berhati-hati sekali, jangan sampai rahasia mereka terbuka.

Ketika hari telah gelap, mereka mengendap-ngendap memasuki desa Sadum, dan langsung ke rumah Nabi Luth. Namun, alangkah terkejutnya Nabi Luth, begitu tiba di rumahnya, penduduk desa Sadum sudah berkerumun dengan wajah beringas. Ternyata, istri Nabi Luth sendiri yang telah membocorkan rahasia itu.

"Hai Luth, serahkan kedua pemuda itu kepada kami," teriak para penduduk." Jangan kau habiskan sendiri makanan yang lezat itu."

Mendengar teriakan-teriakan histeris itu, berdiri bulu kuduk Nabi Luth. Dengan keberaniaanya selaku Nabi, lalu dia keluar dan berbicara dengan kaumnya.

"Hai kaumku sekalian! bertobatlah kamu dari perbuatan keji ini. Kembalilah pada aturan yang ditetapkan Allah, dan takutlah kepada siksaan-siksaanNYA yang dahsyat!"

Seruan Nabi Luth itu hilang tertelan oleh teriakan-teriakan kemarahan. Sebagian penduduk itu sudah bergerak hendak menyerbu ke dalam rumah. Melihat keadaan yang semakin gawat, Nabi Luth segera masuk ke dalam rumah dan menguncinya. Dari sebuah jendela ia berbicara lagi kepada kaumnya.

"Hai saudara-saudaraku! Kembalilah kalian kepada perempuan-perempuan yang telah dihalalkan sebagai istri yang sah. Hiduplah yang wajar sebagai fitrah laki-laki. Apabila kalian tak mau mendengar nasihat-nasihatku ini, aku takut siksaan Allah akan segera membinasakanmu."

Jika nafsu telah berada di puncaknya, dan birahi telah sarat dengan rangsangan, apalagi yang dapat menghalangi, kecuali iman? Sedangkan mereka tak memiliki iman sama sekali. Oleh sebab itu seruan Nabi Luth itu tak diacuhkan sedikitpun. Bagaikan binatang buas yang menginginkan mangsanya, mereka mendobrak masuk untuk merebut kedua pemuda tampan itu.

Dengan tenaga tuanya, Nabi Luth berusaha mempertahankan kehormatan rumahnya. Namun, seberapa besar kekuatan orang tua untuk menghadapi manusia-manusi yang sudah kerasukan setan itu? Disaat-saat yang mengkhawatirkan, kedua pemuda itu berkata;
"Hai Luth, janganlah kau khawatir dan takut. Kami berdua adalah malaikat yang diutus Allah untuk mengabulkan doamu. Mereka tak akan mampu menganggu kita. Bahkan sebentar lagi mereka akan dihancurkan. Ayo ikuti kami, kita pergi dari tempat ini. Ajak kedua anak perempuanmu yang shalehah, dan tinggalkan istrimu yang durhaka, sebab dia termasuk yang harus dimusnahkan.

Dengan cara diluar kekuasaan manusia, Nabi Luth dan kedua anaknya beserta beberapa orang yang beriman dan kedua malaikat itu sendiri, meloloskan diri dan selamat hingga keluar dari desa terkutuk itu.

Setelah orang-orang yang shaleh tak ada lagi di desa Sadum, tinggallah pendurhaka-pendurhaka yang tengah dihinggapi nafsu setan itu, turunlah azab Tuhan yang telah dijanjikan.

Mula-mula bumi bergoyang, semua bangunan bergetar dan runtuh. Matahari yang semula memancarkan sinarnya, tiba-tiba menjadi gelap seketika, laksana malam tanpa bintang.

Penduduk Sadum menjerit-jerit ketakutan. Mereka berlari  kesana-kemari tak mengenal arah, menabrak-nabrak apa yang ada dihadapannya. Tiba-tiba terdengar bunyi menggelegar, gunung-gunung meletus, sungai meluap, gelombang di laut mengganas. Kemudian turun hujan batu berbungkah-bungkah, sehingga Desa Sadum beserta penghuninya terkubur, rata dengan tanah.

Demikian kisah kaum yang dimushkan oleh Allah karena perbuatan-perbuatan mereka yang amat durhaka.

Sumber: Buku 30 Dongeng Sebelum Tidur Untuk Anak Muslim
Penyusun: KidhHidayat, MB. Rahimsyah
Diterbitkan oleh: Mitra Ummat Surabaya


0 Response to "Kisah Nabi Luth"

Post a Comment