Kisah Si Ahmad dan Istrinya

kisah si ahmad dan istrinya
Dahulu kala, ada seorang laki-laki bernama Ahmad. Ia bekerja di ladang sepanjang hari.Suatu hari, ia memasang perangkap untuk menangkap burung. Burung itu akan dimasaknya untuk makan malam hari itu. Karena malam itu, ia tidak punya persediaan makanan apa-apa, kecuali sedikit gandum di lemari makan. Ahmad sangat takut pada istrinya, karena istrinya galak. Kalau istrinya tahu, ia tidak membawa apa-apa ketika pulang dari ladang, ia akan mendapatkan masalah.

Pada waktu ia membuka perangkapnya, ternyata hanya ada seekor burung kecil. Ketika burung itu akan ia masukkan ke dalam karung, tak diduga burung itu dapat berbicara, "Oh, manusia, bebaskanlah aku ke udara. Aku berjanji akan mengabulkan permintaanmu.

Ahmad sangat kaget mendengar burung itu dapat berbicara, lalu ia pegang kaki burung itu dan ia perhatikan.

"Bebaskanlah aku, aku akan mengabulkan permintaanmu jika kau membebaskanku, karena aku salah satu pembantu jin!"

"Apakah itu benar?" tanya Ahmad. "Kalau kau dapat memenuhi permintaanku, buatlah agar aku dapat mengerti bahasa binatang."

"O, mudah sekali" jawab burung itu. "Tetapi, ada satu syarat."

"Katakanlah," jawab Ahmad," aku akan melakukan apa yang kau sebutkan."

"Syaratnya adalah jangan sekali-kali kau katakan hal ini kepada istrimu bahwa kau punya kekuatan memahami bahasa binatang atau kau akan menerima hukuman dari jin pada hari kiamat nanti."

"Aku berjanji tidak akan mengatakan hali ini pada istriku," kata Ahmad sambil melepaskan burung itu.

Ketika pulang ke rumah, istrinya sudah menunggu. "Aku di sini, Suamiku, sedang membuat sop gandum. Mana burung untuk penyedap sop gandum ini?" teriak istrinya dari dapur.

"Duh, istriku, aku tidak mebawa apa-apa.Tadi, aku mendapatkan seekor burung kecil dan bagus, tetapi aku lepaskan lagi," jawab suaminya.

Mendengar jawaban dari suaminya, istrinya sangat marah. Sop gandum yang sudah matang itu, lalu dilemparkan kepada suaminya.

"Manusia tidak berguna." bentak istrinya. "Kau pergi sepanjang hari, tetapi tak dapat membawa hasil apa-apa."

Sementara itu, di dekat tungku, ada dua ekor kucing yang sedang duduk.

"Kasihan sekali, majikan kita. Apa yang akan kaulakun jika aku tidak membawa tikus untuk makan malam kita ?" kata kucing betina

"Kalau kau berani berkata seperti itu, akan kulempar kepalamu dengan kotak ini." kata kucing jantan.

Mendengar obrolan ini, Ahmad tersenyum. Melihat Ahmad tersenyum istrinya bertambah marah, karena ia menyangka kalau suaminya sedang menertawakannya," Suamiku, aku akan menuntut mas kawinku dan menyuruhmu untuk mengembalikan ke orangtuaku kalau kau menertawakanku lagi."

"Istriku," kata suaminya. "Aku tidak menertawaimu."

"Apa di sini ada orang lain selainku,," tanya istrinya

Ahmad diam saja. Ia tidak menceritakan bahwa ia mengerti bahasa binatang, karena ia telah berjanji tidak akan mengatakan kepada siapa pun. 

Hari berikutnya, Ahmad menangkap seekor kelinci di perangkapnya. Kelinci ini pun dapat berbicara," Hai manusia lepaskanlah aku, karena aku salah satu pembantu jin!"

Maka dilepaskanlah kelinci itu. Sebagai pengganti kelinci, ia dapat membawa sebuah wortel besar ke rumahnya untuk istrinya yang ia ambil dari ladangnya.

"Suamiku," tanya istrinya, "apa yan kau bawa untuk penambah sedap makan malam ini, karena sop gandumnya telah matang. "Aku berharap kau akan membawa seekor kelinci."

"Aku tidak membawa kelinci istriku, tapi wortel besar."

"Aduh, bodohya," teriak sang istri sambil melempar sendok kepadanya. "Pokoknya, kau harus membayar mas kawinku dan pulangkan aku ke rumah orangtuaku kalau kejadian ini terulang lagi."

Pada saat itu, ada dua ekor kucing, sedang berdiri di dekat pintu dapur. "Lihatlah perlakuan istri majikan kita pada suaminya," kata kucing betina. "Apa yang akan kau lakukan kepadaku jika aku memperlakukanmu seperti itu."

"O, aku akan menggigitmu sampai kau terluka," jawab kucing jantan.

Mendengar obrolan itu, Ahmad tersenyum, istrinya marah-marah lagi. " jangan tertawai aku. Besok aku akan pergi meninggalkanmu pagi-pagi sekali." teriak sang istri di telinga suaminya.

Ahmad lalu meminta maaf kepada istrinya, tetapi ia tetap tidak menceritakan tentang rahasia itu. Agar istrinya senang, maka ia beri istrinya sebuah hadiah.

Ketika satu minggu berlalu, dan setiap hari sang istri marah-marah terus, Ahmad merasa tidak enak, maka berdoalah ia kepada Tuhan, meminta petunjuk agar yang kuasa memberikan jalan keluar yang terbaik.

Setelah selesai berdoa, Ahmad bangun dan berjalan menuju ke lemari pakaian untuk menaruh sajadah. Di sana ia melihat dua ekor tikus yang sedang bercakap-cakap. "Hai, Saudaraku, majikan kita punya masalah semalam. Aku takut, ia lebih baik memilih dibawa jin, daripada ia harus menerima omelan istrinya."

Sebetulnya, masalah ini tidak sulit, Istrinya berpikir bahwa suaminya itu bodoh, karena sang suami terlalu penurut. Tapi kalau suaminya bertindak seperti layaknya kepala Rumah Tangga. Aku rasa tidak akan terjadi hal-hal yang demikian." jawab tikus jantan.

Ahmad menutup pintu lemari itu. Lalu ia berpikir sebentar. "Betul juga apa yang dikatakan oleh tikus-tikus itu. Aku harus menunjukkan bahwa akulah yang menjadi kepala rumah tangga di sini," kata Ahmad dalam hati sambil tersenyum.

"Apa yang kau tertawai. Apa ada sesuatu yang lucu," tanya istrinya sambil melemparkan segenggam kulit kacang kepadanya.

"Jangan pikir aku sedang menertawaimu," kata Ahmad dengan suara tinggi. Kerjakanlah apa yang harus kau kerjakan. Biarkanlah aku mengerjakan pekerjaanku sendiri."

Mendengar perkataan sang suami, sang istri sempat kaget. Baru pertama kali ia melihat tingkah suaminya seperti itu. Ternyata, suaminya tidak sebodoh yang ia pikir. Lalu ia berkata, "Baik suamiku. Maafkan aku, kalau selama ini aku suka marah-marah. Aku akan mencoba memperbaiki kelakuanku."

Setelah kejadian itu, sang istri tidak pernah lagi marah-marah dan mereka hidup bahagia.

Sumber: Buku Kisah Anak-anak dari Asia Tengah "Orang Bijak dan Muridnya"
Penulis: Males Sutiasumarga 
Penerbit: Zikrul Hakim  - Jakarta







0 Response to "Kisah Si Ahmad dan Istrinya"

Post a Comment