Lawongo, Cerita Rakyat Sulawesi Utara

lawongo, cerita rakyat sulawesi utara
Ada seorang pemuda tampan dari Pulau Ka-baruan. Namanya Lawongo. Lawongo seorang pemburu yang hebat, ia tak pernah pulang dari hutan tanpa membawa hewan buruan. Namun ada lagi kemahirannya yang menakjubkan yaitu ahli meniup seruling yang merdu sekali. Keahliannya meniup seruling sangat dikagumi oleh rakyat setempat. Orang tua atau orang muda sangat menyukainya. Para gadis remaja banyak jatuh cinta kepada dirinya.

Pemuda ini sering berkelana keliling pulau untuk mempertunjukkan kemahirannya memainkan suling sambil mencari-cari gadis yang didambakannya. Pada suatu ketika di negeri Damau ia bertemu dengan seorang gadis yang cantik. Diantara sekian banyak gadis yang cantik yang ditemuinya, baru kali inilah hatinya terpikat. Ia jatuh hati dan mencintai gadis itu, maka ia memutuskan untuk melamar si gadis untuk dijadikan istrinya. Tidak berapa lama kemudian, perkawinan pun diselenggarakan tanpa mengalami kesulitan dan gangguan.

Setelah perkawinan berlangsung. Lawongo menetap di desa Damau, tempat istrinya. Untuk menghidupi istri dan dirinya sendiri, Lawongo terus bertani dan berburu babi hutan. Setiap hari ia berhasil membawa hasil buruannya ke rumah. Rakyat Desa Damau sangat menghargai pekerjaan Lawongo ini, karena setelah kedatangan ke desa itu, masyarakat terhindar dari gangguan babi hutan yang kerap berkeliaran di sekitar desa dan merusak kebun mereka.

Mereka menyukai dan menyanyangi Lawongo, lebih-lebih pada malam harinya mereka pun mendapat hiburan dari suara seruling yang dimainkan oleh Lawongo. Oleh karena itu, Lawongo dengan segera mendapat perhatian luas dari penduduk setempat dan menjadi pujaan orang di desa baik tua atau muda.

Selagi manusia hidup di dunia, ia akan mengalami suka dan duka. Jika manusia mendapat kemudahan dan kebahagiaan hendaklah ia ingat bahwa semua itu berasal dari karunia Tuhan. Dan jika manusia mendapat kesulitan atau derita, maka ingatlah bahwa di dunia ini kita memang tidak bisa hidup selama-lamanya, akhirnya mati juga.

Konon, demikian banyak babi hutan yang dibunuh Lawongo, salah satu dari babi hutan yang terbunuh adalah babi siluman. Maka pada suatu ketika kerabat si babi hutan membalas dendam dengan cara yang sangat aneh.

Pada suatu malam Lawongo bermimpi berburu babi hutan. Babi yang telah berhasil ditombaknya mengamuk dengan ganasnya sehingga hampir membinasakan hidupnya. Untuk menyelamatkan jiwanya, ia mencabut pisau dari sarungnya lalu menikam babi itu.

Sesudah ia bermimpi, ia tertidur kembali di kamarnya bersama istrinya. Keesokan harinya seperti biasa ia berangkat berburu. Pagi-pagi ia bangun membawa tombak dan pisaunya. Ia sengaja tidak membangunkan istrinya untuk berpamitan karena hari masih sangat pagi.

Ada sesuatu yang aneh dirasakan oleh Lawongo. Hari itu agak mendung dan sepi. Burung-burung tak ada yang berkicau. Ranting pepohonan tidak bergoyang karena tidak angin yang meniupnya. Alam seolah berduka. Seharian itu tidak ada seekor babi pun yang berkeliaran. Bahkan tak seekor binatang pun nampak pada hari itu.

Ketika hari sudah semakin siang. Badan Lawongo sudah sangat letih, perut lapar dan kerongkongannya terasa haus. Untuk menghilangkan rasa haus ia memanjat sebatang pohon kelapa guna memetik beberapa butir buahnya. Ketika ia hendak mencabut pisaunya untuk membelah kelapa itu, pisau itu sangat keras melekat pada sarungnya. Dengan sekuat tenaga ia mencabut pisau itu, akhirnya berhasil. Ia sangat terperanjat setelah melihat membeku pada pisaunya itu. Darah itu rupanya yang menyebabkan goloknya sulit dicabut. Tiba-tiba teringatlah  Lawongo atas mimpinya semalam.
"Jangan-jangan......ah, tidaaaak...!"  Lawongo menjerit keras lalu segera berlari ke rumah. Begitu tiba di ujung desa ia lihat orang sudah banyak berkumpul di depan rumahnya.

Hatinya semakin miris. Segera ia menerobos kerumunan orang untuk masuk ke dalam rumah. Ternyata benar dugaannya mengenai mimpi semalam. Rupanya bukan babi hutan yang ia tusuk dengan goloknya, namun isti yang sedang tidur di sampingnya  yang menjadi sasarannya.

lawongo, cerita rakyat sulawesi utara
Dengan menjerit keras ia memeluk istrinya yang sudah tidak bertanya lagi. Ia benar-benar menyesal atas kejadian yang menimpa diri istrinya.

"Istriku....untuk apalagi aku hidup di dunia tanpa kau disisiku....? bisik Lawongo seolah istrinya masih hidup. Ia membelai-belai rambut istrinya dengan derai air mata. Beberapa lama kemudian, ia berteriak kepada orang-orang di sekelilingnya."Tolong buatkan dua peti mati. Satu untuk istriku, satu lagi untuk diriku sendiri."

Semua orang yang hadir terperanjat mendengar permintaan itu. Mereka tidak setuju untuk mengubur Lawongo hidup-hidup bersama mayat istrinya. Janganlah kalian tunjuk benda itu. Jangan pula kalian teriaki. Kalian diam saja menunggu benda itu di pantai dengan tenang. Jangan kaget!"

Keesokan harinya dikuburkanlah Lawongo hidup-hidup bersama istrinya atas permintaannya sendiri. Pada hari pertama dan kedua, orang di desa itu masih mendengar suara seruling Lawongo. Pada hari-hari berikutnya suara seruling itu semakin mengecil sampai akhirnya pada hari ketujuh suara itu lenyap sama sekali.
"Berarti dia telah benar-benar pergi untuk selamanya." kata salah seorang penduduk.

Pada hari berikutnya pagi-pagi sekali seluruh sanak keluarga Lawongo dan beberapa penduduk setempat berbondong-bondong menuju pantai sesuai dengan pesan Lawongo. Mereka duduk dengan tenang di pantai menunggu benda aneh yang katanya akan muncul dari kaki langit. Satu dua jam kemudian benda itu belum juga muncul. Beberapa orang mulai meragukan akan kebenaran pesan Lawongo. Namun Lawongo ternyata tidak berdusta, beberapa saat kemudian tiba-tiba muncullah dari permukaan laut di kaki langit sebuah benda raksasa seperti gunung mencuat dari air laut menuju pantai desa Damau. Melihat benda raksasa aneh itu, terkejutlah orang-orang yang berkumpul di pantai. Mereka berteriak ketakutan karena benda itu semakin lama semakin besar dan menuju ke arah mereka.

Apa yang terjadi kemudian? Serentak benda raksasa itu berhenti di tengah-tengah. Orang-orang semakin penasaran. Mereka ingin mengetahui benda itu dari dekat. Maka berlayarlah beberapa orang dari mereka menuju benda itu. Setelah mereka mendekati benda itu, ternyata itu berupa pulau karang. Lalu, mereka menamai pulau itu Napom-balu.

Di saat pasang besar, pulau itu tenggelam dan di saat surut, pulau itu muncul kembali ke permukaan. Jadi, kadang-kadang tidak sesuai dengan namanya napo berarti pulau karang, nawalu berarti benda aneh yang berubah menjadi sebuah pulau.

Sumber: Buku Cerita Rakyat Sulawesi Utara (Lawongo, Keberanian sejati, membunuh raksasa)
Penyusun: M.Yudhistira
Gambar: Irsyadul Anam
Penerbit: Mitra Cendekia Surabaya

0 Response to "Lawongo, Cerita Rakyat Sulawesi Utara"

Post a Comment