Legenda Gunung Arjuna

legenda gunung arjuna
Di sebuah utara Kota Batu, Malang, terdapat sebuah gunung. Gunung Arjuna, namanya. Di pagi hari, Gunung Arjuna tampak menjulang megah. Sesekali puncak gunung itu tampak mengeluarkan asap.

Dulu menurut legenda, tinggi gunung itu hampir menyentuh langit. Namun, kini Gunung Arjuna hanya setinggi 3.339 m. Ini disebabkan keangkuhan Arjuna seperti yang dikisahkan dalam legenda ini.

Arjuna adalah pemuda Rupawan. Ia anak ketiga dari lima bersaudara Pandawa. Oleh karena itu, disebut penengah Pandawa. Arjuna jago memanah. Ia pun sakti mandraguna. Dewa memberikan kesaktian itu karena ia gemar bertapa.

Suatu hari, Arjuna kembali ingin bertapa. Ia pergi mengembara keluar-masuk hutan. Berbulan-bulan ia berjalan sampai ia tiba di sebuah gunung. Lalu ia bersila dan mulai bersemadi.

Berbulan-bulan Arjuna bertapa di situ. Siang malam ia bersemadi, sehingga tubuhnya bersinar-sinar, mengeluarkan kekuatan yang dahsyat.

Hasil bertapa Arjuna ternyata membawa akibat yang mengejutkan. Puncak gunung tempatnya bertapa terangkat ke atas hingga hampir menyentuh langit.

Kayangan tempat para dewa berguncang. Batara Narada pun terburu-buru terbang ke bumi. Ia pergi menyidik untuk mengetahui apa yang menyebabkan kayangan berguncang hebat.

Batara Narada menemukan Arjuna di gunung itu.
"Arjuna, bangunlah! Semua orang dan para dewa akan celaka bila kau tak mau menghentikan tapamu!" panggil Batara Narada.

Sebenarnya, Arjuna mendengar panggilan Batara Narada itu. Namun, keangkuhan hatinya menyebabkan ia tak mau mengakhiri tapanya.

"Kalau aku tak mau bangun, para dewa pasti kebingungan. Mereka akan menghadiahi aku senjata dan kesaktian yang lebih banyak," pikir Arjuna. Lalu, ia pun semakin tekun bersemadi.

Batara Narada kebingungan. Ia tak berhasil membangunkan Arjuna, meskipun ia sudah membujuk dan menjanjikan berbagai kesaktian kepadanya.

"Aku harus segera melapor kepada Batara Guru," ujar Batara Narada putus asa. Ia pun bergegas kembali ke Kayangan.

"Oh, Adik Guru! Cepatlah bertindak! Kalau tidak, Arjuna akan menimbulkan bencana buat kita semua," lapor Batara Narada.

"Huh! jadi semua ini gara-gara Arjuna, Mau apa sebenarnya penengah Pandawa itu?" gerutu Batara Guru. Lalu, ia memanggil sejumlah bidadari cantik, perintahnya, "Goda Arjuna sampai ia mau mengakhiri tapanya!"

"Baik, Batara Guru," sahut para bidadari itu. Lalu, mereka terbang ke bumi.

Setibanya di tempat Arjuna, para Bidadari cantik itu mulai merayu dengan suara lembut. Segala cara mereka pakai untuk membangunkan Arjuna dari tapanya. Namun, Arjuna tidak bergeming. Ia tidak tergoda sedikitpun oleh rayuan mereka.

Para bidadari jelita itu kembali ke kayangan dengan wajah kecewa. Salah satu bidadari melapor kepada Batara Guru, "Ampun, Batara, kami tak berhasil menggoda Arjuna."

"Hm, kalau begitu panggil semua dedemit! Perintahkan mereka untuk menakut-nakuti Arjuna!" perintah Batara Guru.

Sepasukan dedemit dikirim ke gunung tempat Arjuna bertapa. Mereka pun menakut-nakuti Arjuna dengan segala cara. Namun, penengah Pandawa itu tetap tidak bergeming. Ia seakan terlena dalam tapanya.

Para dedemit segera melaporkan kegagalan mereka kepada Batara Guru. Betapa gundah hati Batara Guru. Ia berjalan mondar-mandir untuk mengurangi keresahan hatinya.

Di saat nyaris putus asa, tiba-tiba Batara Guru teringat Dewa Ismaya. Dewa Ismaya itu tak lain adalah Semar yang menjadi Punakawan Arjuna.
(Istilah punakawan berasal dari kata pana yang bermakna "paham", dan kawan yang bermakna "teman". Maksudnya ialah, para panakawan tidak hanya sekadar abdi atau pengikut biasa, namun mereka juga memahami apa yang sedang menimpa majikan mereka. Bahkan seringkali mereka bertindak sebagai penasihat majikan mereka tersebut-Wikipedia)

"Batara Narada, turunlah ke bumi! Temui Kakang Semar! Suruh ia membujuk Arjuna agar bersedia bangun dari tapanya!" ujar Batara Guru.

"Baik, Adik Guru," jawab Batara Narada. Dewa yang bertubuh gemuk itu pun segera melesat ke bumi.

Setibanya di tempat Semar, Batara Narada pun menceritakan keresahan hati Batara Guru.

"Oh, mengapa Arjuna bisa begitu? Biasanya, ia seorang satria yang baik," gumam Dewa Ismaya. Lalu, ia berjanji kepada Batara Narada, "Katakan pada Batara Guru agar tetap tenang. Aku akan segera pergi menemui Arjuna. Semoga aku bisa menyadarkan anak asuhanku itu." 

"Terima kasih, Dewa Ismaya. Kuharap kau berhasil," sahut Batara Narada. Ia pun kembali ke kayangan. 

Semar termenung sendirian. Ia sibuk mencari akal. "Aku akan minta bantuan Togog," gumam Semar beberapa waktu kemudian. Lalu, ia berangkat ke rumah adiknya. 

"Oh, Kakang Semar! Ada perlu apa Kakang ke sini?" sapa Togog riang. 

"Aku butuh bantuanmu Togog," sahut Semar. Lalu ia menceritakan perihal tugas yang diberikan Batara Guru kepadanya. 

"Apa yang akan kita perbuat Kakang?" tanya Togog. 

"Kita harus memotong puncak gunung tempat Arjuna bertapa," jawab semar. "Mari cepat berangkat, Adikku!" 

"Mari, Kakang Semar," sambut Togog bersemangat. 

Kedua kakak beradik itu segera berangkat. Setibanya di gunung tempat Arjuna bertapa, mereka berpencar. Masing-masing menempati sisi gunung itu. Lalu, mereka bersemadi. Berkat kesaktian mereka tubuh mereka berubah menjadi tinggi besar. Tingginya melampaui puncak gunung itu. Lalu, mereka mengeruk bagian bawah puncak, dan memotongnya! 

"Ayo kita lemparkan puncak gunung ini ke tempat lain," kata Semar. Mereka melemparkan puncak gunung itu ke sebelah tenggara Kota Batu. Terdengarlah suara berdebum saat potongan gunung itu mendarat di bumi. 

Arjuna terbangun seketika dari tapanya. Ia amat terkejut ketika melihat Semar dan Togog di hadapannya. 

"Apa yang terjadi, Uwa Semar?" tanya Arjuna. 

Semar tersenyum bijaksana. Lalu, ia berujar tenang "Kami baru memotong dan melemparkan puncak gunung ini, Raden." 

"Kenapa kau lakukan itu Uwa Semar? Dewa pasti tak jadi memberiku banyak senjata dan kesaktian," omel Arjuna. 

"O, itukah keinginan Raden? Masih belum cukupkah kesaktian yang Raden miliki sekarang ini?" jawab Semar. Lalu, Semar memberi nasihat," sadarlah Raden. Raden adalah seorang satria sakti yang disegani setiap orang. Oleh karena itu, Raden harus rendah hati dan tidak sombong. Keangkuhan hati Raden bisa menimbulkan malapetaka bagi diri Raden, juga bagi orang lain." 

Oh, betapa malunya Arjuna. Ia buru-buru minta maaf. "Saya telah khilaf, Uwa Semar. Maafkan sikap saya itu." 

"Syukurlah kau akhirnya sadar, Raden. Kalau tidak, Sang Hyang Wenang, raja segala dewa pun, tak akan memaafkan perbuatanmu tadi," ujar semar sembari tersenyum. 

"Terima kasih atas bantuan kalian, Uwa Semar dan Uwa Togog," ucap Arjuna. 

"Kukira tugas kita telah selesai, Kakang. Mari kita Pulang!" ajak Togog. 

"Aku setuju, Uwa Togog. Aku pun sudah rindu pada Petruk, Gareng, dan bagong," sambut Arjuna. 
Ketiga orang itu pun segera meninggalkan tempat itu.

Sejak itu gunung tempat Arjuna bertapa diberi nama Gunung Arjuna. Sedangkan puncak gunung yang dilemparkan oleh Semar dan Togog dinamai Gunung Wukir.

Kesimpulan
Cerita tentang Gunung Arjuna ini disebut legenda, sebab Gunung Arjuna dan Gunung Wukir itu masih bisa kita lihat sampai sekarang. Gunung Arjuna terletak di sebelah utara Gunung Batu, sedangkan Gunung Wukir letaknya di sebelah tenggara Kota Batu. 
 Perlu kita ingat bahwa kita sering lupa diri seperti Arjuna. Lebih-lebih kalau kita sedang bernasib baik. Kita cenderung menjadi sombong dan tinggi hati. 
Dengan membaca legenda ini hendaknya selalu ingat bahwa kesombongan itu tidak baik, karena bisa merugikan diri kita dan orang lain. Hendaknya kita selalu rendah hati meskipun kita mempunyai keistimewaan tertentu.  

Sumber: Buku Ceri Rakyat Dari Jawa Timur 
Oleh: Dwianto Setyawan 
Penerbit PT. Gramedia Widisarana Indonesia, Jakarta 1997

0 Response to "Legenda Gunung Arjuna"

Post a Comment