Legenda Minak Kejalo Ratu dan Minak Kejalo Bidin

legenda minak kejalo ratu dan minak kejalo bidinMenurut cerita masyarakat Lampung yang tinggal di daerah Pungung, Lampung Tengah dan sekitarnya, setelah Raja Banten menikah dengan Putri Kandang Rarang dan Putri Sinar Alam, raja itu pun pulang ke istananya di Banten tanpa membawa kedua istrinya.

Kedua istri Raja Banten yang tinggal di Kerajaan Pungung, akhirnya melahirkan masing-masing seorang anak lelaki. Putri Kandang Rarang melahirkan seorang putra yang diberi nama Minak Kejalo Ratu bergelar Ratu Darah Putrih, sedangkan Putri Sinar Alam melahirkan seorang putra yang diberi nama Minak Kejalo Bidin. Kedua putra Raja Banten dari istri keturunan Raja Pungung itu kian hari kian besar. Keduanya bersaudara sebab ibu mereka kakak beradik, satu keturunan. 

Tersebutlah cerita, pada suatu hari Minak Kejalo Ratu dan Minak Kejalo Bidin bermain-main dengan kawan-kawan sekampung. Ternyata, mereka kalah. Karena kalah, keduanya diejek dan dihina kawan-kawan sepermainan. Anak-anak itu mengatakan bahwa Minak Kejalo Ratu dan Minak Kejalo Bidin tidak punya ayah. Mendengar hinaan itu, Minak Kejalo Ratu dan Minak Kejalo Bidin pulang mengadukannya kepada ibu mereka. Tiba di rumah, keduanya menyampaikan apa yang mereka dengar dari anak-anak kampung tadi. 

"Benar, kalian tidak mempunyai ayah!" jawab Putri Kandang Rarang maupun Putri Sinar Alam setelah mendengar pertanyaan putra-putranya. Mendengar jawaban itu, Minak Kejalo Ratu maupun Minak Kejalo Bidin termenung, lalu keduanya ke luar rumah. Saat termenung, mereka melihat ada tiga ekor burung di daun kelapa. Ketiga burung itu adalah burung tekukur yang sedang mengapit anaknya. Bergegaslah kedua anak Raja Banten itu masuk ke rumah. Mereka bertanya kepada ibu mereka. 
"Bu, apakah burung tekukur di atas daun kelapa itu mempunyai ayah dan ibu?" tanya Minak Kejalo Ratu. 

"Benar, burung tekukur itu adalah ayah dan ibu dari anak burung yang sedang mereka asuh," jawab Putri Kandang Rarang. 

"Kalau begitu, kami juga punya ayah?" tanya Minak Kejalo Bidin. 

"Benar, ayah kalian adalah Raja Banten. Letak Banten jauh dari sini," jawab Putri Kandang Rarang kepada Minak Kejalo Ratu dan Minak Kejalo Bidin.

Setelah agak besar, Minak Kejalo Ratu dan Minak Kejalo Bidin berunding. Keduanya bermufakat akan pergi ke Banten menemui ayah mereka. Akhrinya, diputuskanlah bahwa suatu hari kelak mereka akan pergi ke Banten menyusuri Sungai Sekampung. 

Sesuai dengan keputusan. Keduanya pun berangkatlah. Setiba di Muara Kula, Minak Kejalo Ratu berkata kepada adiknya, "Hai Adikku, sekarang kita kelaparan ..." 

Karena bekal mereka kuang, Minak Kejalo Bidin meneruskan perjalanan berlayar menuju Banten. Sementara itu, Minak Kejalo Ratu, sang kakak tinggal di Pelabuhan Ratu. 

Akhirnya, Minak Kejalo Bidin sampai di Banten. Ia langsung menghadap Raja Banten, ayahnya. Ketika ia hendak pulang ke Lampung, ayahnya memberi hadiah berupa tiga buah keris pusaka; Kelambi Sani, Atteu Lawet, dan Cemmai Segannik namanya, serta sebuah peti, Ayah Minak Kejalo Bidin berpesan agar peti itu jangan dibuka sebelum tiba di Lampung. 

Kemudian, pulanglah Minak Kejalo Bidin ke Lampung. Di tengah laut, Minak Kejalo Bidin tidak sabar ingin mengetahui isi peti pemberian ayahnya. 

Isi peti itu ternyata bula-bula (guci dari tanah, berisi air tertentu). Ketika dibuka, bula-bula itu melompat keluar. Satu melompat ke Pulau Sengiang dan yang lain ke Pulau Tempurung. Sebelum bula-bula melompat, terjadi perkataan/perjanjian dari bula-bula itu, apabila kelak di kemudian hari Minak Kejalo Bidin mendapat kesusahan, panggillah bula-bula yang keluar dari peti itu. 

Sementara itu, Minak Kejalo Ratu berlayar menumpang sebuah perahu menuju Banten menemui ayahnya. Menurut cerita orang tua di Pungung, ketika sampai di hadapan Raja Banten, berceritalah Minak Kejalo Ratu. Akan tetapi, Raja Banten tidak percaya. 

"Alangkah banyak anak saya di Lampung," kata Raja Banten mendengar pengakuan Minak Kejalo Ratu. " Kalau begitu saya uji engkau," kata Raja. 

Minak Kejalo Ratu bersedia diuji. Ia disuruh tidur di atas daun pisang selama tiga hari tiga malam. Apabila daun pisang tidak layu, berarti benar ia anak Raja Banten. 

Setelah tiga hari tiga malam, ternyata daun pisang alas tidur Minak Kejalo Ratu tidak layu. Daun pisang itu tetap segar dan hijau. Setelah itu, resmilah pengakuan Raja Banten terhadap Minak Kejalo Ratu sebagai anaknya yang berasal dari istrinya, Putri Kandang Rarang di Lampung. 

Setelah beberapa hari, Minak Kejalo Ratu pun minta diri untuk pulang ke Lampung. Karena tidak ada yang diberikan kepada Minak Kejalo Ratu, Raja Banten hanya memberi Kancing Lawang Kuri dengan pesan agar tidak dibuka sebelum tiba di Lampung. 

Di tengah perjalanan, di laut, Minak Kejalo Ratu berkata dalam hati bahwa kancing Lawang Kuri pemberian ayahnya banyak terdapat di Lampung. Oleh karena itu, Kancing Lawang Kuri itu dibuang ke laut. Karena terbuat dari kayu, Kancing Lawang itu mengapung dan berubah menjadi keris. Ketika Minak Kejalo Ratu mengambil keris itu, ternyata berubah kembali menjadi kayu. Begitu seterusnya. Akhirnya keris itu dibawa pulang ke Lampung dalam bentuk Kancing Lawang Kuri. Itulah asal usul keris pusaka Lampung yang bernama Keris Stemen Piteu. Sampai sekarang keris itu dianggap memiliki kekutan gaib.

Ketika Minak Kejalo Ratu sampai di Lampung, ia bertemu dengan adiknya, Minak Kejalo Bidin. Beberapa waktu setelah setelah itu atau kurang lebih tiga tahun. Minak Kejalo Ratu dan Minak Kejalo Bidin bermufakat membuat kampung yang diberi nama Pakuwen Ratu, sekarang bernama Asahan, pindah dari Sri Kulo.

Setelah kampung Pakuwen Ratu terbentuk, Minak Kejalo Ratu dan Minak Kejalo Bidin berselisih paham karena keduanya ingin menjadi pemimpin kampung. Karena tidak ada yang mau mengalah, keduanya memutuskan calaon pemimpin melalui adu kerbau.

Minak Kejalo Ratu mempunyai seekor kerbau kecil, sedangkan adiknya mempunyai kerbau besar. Ketika kerbau mereka diadu di tengah lapangan dan ditonton orang, kerbau kecil segera memburu kerbau besar. Dia ingin menyusu. Entah bagaimana, kerbau besar merasa geli dan lari tunggang langgang. Dengan demikian, kalahlah Minak Kejalo Bidin.

Karena malu, Minak Kejalo Bidin meninggalkan kampungnya dan pergi menyeberang Air Sekampung di Kali Andak. Kedua bersaudara itu membagi tanah sebelah Air Sekampung sampai Way Kubang Repipue dan Dawak Buring Sebelah Tigeneneng menjadi kekuasaan Ratu Melinting alias Minak Kejalo Bidin.

Sebelah Air Sekampung, Batu Andak sampai Belimbing Tanjung Cina menjadi kekuasaan Ratu Darah Putih alias Minak Kejalo Ratu di Kali Andak.

Kesimpulan
Cerita Minak Kejalo Ratu dan Minak Kejalo Bidin adalah legenda nenek moyang orang Lampung. Legenda ini memberikan pelajaran kepada kita untuk memahami sejarah dan kebudayaan negeri sendiri dan menjadikannya sebagai bagian tak terpisahkan dari kehidupan sekarang serta masa yang akan datang. Selain itu, cerita di atas mengajarkan kepada kita bahwa harta benda dan jabatan sering membuat orang lupa diri. Bahkan, kakak beradik bisa ribut karenanya.

Oleh karena itu, janganlah hidup ini digunakan semata-mata untuk memikirkan harta dan jabatan. Pikirkan juga masalah sesudah hidup ini ada kehidupan lain yang harus dipersiapkan sejak sekarang. 

Sumber : Buku Cerita Rakyat Dari Lampung 
Penulis : Naim Emel Prahara 
Penerbit : Grasindo Jakarta

0 Response to "Legenda Minak Kejalo Ratu dan Minak Kejalo Bidin"

Post a Comment