Misteri Pohon Rambutan

Misteri Pohon Rambutan
Untuk kesekian kalinya, Edi merasa heran bercampur jengkel ketika melihat halaman depan rumah yang akan disapunya. Kulit, biji, dan sisa sisa buah rambutan bertebaran. Sudah hampir seminggu ini, setiap hari selalu ada sampah buah rambutan di tempat yang sama, di bawah pohon sawo duren yang tumbuh di halaman depan.

SEKARANG memang musim rambutan. Pohon rambutan di belakang rumah Edi berbuah lebat dan sebagian sudah berwarna merah siap dipetik. Siapa yang mengambil rambutan dan membuang sampahnya disini.? Edi merasa gemas dan ingin tahun siapa yang melakukan ini. 
"Aku harus menyelidiki hal ini," pikir Edi. 

Setelah naik ke kelas empat atau sekitar tiga bulan lalu, Edi mendapat tugas dari Ayah, menyapu halaman depan sebelum berangkat ke sekolah. Edi senang mengerjakan tugas itu. Setelah menyapu, Edi mandi dan sarapan, kemudian berangkat ke sekolah diantar Ayah naik motor. 

Pagi itu, saat sarapan bersama Ayah dan Ibu, Edi menyampaikan keinginannya. "Ayah, aku ingin menyelidiki siapa yang mengambil rambutan di pohon kita dan membuang sampahnya di halaman depan. Rambutan itu pasti diambil malam hari ketika kita tidur karena pada sore hari saat aku pulang mengaji, sampah itu belum ada." 

Ayah tersenyum mendengar ucapan Edi. Ia kemudian menoleh ke penanggalan yang tergantung di dinding rumah dan berkata. 
"Baiklah, besok sabtu malam, kita selidiki pelakunya. Kebetulan bulan sedang purnama, kita tidak membutuhkan senter. Tolong kamu siapkan tikar, baju hangat, bantal dan selimut. Kita akan tunggu si pelaku beraksi. "Ayah memberi ide dengan bersemangat.  

Ibu tak mau tinggal diam. "Ibu akan bantu misi ini dengan menyiapkan makanan kecil dan minuman hangat, serta krim anti nyamuk," katanya sambil mengedipkan mata ke Edi. 

Edi senang karena mendapat dukungan dari Ayah dan Ibu. 

HARI sabtu sepulang sekolah dan makan siang, Ibu meminta Edi tidur siang agar tidak mengantuk saat penyelidikan. 

Kata Ayah, penyelidikan akan dilakukan setelah shalat Isya dan makan malam. 

Tikar digelar di halaman yang kering, menghadap ke pohon rambutan. Bantal, Selimut, makanan dan minuman diletakkan dengan rapi diatas tikar. Ibu membantu mengoleskan krim anti nyamuk ke tangan dan kaki Edi. 

Menunggu malam agak larut, Edidan Ayah duduk sambil bertukar cerita tentang kegiatan-kegiatan di sekolah dan di tempat kerja. Ketika waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam. Ayah meminta Edi berbaring di atas tikar, tidak berbicara lagi, mengamati pohon rambutan, sambil menikmati keindahan bulan purnama dan bintang-bintang yang bertaburan di langit. 

Setelah 20 menit berbaring. Tiba-tiba dari langit utara terlihat beberapa kelelawar terbang menuju pohon rambutan. Makhluk kecil berwarna hitam dan bersayap lebar itu beterbangan di sekitar pohon, mengeluarkan suara mencicit, dan menimbulkan gemirisik. 

Edi terenyak, matanya tak bisa lepas dari pemandangan yang ada di hadapannya. Cahaya bulan memberikan sinar yang cukup terang sehingga Edi bisa mengamati kesibukan di pohon rambutan itu, 

KELELAWAR mencari buah rambutan yang ranum dan memetiknya dengan mulut, lalu terbang menjauh. Ayah meminta Edi bangkit dan memakai sandalnya. Tanpa suara, Edi mengikuti Ayah menuju halaman depan. Di sisi samping rumah yang gelap, Ayah berhenti dan merapat ke dinding. Ayah berbisik kepada Edi untuk mengamati satu batang pohon sawo yang tinggi, tempat kelelawar berada. Kelelawar-kelelawar tampak bergantungan sambil menikmati buah rambutan. Dengan mulut, mereka mengupas kulit, memakan buah, dan menjatuhkan bijinya di halaman. 

Ada kelelawar yang kurang hati-hati sehingga buah rambutan yang akan dimakan terjatuh. Edi dan Ayah terus mengamati kelelawar-kelelawar itu sampai semua terbang menjauh menuju arah selatan. 

AYAH mengajak Edi kembali duduk di tikar di halaman belakang. Edi berbisik bertanya kepada Ayah. "Mengapa kelelawar memakan buah rambutan di pohon sawo duren dan tidak memakan langsung di pohon rambutan?" 

Ayah menerangkan dengan suara perlahan bahwa terkadang kelelawar memakan buah yang matang langsung di pohonnya. Karena itu, kita sering menemukan buah pepaya atau jambu yang matang di pohon, tetapi sudah tidak utuh lagi. 

Jika ukuran buah tidak terlalu besar, mereka akan membawa buah matang ke pohon lain, mencari tempat bergantung yang nyaman dan aman untuk makan. Pada saat yang sama, kelelawar juga menebarkan biji-biji buah di tempat baru, jauh dari pohon asalnya. 

 Ayah  menunjuk ke langit arah utara, serombongan kelelawar datang lagi ke pohon rambutan di hadapan Edi. Namun, setelah membawa buah di mulutnya, kelelawar tidak terbang ke pohon sawo di halaman depan, tetapi terbang ke tempat lain. 

Edi senang, penyelidikannya berhasil. Kini ia tahu siapa mengambil buah rambutan dan membuang sampahnya di halaman depan. Edi tidak akan kesal lagi dengan sampah buah rambutan yang bertebaran di halaman yang disapunya setiap pagi. 

Sumber : Kompas minggu, 22 Februari 2015
Penulis : Retno Widowati 
Ilustrasi : Lintang Pandu Pratiwi

0 Response to "Misteri Pohon Rambutan "

Post a Comment