Ujian Akhir Fija

Ujian Akhir Fija
Fija gemetaran memasuki area ujian praktik di pinggir sungai. Tubuhnya berkeringat dingin. Matanya serasa berbintang-bintang memusingkan. Ujian kali ini adalah praktik bekerja menggunakan belalai. Jantung Fija tak henti-hentinya berdebam tak tenang. Bisakah dia ujian tanpa salah? 

Fija mengingat-ingat semua teori yang sudah dipelajari. Dia sudah membaca tuntas buku Tips 1001 Lulus Ujian Akhir. Kepalanya terayun-ayun saat hafalan. Matanya sipit sekali saat ia pejamkan. 

"Belalai gajah memiliki 50.000 otot. Fungsinya untuk menyedot air, mengangkat kayu berat, dan menjumput makanan. Cara menyedot air yang benar adalah.....".

Fiji begitu khawatir tidak lulus ujian akhir sekolah gajah. Jika tidak lulus, dia akan tinggal kelas. Keluarganya pun pasti kecewa. 
****
KREEEEK! Kreek! Kreeek! 
"Fija, stop! lihat jalanmu!" teriak teman-teman Fija dari kejauhan. 

Fija tidak konsentrasi memperhatikan jalan. Dia jalan terlalu jauh sampai menyeberangi sungai. Celakanya dia menginjak-nginjak bendungan keluarga berang-berang. Bendungan itu rusak parah karena injakan kakinya yang besar. Ranting dan pohon bendongan terbawa arus sungai yang deras. Keluarga berang-berang segera menyelamatkan diri ke tepi sungai. 

Fija tercengang dengan tindakan yang dia lakukan. Dia cepat-cepat minta maaf kepada Pak Beri berang-berang yang muncul dari air diikuti 10 anggota keluarganya. Pak Beri menggeleng. Dia menunjuk jauh ke ujung sungai. "Aku lebih khawatir pada keluarga binatang yang tinggal di daerah muara. Rumah mereka pasti kebanjiran karena air sungai tiba-tiba meluap."

****

"ASTAGA, aku harus memberitahu para binatang di daerah hilir. "Fija meniup belalainya keras-keras. Dia mengeluarkan bunyi terompet peringatan. Beberapa binatang terdekat cepat-cepat menyingkir dari tepi sungai. 

Fija membayangkan keluarga binatang di daerah hilir kuyup karena banjir yang tiba-tiba. Dia tidak bisa diam saja. Bendungan baru harus segera dibangun. 

Fija merobohkan dua batang pohon berukuran sedang. Dia memasang pohon melintang di tengah sungai. Dia juga memungut ranting-ranting pohon untuk mengurangi air yang deras. 

Keluarga berang-berang berenang memasang ranting yang tidak bisa dicapai belalai gajah. Mereka terus bekerja sama membangun bendungan. Tak lama, aliran air sungai mengalir tenang seperti sedia kala. 

Pak Beri menyalami belalai Fija sebagai ucapan terima kasih. Keluarga berang-berang sudah mendapat bendungan baru untuk mereka tinggali. Binatang di daerah hilir juga lega sungai tidak meluap lagi. Telinga lebar Fija melambai-lambai karena bangga. 

"Astaga, ujianku!" Fija menepok belalai ke kepalanya yang botak. 

Dia menoleh ke seberang sungai. Pak Harja, guru ujian praktek, melotot padanya. Begitu juga sembilan teman-teman yang mengikuti ujian akhir. Mereka melongo melihat tragedi bendungan rusak tadi. 
****
FIJA segera menyeberang sungai dengan hati-hati. Dia mengingatkan dirinya untuk konsentrasi melihat jalan. Jika menginjak bendungan lagi, bisa-bisa dia tak jadi ujian. 

"Kita pindah agak ke tengah hutan saja. Kasihan keluaga berang-berang terganggu ujian kita," kata Pak Harja saat Fija tiba di area ujian kembali. 

Pak Harja memasuki hutan diikuti Fija dan kesembilan temannya. Fija berusaha fokus melewati jalan yang mereka lalui. Tidak lagi melamunkan isi buku-buku yang sudah dipelajari sebelumnya. 

Setelah menemukan tempat luas, ujian dimulai. Pak Harja memanggil semua murid satu per satu untuk ujian. Fija menunggu giliran dengan cemas. 

Anehnya, Pak Harja tak jua memanggilnya. Bahkan sampai buku daftar ditutup, namanya tidak disebut. Jangan-jangan dia melamun lagi waktu ujian tadi. Atau dia tidak diperbolehkan ujian karena kesalahan tadi pagi ? 

"Ehm, anu..., Pak Harja. Saya belum dipanggil ujian?" Fija mendekati Pak Harja yang sedang mengemas barang-barang dan bersiap pergi. 

Pak Harja memandang Fija dengan tertawa. "Kamu kan sudah ujian paling awal tadi. Mengangkat kayu, menjumput ranting, menyedot air sungai. Bendungan buatanmu tadi sempurna, Fija. Kamu lulus ujian akhir sekolah gajah." 

Fija melongo. Dipandangnya Pak Harja yang beranjak meninggalkan lapangan dengan tak percaya. Kesembilan temannya menerompet dengan gembira dengan kelulusan Fija yang luar biasa. 

Sumber : Kompas Minggu, 1 Maret 2015. 
Penulis : FiFadilla 
Ilustrasi : Alia Putri  

0 Response to "Ujian Akhir Fija "

Post a Comment