Dua Ekor Kambing Yang Congkak

Dua Ekor Kambing Yang Congkak
Ada seekor kambing yang sangat sehat meskipun tubuhnya kecil. Karena tanduknya bagus seperti pisau, teman temannya memanggilnya dengan julukan si Tanduk. Dia sangat bangga dengan panggilan itu. Jika pergi minum air ke sungai bersama teman temannya, dia selalu pulang paling akhir. Teman temannya sudah naik dan kembali ke padang, dia masih tetap di sungai. Apa gerangan yang dia kerjakan di situ ? Dia asyik memandangi bayangan tubuhnya dan bayangan kedua tanduknya yang tergambar di permukaan air.

Pada saat mengagumi dirinya seperti itu, dia berkata dalam hati, "Sungguh indah kedua tandukku. Mungkin akulah kambing tergagah di seluruh dunia. Pantas, semua kawanku segan padaku karena mereka takut akan ketajaman tandukku."

Setelah puas memandangi bayang bayang dirinya, barulah dia menaiki tebing sungai dan berkumpul dengan teman temannya.

Padang tempat si Tanduk makan rumput itu terletak di sebelah timur sungai. Sesekali si Tanduk ingin berjalan jalan ke barat sungai untuk memperluas pengalaman. Selain itu, dia ingin memperlihatkan tanduknya yang bagus kepda bangsa kambing yang tinggal di sebelah barat sungai. Meskipun lebar sungai itu hanya lima meter, bangsa kambing agak sulit menyeberang karena sir sungai cukup dalam.
Jembatan yang dipasang manusia untuk menyeberang sungai itu hanya berupa jembatan bambu yang tidak mungkin dilewati kambing. Oleh karena itu, keinginan si Tanduk untuk berjalan jalan ke barat sungai tinggal impian belaka.

Pada bulan Februari, angin barat di Pulau Madura sangat keras bertiup. Curah hujan juga deras. Angin yang bertiup keras itu merobohkan banyak pohon. Sebtang pohon kelapa yang tumbuh di tebing barat sungai roboh. Batang pohon kelapa itu tepat melintang sungai. Orang orang yang akan melintasi sungai itu kini menggunakan pohon kelapa yang roboh itu sebagai jembatan . Enak sekali mereka berjalan di atas pohon kelapa itu.

Melihat manusia lalu lalang melintasi sungai, si Tanduk ingat akan ke inginannya untuk berjalan jalan ke barat sungai. Pikirnya,"Kini tibalah saatku untuk memperlihatkan tandukku ke barat sungai. Kambing kambing yang ada disana pasti kagum akan keindahan tandukku."

Tanpa bicara kepada teman temannya, si Tanduk cepat melangkah mendekati jembatan yang berasal dari pohon kelapa yang roboh itu. Ketika ia mulai naik dari ujung jembatan sebelah timur, dari tebing sebelah barat naik pula seekor kambing hitam berjenggot lebat.

"Hei, kambing hitam," tegur si Tanduk,. "mau kemana engkau?"

"Jangan seenaknya engkau memanggil aku kambing hitam. Apa engkau tidak melihat jenggotku yang lebat?"

"Ya, aku melihat," jawab si Tanduk.

"Karena itu, panggil aku si Jenggot. Semua kambing kagum akan kehebatan jenggotku yang indah ini. Aku akan berjalan jalan ke timur sungai. Kambing kambing di sana akan kagum pada jenggotku ini. Tolong Kawan, beri aku jalan. Turunlah engkau dari ujung titian sebelah timur itu!" kata si Jenggot.

" Aku yang lebih dulu menginjakkan kaki di atas jembatan ini, " kata si Tanduk bertahan," aku mau ke sebelah  barat sungai. Engkaulah yang harus turun dari jembatan di tebing sebelah barat itu."

" Engkau harus mengalah," kata si Jenggot.

" Engkau yang harus mengalah," desak si Tanduk.

"Apa engkau tidak kenal, siapa aku?"

"Akulah si Tanduk. Lihat tandukku, panjang dan tajam bukan?" kata si Tanduk.

Sambil berdebat, kedua kambing itu terus berjalan.
" Meskipun tandukmu hebat,"kata si Jenggot," aku minta engkau mundur dan memberikan jalan untuk ku."

"Tidak bisa, engkau harus mengalah," kata si Tanduk.

"Semua kambing hormat kepadaku. mentang mentang tandukmu hebat tidak memberikan jalan kepadaku. Ayo mundur!" kata si Jenggot.

"Tidak," jawab si Tanduk," aku tidak akan mundur."

Hati si Jenggot semakin panas. Dia berkata, " Kalau tidak mau mundur, engkau akan ku hantam."

"Baik," sahut si Tanduk," kalau engkau tidak mau mengalah dan tidak mau mundur, kedua matamu akan kutusuk dengan tandukku."

Di atas jembatan itu, si Jenggot menyerang si Tanduk. Si Tanduk pun tidak tinggal diam. Dia segera menanduk si Jenggot sehingga pelipis si Jenggot terluka dan berdarah. Kedua kambing itu terus berlaga dengan hati panas. Mereka lupa bahwa mereka bertarung di atas sungai.

Ketika si Jenggot menyerang dengan seluruh kekuatannya, si Tanduk bertubuh kecil itu tidak mampu bertahan. Akhirnya, dia jatuh ke sungai. Si Jenggot yang menyerang sekuat tenaga terpeleset dan jatuh ke sungai. Kedua kambing yang tidak bisa berenangitu tetap berusaha untuk hidup, tetapi air sungai yang deras menghanyutkan keduanya ke hilir. Beberapa menit kemudian kedua kambing yang malang itu menemui ajalnya.

Kesimpulan
Cerita ini termasuk fabel, yaitu dongeng tentang binatang yang bisa berbicara seperti manusia. Dalam ceritra ini kita mendapatkan pelajaran bahwa sifat sombong dan mementingkan diri sendiri bisa mendatangkan malapetaka. Seandainya kedua kambing itu rendah hati, atau salah satu di antaranya ada yang mau mengalah , tentu keduanya akan selamat.,

Sumber : Buku Cerita Rakyat Dari Sumatera
Oleh : James Danandjaya
Penerbit : Grasindo

0 Response to "Dua Ekor Kambing Yang Congkak"

Post a Comment