Pak Jalmo

pak jalmo sombong setelah menjadi orang kaya
Pak Jalmo Sombong Setelah Kaya
Di salah satu pulau yang terletak jauh di sebelah timur Pulau Madura pernah hidup seorang petani sederhana, Pak Jalmo namanya. Ia hidup dengan seorang istri dan dua orang anaknya. Pak Jalmo adalah orang yang sabar, rendah hati, serta suka membantu tetangganya.

Pada suatu ketika, berkunjunglah seorang sahabat Pak Jalmo. Pak Jalmo pun menceritakan kepada sahabatnya itu bahwa hasil panen yang ia dapatkan selalu tidak cukup dimakan selama satu tahun. 

Sahabat yang baik itu merasa kasihan kepada Pak Jalmo. Kemudian, ia berkata, "Hutan di sebelah selatan pekaranganmu ini sebenarnya bisa dibuka untuk pertanian. Tanahnya cukup bagus untuk dijadikan ladang jagung." 

"Tetapi, saya tidak punya biaya untuk membuka hutan," jawab Pak Jalmo. 

"Kalau engkau minta tolong kepada para tetangga, aku kira mereka siap membantumu," kata sahabatnya. 

"Tetapi saya malu minta tolong kepada para tetangga," jawab Pak Jalmo. 

"Kalau engkau malu, biarlah aku akan berbicara dengan mereka. Aku yakin mereka akan sangat senang membantumu." 

Beberapa hari kemudian, orang-orang desa berkumpul di halaman rumah Pak Jalmo. Mereka bekerja menebang pohon-pohon di hutan yang terletak di sebelah selatan rumah Pak Jalmo. Mereka bekerja sambil bernyanyi dengan gembira. Mereka membantu Pak Jalmo dengan hati ikhlas tanpa mengharap imbalan. 

Dua minggu lamanya mereka bekerja menebang hutan, akhirnya terbentanglah tanah ladang seluas empat hektar, Pak Jalmo dan istrinya sangat gembira mempunyai ladang seluas itu. 

"Kini kita menunggu datangnya musim hujan," kata Pak Jalmo kepada istrinya

"Kalau hujan turun, ladang kita itu hendak kau tanam apa?" tanya istrinya. 

"Jagung, ketela, kacang, dan sayur-sayuran," jawab Pak Jalmo. 

Suami istri itu berharap hujan segera turun. Mereka ingin segera mengolah tanah ladangnya menjadi sumber rezeki. Akhirnya, musim hujan pun datang. Pak Jalmo dan istrinya menyambut turunnya hujan dengan hati gembira. Ladang baru itu pun mulai dikerjakan. Karena Pak Jalmo tidak punya sapi untuk membajak, sebagian tetangga membantu membajakkan sawahnya. Demikian pula halnya bibit yang hendak ditanam, karena Pak Jalmo tidak punya persediaan, para tetangga menyumbang bibit padi untuk ditanam. 

Apa pun yang ditanam Pak yang Jalmo di ladangnya, ternyata bisa tumbuh dengan baik, meskipun tidak terlalu subur. Pak Jalmo bersama istrinya tidak bosan-bosannya menyiangi rumput-rumput liar yang dirasa menganggu tanaman. 

Musim panen pun tiba. Hasil panen yang diperoleh Pak Jalmo cukup menggembirakan. 

"Apakah tidak sebaiknya sebagian hasil panen kita itu dijual?" kata istrinya. 

"Untuk apa?" tanya Pak Jalmo

"Untuk dibelikan seekor anak sapi" 

"Usul yang baik," jawab Pak Jalmo sambil tersenyum. 

"Tahun depan, kalau panen baik, kita beli seekor sapi lagi," kata istrinya. "Tiga atau empat tahun lagi setelah anak sapi itu besar, kalau kita hendak membajak tanah tidak perlu pinjam atau minta bantuan tetangga lagi. 

"Terima kasih atas usulmu itu," jawab Pak Jalmo dengan gembira. 

Keesokan harinya, sebagian hasil panen Pak Jalmo dijual. Dari hasil penjualan itu, Pak Jalmo membeli seekor anak sapi. Ia sangat sayang pada sapinya itu. Ia selalu mencarikan rumput yang bagus untuk sapi itu. Tahun berikutnya, hasil panen Pak Jalmo semakin bagus, ia pun membeli seekor anak sapi yang sebaya dengan anak sapi sebelumnya. 

Dua tahun kemudian, Pak Jalmo sudah bisa membajak ladang tanpa bantuan para tetangga. Ia semakin tekun bertani. Kotoran dua ekor sapinya dibakar dengan daun dan rumput, kemudian dijadikan pupuk untuk menyuburkan tanah. Oleh sebab itu, panen yang diperolehnya semakin melimpah. Kini Pak Jalmo telah menjadi orang berkecukupan menurut ukuran orang di pulau itu. 

Kehidupan Pak Jalmo sekeluarga memang sudah berubah. Akan tetapi, perubahan itu bukan hanya dari miskin menjadi kaya. Dulu, ia dikenal sebagai orang yang rendah hati serta suka membantu tetangga, sekarang ia menjadi orang yang kurang senang bergaul. Ia hanya sibuk mengurus pertaniannya sendiri sehingga tidak sempat membantu para tetangga yang memerlukan bantuannya.

Pada suatu hari, dua orang tetangganya bercakap-cakap di sebuah kebun. Salah seorang berkata," Ketika Pak Jalmo belum punya sapi, setiap hendak membajak ladangnya selalu pinjam sapiku. Sekarang, setelah menjadi petani agak kaya, ketika aku mau pinjam sapinya untuk membajak sawahku, ia tak mau membantu. Katanya, sapinya akan dipakai untuk membajak ladangnya sendiri. Setelah aku selidiki, ternyata hari itu ia tidak membajak."

"Yang aku herankan," jawab yang lain," sebelum ia kaya seperti sekarang, ia sering datang ke rumahku. Ia bersahabat akrab denganku. Tetapi setelah berkecukupan, ia tak pernah datang ke rumahku. Aku mencoba mengalah, aku sendiri yang mendatangi rumahnya pada hari raya yang lalu. Ternyata, ia menyambutku dengan dingin, tidak segembira ketika aku bersilaturahmi ke rumahnya lima atau enam tahun yang lalu."

Itulah antara lain kesan-kesan sebagian tetangga Pak Jalmo. Akan tetapi, tidak ada satu orang pun berani mengingatkannya. Tahun pun terus berjalan. Pak Jalmo semakin kaya.

Pada tahun kesepuluh sejak ladang baru itu dibuka, panen Pak Jalmo sungguh diluar dugaan. Jagung, ketela, labu, kacang panjang, kacang hijau, dan lain-lain melimpah memenuhi lumbungnya. Pak Jalmo benar-benar menjadi orang kaya di kampung itu.

Sikap Jalmo yang semakin angkuh dengan kekayaannya itu membuat guru mengajinya sewaktu kecil perlu menjumpainya.

Jalmo, kata guru mengaji itu, "apakah engkau masih mengakui aku sebagai gurumu?"

"Ya, Pak, dulu saya memang pernah berguru kepada Bapak," jawab Pak Jalmo.

"Nah, sebagai guru, aku merasa berkewajiban memberi nasihat padamu. Dulu engkau miskin, sekarang engkau telah kaya. Ketika engkau kaya, perbanyaklah engkau memberi kepada fakir miskin supaya kalau engkau jatuh miskin, engkau tetap diperhatikan orang."

"Apakah saya yang mempunyai harta sebanyak ini masih bisa miskin lagi?" tanya Pak Jalmo.

"Bisa saja kalau Allah menghendaki," jawab pak guru tua itu.

"Tidak bisa, Pak Guru," ujar Pak Jalmo dengan angkuh, "tak ada jalan kemiskinan untuk masuk ke pekarangan rumah saya."

Mendengar jawaban bekas muridnya itu, guru mengaji yang bertongkat itu hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. Ia tidak menyangka nasihatnya akan ditolak mentah-mentah. Dengan kesal ia segera meninggalkan rumah Pak Jalmo.

Di pulau itu, setiap tahun diadakan selamatan desa. Semua orang berkumpul di sebuah tanah lapang sambil berdoa dan diakhiri dengan makan bersama. Pada saat selamatan desa itu. Pak Jalmo mengadakan pesta sendiri di rumahnya. Ia tidak mau bergabung dengan orang desa yang miskin.

Pak Jalmo tidak banyak mengundang orang, hanya beberapa kuli yang selalu membantunya bekerja di ladang. Meskipun orang yang hadir hanya sedikit, Pak Jalmo yakin orang-orang akan berdatangan ke rumahnya karena ia telah menyiapkan ribuan petasan besar dan kecil untuk menarik perhatian.

"Aku sengaja memesan mercon yang tidak pernah dibakar orang di pulau ini," kata Pak Jalmo sambil menggantung rentengan petasan besar-besar di dahan jambu di halaman rumahnya. Sebagian mercon yang lain diletakkannya di atas tikar di halaman.

Setelah makan sampai kenyang, di mulailah acara pembakaran petasan. Semua orang kagum pada petasan yang besar-besar itu. Seseorang bertanya kepada temannya,"Berapa harga petasan sebesar botol itu?" temannya hanya bisa menggeleng.

Pak Jalmo pun memantik korek api. Beberapa detik kemudian, terdengar bunyi letusan memekakkan telinga. Mereka terkejut. Ada yang mundur jauh-jauh, ada juga yang menutup telinga.

Tiba-tiba sebuah petasan terbang dan jatuh tepat di atas tumpukan petasan di atas tikar. Satu per satu petasan itu meledak. Ada yang terbang ke atas atap. Pak Jalmo panik. Hadirin kebingungan. Beberapa saat kemudian, atap rumah Pak Jalmo sudah di makan api. Orang orang yang hadir semakin takut. mereka tidak tahu apa yang harus mereka perbuat.

" Tolong, toloooong!' teriak Pak Jalmo sekeluarga. Api telah menjalar ke rumah sebelah, ke lumbung, dan akhirnya ke kandang.

Pak Jalmo, Bu Jalmo, dan anak anaknya hanya bisa berteriak sambil menangis. Karena bingung dengan letusan petasan yang berloncatan kesana kemari, mereka tidak bisa berbuat apa apa untuk menyelamatkan harta mereka. Beberapa saat kemudian, seluruh tempat tinggal Pak Jalmo telah menjadi lautan Api. Asap hitam mengepul ke udara, seolah olah memberitahukan kepada seluruh dunia bahwa ada orang kaya yang jatuh miskin.

Tidak lama kemudian , rumah Pak Jalmo roboh diikuti lumbung dan dapur nya. Pak Jalmo, Bu Jalmo, dan anak anaknya duduk bersimpuh di sudut pekarangan sambil menangis tersedu sedu.

Kesimpulan
Cerita ini mengandung pelajaran bahwa orang yang miskin kemudian menjadi kaya harus tetap ingat akan asalnya. Selain itu, orang kaya tidak boleh menyombongkan kekayaannya. Tuhan Yang Mahakuasa mempunyai banyak bara untuk mencabut kekayaan seseorang. 
 
Sumber : Buku Cerita Rakyat Dari Sumatera
Oleh : James Danandjaya
Penerbit : Grasindo

0 Response to "Pak Jalmo"

Post a Comment