Cerita Rakyat Dari Sumatera Barat, Riwayat Bunda Kandung

Cerita Rakyat Dari Sumatera Barat, Riwayat Bunda Kandung
Pada suatu masa, Kerajaan Pagaruyung mempunyai raja perempuan bernama Bunda Kandung. Baginda raja adil dan bijaksana, tapi tegar hatinya. Dalam mengatur kerajaan, Baginda dibantu oleh empat orang pembesar, dua orang petinggi, dan seorang panglima. Keempat pembesar bertugas tak berbeda dengan menteri. Orang menyebutnya Basa IV Balai, yang artinya pembesar dari empat jawatan. Dua orang petinggi dinamakan Raja Dua Sila, yang memimpin lembaga hukum agama dan lembaga hukum adat. Panglima kerajaan dinamakan Orang Gadang. Ketujuh pembantu Baginda itu dinamakan pula sebagai Gadang Nan Batujuah, yang artinya orang besar yang bertujuh.

Dalam istana, Baginda dibantu oleh dua orang yang sangat setia. Karena setia, Baginda sayang pula kepada mereka. Yang seorang, laki-laki bernama Bujang Selamat. Gombak rambut di kepalanya panjang. Jika dilepas dari gulungnya hampir mencapai tanah. Dalam tambo dia disebut Bujang Selamat Panjang Gombak.

Setiap saat dia bersedia melakukan apa saja yang disuruh Baginda, baik siang maupun malam. Yang lain, seorang perempuan bernama Lenggo Geni. Tugasnya mengurus keperluan pribadi Baginda.

Baginda sangat disegani. Sampai raja-raja atau pangeran tak berani meminangnya. Karena raja yang jadi suami, harus tinggal di istana Pagaruyung. Bagaimana mungkin raja yang memerintah di kerajaannya sendiri, mesti tinggal di Kerajaan Pagaruyung. Para pangeran tidak berani meminang karena kebesaran kerajaan Baginda. Meskipun tidak bersuami, Baginda mendapat gelar Bunda Kandung.

Menurut tambo, begini cerita asal mulanya Baginda mendapat gelar Bundo Kandung itu.

Adalah pada suatu tengah hari, di kala matahari berada tepat di puncak kepala. Sinarnya yang terik memanggang bumi. Bayang-bayang pohon kayu jatuh pada pangkalnya. Ayam berlindung dikolong rumah. Lidah anjing terjulur-julur tanpa daya sambil berleha-leha. Angin pun tidak berembus. 

Di kala itu, Baginda mengalai di anjung peranginan istana. Dikipas dayang-dayang karena kegerahan. Dayang-dayang mengipas sambil bernyanyi kecil, seperti ibu menidurkan bayinya. Tiba-tiba Baginda memanggil Lenggo Geni. Setelah Lenggo Geni mendekat, Baginda berkata, "Panggil Bujang Selamat."

Lenggo Geni segera turun ke halaman. Didapatinya Bujang Selamat terkulai seperti orang tidur di kolong anjungan. "Selamat. Baginda memanggil," kata Lenggo Geni.

"Kenapa?" tanya Bujang Selamat.

"Mana aku tahu."

Bujang Selamat segera bangun. Tergopoh-gopoh naik ke istana. "Hamba datang, Baginda," katanya ketika sampai. 

"Hari panas sekali. Aku haus. Kau ambilkan dua kelapa gading. Segera!" kata Baginda.

"Baik Baginda," ujar Bujang Selamat.

Kelapa gading tumbuh di halaman istana. Pohonnya tinggi. Di pangkalnya bersarang kalajengking hitam. Jika disengatnya, pingsanlah orang. Di batangnya bersarang semut merah besar yangdisebut kerarangga. Jika orang digigitnya, pedih gatalnya terasa sampai ke sumsum tulang. Di rumpun daunnya bersarang ular gerang. Jika dipatuknya nyawa melayang. Tapi Bujang Selamat kebal kulit. Bila kalajengking itu menyengat, kalajengking itu yang mati. Jika ular itu mematuk, ular itu yang mati.

Bujang Selamat berhasil memetik dua buah kelapa gading seperti yang disuruh Baginda. Setelah dikupas sabutnya dan dilobangi batoknya, dibawanya ke anjung istana. Secara lahap mereguk airnya. Setelah habis sebuah, diambilnya sebuah lagi. Sedikit saja direguknya. Sisanya diberikan Baginda kepada Lenggo Geni. Maka terasasejuklah tubuh Baginda. Begitu pula Lenggo Geni. Akhirnya, kedua perempuan itu terlelaplah. Daging kelapa itu diberikan Bujang Selamat kepada kuda, kerbau dan ayam piaraan istana.

Menurut cerita tambo, kelapa gading itu buah yang keramat. Tidak lama kemudian, Baginda pun hamil. Begitu pula Lenggo Geni. Kuda, kerbau dan ayam yang memakan daging kelapa itu pun demikian pula.

Ketika tiba waktunya, Baginda melahirkan bayi laki-laki. Bayi itu diberi nama Sutan Rumandung. Ketika sudah dewasa bergelar Dang Tuanku.

Tak lama kemudian, Lenggo Geni pun melahirkan. Baginda menamakan bayi itu Bujang Kecinduan. Ketika besar bernama Cindur Mato.

Begitu sayangnya Baginda kepada kedua laki-laki itu. Tak dapat dikatakan, kepada siapa sayang Baginda berlebih. Sejak mendapat anak itulah Baginda dinamakan Bunda Kandung oleh rakyat Kerajaan Pagaruyung.

Dari kerbau yang memakan daging kelapa itu lahir pula seekor anak. Diberi nama Binuang. Anak kuda yang lahir diberi nama Gumarang, sedangkan anak ayam bernama Kinantan. Setelah besar, hewan itu ternyata punya keistimewaan. Binuang menyimpan ribuan lebah di daun telinganya. Kalau dia menggeleng, lebah itu akan keluar dan menyerang siapa saja yangada di sekitar itu. Gumarang larinya kencang bagai kuda sembrani. Sementara itu, Kinantan berbulu putih dan nyaring kokoknya. Sebagai ayam jago, Kinantan selalu menang berlaga di gelanggang aduan.

Ketika Dang Tuanku mulai dewasa, dia ditunangkan dengan Puti Bungsu, anak dari adik Bunda Kandung. Dia memangku jabatan Raja Muda yang berkedudukan di Indrapura, di pesisir selatan Kerajaan. Puti Bungsu terkenal cantik sehingga Tihang Bungkuk, anak Imbang Jaya dari kerajaan sebelah selatan ingin pula menyuntingnya. Ketika dia tahu Puti Bungsu telah bertunangan, disebarkannya berita bahwa Dang Tuanku telah kena penyakit kutukan. Seluruh tubuhnya kena kena penyakit biring. Biring yang bernanah. Baunya sangat busuk. Tempat tinggalnya dikucilkan ke sebuah pondok di tepi sungai agar penyakitnya tidak menular ke banyak orang. Percaya kepada berita itu, Raja Muda memutuskan pertunangan Puti Bungsu dengan Dang Tuanku. Lalu menerima lamaran Tihang Bungkuk.

Bunda Kandung marah sekali mendengar keputusan Raja Muda itu. Dikirimlah Cindur Mato untuk menyelidiki benar tidaknya berita itu. Namun, Dang Tuanku menyuruh Cindur Mato menculik Puti Bungsu.

Di perjalanan, adapesawangan tempat penyamun biasa beraksi, dikenal sebagai bukit Tambun Tulang. Tempat tulang-belulang bertimbun dari korban para penyamun sejak dulu. Di tempat itu, Cindur Mato dihadang oleh anak buah Tihang Bungkuk. Cindur Mato dikeroyok sampai hampir tidak berdaya. Lalu dia berseru kepada ketiga hewan yang dibawanya agar membantunya. Gumarang menerjang kian kemari. Kinantan mematuk kepala penyamun itu, sedangkan Binuang melepaslebah yangbersarang di telinganya. Lari puntang pantinglah semua penyamun itu. Cindur Mato tak terhadang lagi sampai ke istana Raja Muda. Dia berhasil membawa lari Puti Bungsu.

Ketika Tihang Bungkuk tahu tunangannya diculik, disusulnya perjalanan Cindur Mato. Di waktu tersusul, terjadilah perkelahian hidup mati. Yang mati ialah Tihang Bungkuk.

Ketika tahu bahwa anaknya mati terbunuh oleh Cindur Mato, bukan main berangnya Imbang Jaya (ayah Tihang Bungkuk). Dikerahkannya pasukan menyerang. Kerajaan Pagaruyung, yang memang tidak punya prajurit untuk berperang, dibakar punah jadi abu. Tak terkecuali istana Bunda Kandung.

Bunda Kandung, Dang Tuanku dan Puti Bungsu sempat menghindarke suatu tempat. Lunang namanya. Letaknya di timur Indrapura. Di sanalah mereka sampai akhir hayatnya. Kubur mereka disusun bersisian. Lama kemudian Cindur Mato pun menyusul pula ke sana. Setelah dia meninggal, kuburannya agak tersisih dari ketiga kuburan yang lain. Kuburan itu hingga kini masih terpelihara.

Sepeninggal ahli waris kerajaan itu, singgasana Pagaruyung diduduki oleh Bendahara dari Sungai Tarab. Dia salah seorang anggota Basa IV Balai, saudara sepupu Bunda Kandung.  

Sumber: Buku Cerita dari Sumatera Barat 3
Penulis : A. A Navis 
Ilustrasi : Gerdi WK
Desain Sampul: Antonius Kuntra Raharjo 
Penerbit: PT. Grasindo Tahun 2001

0 Response to "Cerita Rakyat Dari Sumatera Barat, Riwayat Bunda Kandung"

Post a Comment