Cerita Pendek, Rampok

SEHABIS upacara tujuh belasan, aku langsung ke kantin di belakang kantor. Rupanya Hamsad sudah ada disana menungguku. Ia tak berseragam batik Korpri *) - (Korps Pegawai Republik Indonesia), pertanda ia tak ikut upacara. "Duduk sini. Aku perlu sekali sama kau!" kata Hamsad sambil menggeser sebuah kursi untukku. 

Kantin mulai ramai diserbu pegawai-pegawai yang tak sempat sarapan di rumahnya karena buru-buru mengejar upacara bendera yang persis diselenggarakan pukul tujuh. Aku buru-buru menghampiri Hamsad, merebut kursi yang diincar banyak orang. "Kau perlu apa samaku?" Pesan dululah, nanti keburu habis. Biar kupesankan. " Ia berteriak, "Kopi susu sama nasi pecal." 

Hamsad memegang-megang kertas yang terlipat di dalam saku kemejanya. Seperti mau dikeluarkannya, tetapi tidak jadi. Tampaknya surat penting, tapi aku tidak akan menanyakannya sebelum ia menyampaikannya.  Hamsad biasanya pantang diusik. Ia cepat meledak dan berapi-api. Sikapnya yang tak aku suka. Gampang marah, gampang pula terharu. Tapi salah satu sifatnya yang kupujikan, ia cepat minta maaf kalau merasa terlanjur bersalah kepada orang lain. "Aku minta maaf, kemarin aku sudah mendahuluimu menemui Pak Syamsul personalia kantor wilayah yang kau perkenalkan padaku dulu."

Aku ingat ketika memperkenalkannya dengan Pak Syamsul itu tiga bulan yang lalu di suatu resepsi perkawinan putra Kepala Kantor Wilayah.

"Mestinya aku mengajakmu. Tapi kupikir, masalah yang kuhadapi ini sensitif. Menyangkut uang sogok. Aku dengar untuk meluluskan istriku jadi guru SMA perlu empat juta. Kontan! Setelah dua kali ikut tes tidak lulus juga, aku terpaksa mencari jalan pintas itu. Padahal IP istriku tidak cukup tinggi. Lagi pula, jurusan Bahasa Inggris masih banyak dibutuhkan. Tapi, itulah. Kalau mau berlaba mesti berugi dulu. Begitu nasihat orang-orang. Kecuali kau. Itu sebabnya aku tak mengajakmu kompromi."

"Hebat kau Sad. Dari mana kau dapat uang? Apa istrimu sudah dijamin bakal diangkat jadi guru? Apa uang empat juta itu ada tanda terimanya? Sangsi aku."

"Aku sangsi. Tapi yang kusangsikan bukan soal dia diterima atau tidak. Aku sangsi kalau-kalau aku ketangkap!" ujar Hamsad setengah berbisik ke telingaku.

"Ketangkap? Apa kamu mencuri?" tanyaku juga berbisik.

"Tidak. Aku malah menodong!"

Aku hampir tidak percaya pada pendengaranku. Aku menggeleng-geleng.
"Kapan? Di mana?"

"Itulah yang ingin kuceritakan. Aku rasa dikejar-kejar dosa. Tapi aku tidak membunuh. Tak ada korban."

"Kau harus bertobat."

"Sudahlah. Habiskan sarapanmu."

***
AKU tak pernah menceritakan persoalan Hamsad memasukkan istrinya ke perangkap percaloan pengangkatan guru-guru SLA. Aku tahu istriku sangat tidak setuju dengan praktek percaloan yang sudah mewabah akhir-akhir ini. Ia juga seorang guru SLA yang sudah bertugas sejak lima tahun lalu tanpa melalui prosedur seperti yang dialami oleh istri Hamsad. 

"Guru-guru yang lulus berkat uang sogok, itu pasti akan merusak dunia pendidikan. Kalau sudah tidak lulus, ya, tahu diri dong," begitu ia berkomentar menanggapi dunia percaloan pengangkatan guru sekarang. Mana berani aku menceritakan tentang istri Hamsad yang berusaha mencarikan dana untuk sogok dengan jalan menodong. Lagi pula istriku kurang simpati dengan keluarga Hamsad. Entah mengapa, aku kurang tahu alasannya. Mungkin juga kalau Hamsad datang bertamu, ia sering lupa waktu. Bukan itu saja, ia malah mengajakku nonton main bola sehabis bertamu agak lama.

Aku tahu, istriku akan marah berat padaku kalau saja ia tahu bahwa pamannya yang kepala personalia itu disebut-sebut menerima uang sogok. Ia selalu membandingkan dirinya dengan orang lain. "Begitu aku lulus dari IKIP, langsung ikut tes, dan lulus. Itu bukan karena pamanku orang dalam. Itu memang kemampuanku. Jadi kalau ada yang mau memberi uang pamanku agar lulus tes. itu salah sendiri. Kalau terjadi kasus suap, mesti si pemberi diusut duluan," begitu ia berkomentar.

Sudah lebih sebulan aku tak berbicara serius dengan Hamsad. Kalau berpapasan di kantor, ia hanya tersenyum hambar; bahkan seperti menghindar dariku. Aku jadi berpikir, apakah Hamsad menjadi was-was denganku setelah menceritakan semua rahasianya padaku, atau dia menghadapi problem baru. Tapi itu bukan sikap Hamsad yang selama ini periang, terus-terang, dan bersemangat. Kami memang sekantor; cuma lain bagian. Ia teman seperjuanganku di akademi dulu. Kami sama-sama memacari mahasiswi IKIP tetangga kami dan sama-sama beristrikan sarjana IKIP. Akhir-akhir ini justru Hamsad semakin dingin kepadaku.

"Hei, sini kau kutraktir pecal!" teriakku dari pojok kantin ketika melihat Hamsad melintasi lapangan badminton disamping belakang kantor.
"Aku benci kau!"
"Aku tidak!" balasku.
Aku merasa melihat dirinya yang sebenarnya kembali ketika ia menuju  ke arahku. Aku tunggu ia di pojok luar kantin.
"Pengumuman sudah keluar. Istriku tidak lulus juga."
"Oh, sayang juga ya. Kupikir kau khawatir kalau aku laporkan kau ke polisi."

"Bukan begitu. Mestinya kau bantu aku melobi paman istrimu itu setelah aku menyerahkan uang empat juta tempo hari."

"Kan kau larang. Katamu masalahnya sensitif. Ingat kan? Nah, kalau begitu, biar besok kujumpai kepala personalia itu di kantornya."

"Percuma. Pengumuman sudah keluar."

"Siapa tahu masih bisa disisipkan."

Kulihat matanya mulai berbinar kembali. Ia menatapku tajam-tajam.

"Tapi aku tak menjanjikan apa-apa. Tergantung hasil pembicaraanku dengan dengan paman istriku itu saja," aku mulai berkilah agar merasa tak terbebani.

"Itulah kau  . Itulah yang kubencikan pada sikap kau. Coba kau pikir Har. Kita sama-sama tamat akademi. Istri kita sama-sama sarjana IKIP. Sekarang kau senang punya rumah kredit, karena binimu bergaji juga. Aku? Uang kontrak belum lunas, kontrakan enam bulan berikut sudah harus kucarikan lagi. Makanya dunia ini tidak adil. Kalau orang lain bisa merampok, kenapa aku tidak? Pudar harapanku jadi orang baik-baik Har."

"Itulah pulalah yang kubencikan dari sikapmu Sad. Bersabarlah. Berdoa dan yakinkan bahwa dirimu selalu mendapat perlindungannya. Buktinya, kau tidak tertangkap kan?"

"Aku juga menyesal. Mengapa aku hanya menodong orang itu empat juta? Padahal uangnya mungkin lebih sepuluh juta waktu itu. Tapi itulah, dasar aku memang bodoh. Aku cuma ingat mencari uang empat juta untuk biaya meluluskan istriku menjadi guru pemerintah. Sial benar aku."
"Kau masih untung!"
"Beruntung katamu, sementara nasibku tak berubah."
"Belajarlah sabar dan berpikir jauh ke depan," nasihatku.
"Oke. Sekarang aku sabar menunggu hasil pembicaraanmu dengan orang itu."
"Mari kutraktir kau sekarang."
"Tidak terima kasih. Aku sudah kenyang melihat kenyataan permainan dunia sekarang. Biar aku nanti saja, kalau benar-benar sudah lapar. Itu lebih nikmat dan dapat melupakan kemiskinan pegawai negeri seperti aku."
"Salahmu sendiri mau menjadi pegawai negeri. Mengapa tidak buka usaha tempel ban.?"
"Jangan kau hina profesi bapakku. Kalau aku melanjutkan usaha beliau, apa kata dunia? Tinggi-tinggi sekolah ke Jakarta akhirnya membanting tulang di pinggir jalan. Pergilah kau minum. Aku mau cari angin ke luar dulu."

***

KALAU tidak karena solidaritas, aku merasa tak tahan menunggu lama-lama di depan ruang kerja paman istriku itu. Jam Kantor sudah lama lewat. Tamu-tamu satu persatu masuk ke kamarnya dipersilakan satpam yang mengatur giliran sesuai dengan buku tamu yang telah kuisi sejam lalu. Seperti biasa, dekat-dekat pukul enam setiap hari kerja, paman istriku itu baru bisa pulang.

Ketika namaku dipanggil satpam, aku berusaha tampil seramah mungkin di hadapan paman istriku. Selama ini hubunganku secara pribadi tidak begitu baik dengannya karena ia salah seorang yang menentang perkawinanku dengan kemenakannya yang kini menjadi istriku. Konon alasannya sederhana sekali, yakni tentang ijazahku yang cuma diploma tiga, sedangkan kemenakannya sarjana. Tapi tampaknya ia cukup ramah. Masih ada dua orang stafnya yang menemaninya. Salah seorang sedang menunjukkan apa-apa yang harus diparaf, dan dimana harus ditandatangani.

"Silakan, Kamu sendiri?"
"Ya Paman."
"Perkenalkan Sam, Rus, ini kemenakanku."
Kedua staf paman istriku itu menyalamiku dengan hormat. Lalu aku buka pembicaraan sebaik-baiknya, dan selancar-lancarnya. Air muka pamanku mulai berubah. Ia mengetuk-ngetukkan tangkai pena ke meja berkaca tebal itu sambil memandang jauh ke sebalik jendela yang berkaca hitam.
"Untung temanmu itu tidak kujebloskan ke penjara."
"Kenapa Paman?"
"Ia merampok stafku, si Sam ini, di lapangan parkir Bank Reka sebelum ia mengantarkan ongkos pengangkatan istrinya itu."

Aku terkejut tidak pura-pura karena betul-betul terkejut, Karena Hamsad telah merampok staf paman istriku.
"Paman yakin?"
"Tanya Sam," katanya sambil menunjuk stafnya yang gemuk dan hampir botak itu. Agaknya, usia Sam tidak terlalu jauh denganku.

"Betul Pak, eh Mas. Aku ingat betul, hari itu hari Jum'at, ketika Bapak menyuruhku mengambil uang sepuluh juta. Orang itu juga mengambil uang tabungannya di sebelah loket saya. Malah ia tersenyum kepada saya sewaktu saya menghitung ikatan uang itu sebelum saya masukkan ke dalam tas. Ia malah sama-sama keluar dengan saya ke lapangan parkir. Mungkin karena ia melihat saya sendiri di mobil itu, tiba-tiba ia masuk pintu kiri dan langsung menodongkan pisau sambil mengancam, "Kau mati kalau berteriak atau melawan. Beri aku sekarang juga empat juta!" Mungkin melihat saya menggigil dan berkeringat, ia rampas empat ikat dan langsung memasukkan ke dalam kemejanya dan lari tancap gas dengan motornya."

"Nah, ketika ia akan meninggalkan ruangan ini, Sam masuk dan kaget. Lalu berbisik bahwa laki-laki yang baru keluar itulah rampok kemarin. Aku kaget dan langsung ingat kamu. Lali setelah berpikir bahwa uang itu sudah kembali karena disetor untuk uang ongkos pengangkatan istrinya itu, aku pikir, sudahlah. Untunglah kamu cepat kemari. Kalau tidak, sementara aku mengiramu terlibat," kata paman istriku tenang-tenang sambil terus memeriksa surat-surat permohonan pindah guru-guru dari daerah-daerah ke kota.

Aku menarik napas dalam-dalam dan merasa tersinggung.
"Aku ingat, ia orang kampungmu dan teman sekantormu pula."
"Aku permisi Paman," sambutku tanda tersinggung berat.
"Tunggu, Titip aku uang ini untuk istrimu."
"Tidak, terima kasih Paman. Istriku tidak suka makan daging manusia."

Ketika aku sampai menjelang magrib, Sam baru saja akan pergi. Ia mengangguk padaku," Aku disuruh Bapak menemui istri Mas. "Ia membanting pintu hardtop-nya dan pergi meninggalkan jalan sempit dan pergi meninggalkan jalan sempit di muka rumahku. Istriku menghadang di pintu sambil mengacungkan amplop gemuk.
"Kau lihat? Cukup untuk empat kali angsuran rumah kita."
"Dari pamanmu itu kan?"
"Memangnya dari pacar gelapku? Lelaki pencemburu kau!"

Padang, 18 Januari 1994
Kompas, 8 Mei 1994


Sumber
Penulis : Harris Effendi Thahar
Buku Laki-laki yang Kawin Dengan Peri ( Cerita Pilihan "Kompas" 1995) 
Penerbit. PT. Kompas Media Nusantara, Juni 1995

0 Response to "Cerita Pendek, Rampok"

Post a Comment